benuanta.co.id, BULUNGAN – Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Utara (Kaltara) berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Berdasarkan data pengawasan epidemiologi selama periode pemantauan 2026, tercatat sebanyak 5.541 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara, Usman, menyampaikan peningkatan kasus gangguan pernapasan menjadi perhatian, terutama di wilayah yang terdampak kabut asap akibat karhutla.
Kota Tarakan menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 3.078 kasus atau 55,55 persen dari total kasus ISPA di Kaltara. Kabupaten Bulungan berada di urutan berikutnya sebanyak 1.680 kasus atau 30,32 persen.
“Berdasarkan distribusi jenis kelamin, penderita perempuan tercatat sebanyak 2.941 orang atau 53,08 persen. Sementara itu, penderita laki-laki mencapai 2.600 orang atau 46,92 persen,” sebutnya, Rabu (21/10/2026).
Adapun berdasarkan kelompok usia, penderita berusia di atas lima tahun mendominasi dengan 3.872 kasus atau 69,88 persen. Sementara kelompok anak berusia lima tahun ke bawah mencatat 1.669 kasus atau 30,12 persen.
“Paparan asap karhutla perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap kesehatan pernapasan masyarakat, terutama kelompok rentan,” ujar Usman saat dikonfirmasi.
“Tren peningkatan kasus ISPA terlihat sejak pekan ke-32 dengan 103 kasus. Jumlah tersebut kemudian melonjak menjadi 497 kasus pada pekan ke-34,” ujarnya lagi.
Lanjut kata Usman, puncak peningkatan terjadi pada pekan ke-35 dengan 1.361 kasus dalam satu pekan. Setelah itu, jumlah kasus sempat menurun hingga 409 kasus pada pekan ke-39.
Namun, penurunan tersebut tidak berlangsung lama. Pada pekan ke-40, kasus kembali meningkat menjadi 450 kasus dan mencapai 596 kasus pada pekan ke-41.
Pola tersebut menunjukkan gangguan kesehatan akibat paparan asap masih perlu dipantau meskipun jumlah kasus sempat mengalami penurunan setelah mencapai puncaknya.
Di sisi pelayanan, fasilitas kesehatan seperti puskesmas tetap memberikan layanan kepada masyarakat setelah kejadian karhutla. Pemantauan kasus gangguan pernapasan dan keluhan kesehatan lainnya juga perlu dilanjutkan sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Sejumlah kendala masih menjadi perhatian dalam upaya penanganan dampak kesehatan tersebut. Di antaranya, pelaporan kasus secara rutin dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang belum optimal serta terbatasnya data kualitas udara di wilayah terdampak.
Selain itu, ketersediaan masker dan media komunikasi risiko belum merata. Jangkauan pelayanan kepada masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan juga menjadi tantangan tersendiri.
Integrasi data kesehatan dengan informasi kejadian karhutla dari berbagai sektor turut menjadi aspek yang perlu diperkuat agar penanganan dampak kesehatan dapat dilakukan secara lebih terarah.
Pemantauan berkelanjutan, penguatan pelaporan kasus, serta penyampaian informasi mengenai risiko paparan asap menjadi bagian penting dalam upaya melindungi kesehatan masyarakat di Kaltara. (*)
Data Kasus ISPA di Kaltara periode Agustus-Oktober 2026
Sumber: Dinkes Kaltara
Tarakan : 3.078 kasus atau 55.55 persen
Bulungan : 1.680 kasus atau 30.32 persen
Tana Tidung : 415 kasus atau 7.49 persen
Malinau : 219 kasus atau 3.95 persen
Nunukan : 149 kasus atau 2.69 persen
Provinsi Kaltara: 5.541 kasus atau 100 persen
Reporter: Ike Julianti
Editor: Endah Agustina








