BULUNGAN – Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) bersama Fortina mengajak anak-anak kembali menggemari olahraga tradisional, salah satunya asinan atau hadang yang dikenal juga sebagai gobak sodor.
Selain melestarikan permainan tradisional, olahraga ini dinilai dapat melatih kerja sama tim, kecepatan, dan fokus anak. Aktivitas fisik di luar ruangan juga diharapkan menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan gadget di kalangan anak-anak.
Sekretaris Panitia KORMI Kaltara, Lili Suryani, mengatakan pertandingan asinan digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kaltara ke-14 tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung sejak pukul 08.30 hingga sekitar pukul 15.00 WITA.
“Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar dan sukses. Kegiatannya meriah, anak-anak juga ceria. Ternyata mereka cukup meminati olahraga ini,” ujar Lili Kamis, (22/10/2026)
Menurutnya, olahraga tradisional perlu terus digelorakan agar semakin banyak anak mengenal permainan yang mengutamakan aktivitas fisik dan interaksi bersama teman sebaya.
Melalui permainan asinan atau gobak sodor, anak-anak tidak hanya berlari dan bergerak aktif, tetapi juga belajar menyusun strategi, menjaga kekompakan, serta meningkatkan konsentrasi saat bertanding.
Lili menilai, kebiasaan bermain di luar ruangan dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong anak-anak menjalani aktivitas yang lebih sehat, sekaligus mengurangi waktu yang dihabiskan dengan gadget.
“Dengan olahraga ini, anak-anak bisa melatih kerja sama tim, kecepatan, dan fokus. Kalau olahraga tradisional seperti ini terus digelorakan, penggunaan gadget juga bisa berkurang,” katanya.
Pelaksanaan pertandingan asinan kali ini diikuti lebih dari 100 peserta yang tergabung dalam 23 tim. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda KORMI Kaltara yang telah memasuki hari ketiga.
Sebelumnya, olahraga tradisional enggrang juga dilaksanakan dengan jumlah peserta hampir 40 orang. Lili menyebut, rangkaian kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari peserta.
Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah hal yang perlu ditingkatkan, terutama dari sisi promosi agar kegiatan olahraga masyarakat semakin dikenal dan mampu menarik lebih banyak peserta.
Di sisi lain, banyaknya peserta juga menjadi tantangan dalam pengaturan pertandingan. Menurutnya, olahraga tradisional membutuhkan waktu pelaksanaan yang cukup panjang sehingga tidak seluruh pertandingan dapat diselesaikan dalam satu hari.
Karena itu, pengaturan jadwal dan kondisi fisik peserta, khususnya anak-anak, perlu menjadi perhatian agar mereka tidak mengalami kelelahan selama mengikuti pertandingan.
Lili berharap, olahraga tradisional dapat terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan di sekolah maupun lingkungan masyarakat. Dengan begitu, permainan tradisional tidak hanya menjadi hiburan dalam perayaan hari jadi daerah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. (adv)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Ramli








