benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Kemajuan zaman tidak membuat masyarakat Dayak melupakan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah Sa’ung, topi pelindung tradisional khas suku Dayak Kenyah yang hingga kini masih digunakan dan terus dibuat oleh para pengrajin di Kabupaten Bulungan.
Terbuat dari daun sang atau daun rumbai yang dipadukan dengan rangka rotan, Sa’ung sejak dahulu digunakan masyarakat untuk melindungi kepala dari panas matahari dan hujan saat beraktivitas di ladang maupun di hutan. Selain ringan, bahan alami yang digunakan juga membuat topi tradisional ini nyaman dipakai dalam berbagai kegiatan.
Di tengah banyaknya produk modern, keberadaan Sa’ung ternyata masih tetap bertahan. Bahkan, fungsinya kini tidak hanya sebagai pelindung kepala, tetapi juga berkembang menjadi kerajinan khas yang memiliki nilai seni dan ekonomi. Sa’ung banyak dijadikan hiasan rumah, cendera mata, hingga suvenir khas Kalimantan.
Salah seorang pengrajin di Desa Teras Baru, Awing, mengatakan Sa’ung sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak Kenyah sejak dahulu. Ia mengaku telah mengenal dan membuat Sa’ung sejak masih muda.
“Dulu orang Dayak Kenyah memakai Sa’ung setiap hari untuk melindungi kepala dari panas dan hujan. Sejak kecil kami sudah terbiasa menggunakannya,” katanya, Jumat (19/6/2026).
Menurut Awing, terdapat beberapa jenis Sa’ung yang dikenal masyarakat Dayak Kenyah. Salah satunya adalah Sa’ung Aseq yang diberi tambahan kain hias pada bagian atas sehingga tampil lebih menarik dan biasanya digunakan untuk keperluan adat maupun pajangan.
Pembuatan Sa’ung masih dilakukan secara tradisional dengan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mulai dari memilih daun, mengeringkan bahan, hingga proses anyaman dan pemasangan rangka rotan dikerjakan secara manual. Untuk menghasilkan satu buah Sa’ung yang berkualitas, dibutuhkan waktu sekitar dua hari.
Meski proses pembuatannya cukup lama, minat masyarakat terhadap produk ini masih cukup tinggi. Awing mengatakan banyak orang yang membeli Sa’ung sebagai hiasan rumah maupun koleksi. “Kami juga menjual Sa’ung karena masih banyak yang mencari,” ujarnya.
Pengrajin lainnya, Pimai, mengatakan membuat Sa’ung merupakan bagian dari upaya menjaga tradisi yang diwariskan oleh leluhur. Selain mempertahankan budaya, kerajinan tersebut juga membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Dalam sehari, ia mampu membuat hingga tiga buah Sa’ung yang dipasarkan kepada masyarakat sekitar maupun pembeli dari luar daerah. Harga yang ditawarkan berkisar Rp130 ribu hingga Rp150 ribu tergantung ukuran.
“Selain menjadi tradisi, Sa’ung juga membantu perekonomian keluarga. Yang penting budaya ini tetap ada dan bisa dikenal generasi muda,” ungkapnya.
Bagi para pengrajin, mempertahankan Sa’ung bukan hanya menjaga sebuah kerajinan tradisional, tetapi juga menjaga identitas budaya masyarakat Dayak. Di tengah perkembangan zaman yang terus berubah, mereka berharap generasi muda tetap mengenal dan bangga menggunakan warisan leluhur agar budaya tersebut tidak hilang ditelan waktu. (*)
Reporter: Alvianita
Editor: Endah Agustina








