Pasien RSUD dr H JSK Naik 20 Persen, Gangguan Kesehatan Akibat Asap Karhutla Tak Signifikan

benuanta.co.id, TARAKAN – Kunjungan pasien ke RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan mengalami peningkatan sekitar 10 hingga 20 persen pada Oktober 2026. Di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kekhawatiran terhadap paparan asap, peningkatan tersebut menjadi perhatian, meskipun belum dapat dipastikan berkaitan langsung dengan gangguan kualitas udara.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, dr. Budy Azis B., mengakui adanya kenaikan jumlah pasien yang datang ke rumah sakit pada bulan ini. Namun, ia menegaskan, pasien yang menjalani pemeriksaan memiliki beragam keluhan sehingga peningkatan tersebut tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan karhutla.

“Memang ada peningkatan luar biasa jumlah pasien bulan ini yang ke RSUD dr. H. Jusuf SK, tetapi pasien bervariasi, bukan karena karhutla saja,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).

Baca Juga :  Belajar dari Kaltara, NTT Bidik Potensi Pajak Kapal untuk Dongkrak PAD

Kondisi ini menunjukkan, besarnya kenaikan kunjungan pasien belum cukup untuk menggambarkan dampak kesehatan akibat asap. Diperlukan data yang lebih spesifik untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan kasus gangguan pernapasan, iritasi mata, atau kekambuhan penyakit yang berhubungan dengan paparan asap.

Budy menjelaskan, asap karhutla berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tenggorokan kering, batuk, hingga iritasi mata yang ditandai dengan mata merah dan berair. Paparan partikel halus juga dapat memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta berisiko memperberat gangguan jantung pada orang yang rentan.

Ancaman tersebut tidak hanya menyasar masyarakat yang telah memiliki penyakit penyerta. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung, paru-paru, dan alergi termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Baca Juga :  Penyakit ISPA di Kaltara Tembus 5.541 Kasus, Penderita Didominasi Usia di Atas 5 Tahun

Kendati demikian, Budy menyebut kondisi asap di Tarakan saat ini belum terlalu pekat. Ia juga menyampaikan belum ada kasus dengan kondisi berat yang secara khusus dikaitkan dengan karhutla. Situasi tersebut menjadi kabar baik, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa masyarakat sepenuhnya terbebas dari risiko paparan asap.

Persoalannya, dampak kesehatan akibat asap tidak selalu langsung terlihat dalam bentuk kasus berat. Keluhan ringan hingga kekambuhan penyakit pada kelompok rentan tetap perlu diwaspadai.

“Yang terlalu berat Alhamdulillah tidak ada, semoga karhutla segera diatasi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pemantauan tren penyakit dan pencatatan faktor risiko paparan asap menjadi penting untuk membantu membedakan peningkatan pasien secara umum dengan kasus yang berpotensi berkaitan dengan karhutla.

Baca Juga :  Jatam: Konflik Agraria di Kaltara Jangan Selalu Berujung Pidana

Dari sisi kesiapan pelayanan, Budy memastikan persediaan obat-obatan, oksigen, dan kebutuhan pendukung medis di RSUD dr. H. Jusuf SK masih aman. Rumah sakit juga berharap karhutla segera ditangani agar paparan asap tidak semakin meluas dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Dirinya mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi berasap. Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan respirator seperti N95 untuk membantu mengurangi paparan partikel halus. Imbauan ini terutama penting bagi kelompok rentan dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan maupun jantung.

“Kurangi keluar rumah dan apabila keluar rumah disarankan menggunkan masker yang tepat seperti masker N95,” tutupnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Endah Agustina