Terdeteksi Bibit Siklon 93W di Perairan Indonesia, Ini Dampaknya Bagi Kaltara

benuanta.co.id, TARAKAN – Cuaca tak menentu yang terjadi di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) ternyata dipengaruhi oleh bibit siklon tropis 93W. Bibit ini terdeteksi pada 19 Agustus 2022 yang berada di Samudra Pasifik Barat sebelah timur Filiphina.

Forecaster Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan, Ida Bagus, S.Tr menjelaskan jika bibit siklon ini berpotensi menjadi siklon pada waktu 24 jam ke depan.

Ia juga menguraikan, terkait dampak yang akan ditimbulkan dari bibit siklon tropis 93W ini, seperti adanya angin kencang, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat.

Baca Juga :  Target Rampung Oktober 2023, DPRD Kaltara Terus Dikebut

“Kemudian kenaikan tinggi gelombang khususnya di wilayah Utara Indonesia, salah satunya perairan Kalimantan Utara,” urainya saat dihubungi, Senin (22/8/2022).

Ia melanjutkan, dampak dari bibit siklon ini akan terasa khususnya di hari ini hingga 3 hari ke depan. Menyoal cuaca yang cenderung cerah di wilayah Tarakan khususnya, ia menuturkan bahwa cuaca juga tergantung kepada faktor lokal seperti bentuk topografi suatu wilayah.

“Untuk perbedaan cuaca ini, di Malinau itu bisa dibilang dataran tinggi, di situ terjadi aktivitas konfektif akibat dorongan masa udara dari daerah rendah, nantinya akan terbentuk awan hujan di daerah dataran tinggi tapi tidak terjadi di dataran yang lebih rendah,” lanjutnya.

Baca Juga :  Bertepatan pada Musyawarah II, Gubernur Sekaligus Resmikan Sekretariat DAD Kaltara

Sedangkan kondisi hujan di Tarakan sendiri lebih kepada faktor perairan. Disinggung soal waktu terjadinya hujan, saat ini prediksi BMKG karena dampak tidak langsung bibit siklon tropis 93W, hujan dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Cuaca akhirnya tidak menentu dan sulit bagi kami untuk memprediksi, cuma pola dari peningkatan intensitas siklon itu ya seperti itu (hujan),” bebernya.

Baca Juga :  Sepanjang Tahun 2022 Ada 42 Desa Wisata di Kaltara 

Bagus menerangkan, jika bibit siklon ini menjadi siklon tropis tentu memiliki dampak yang cukup besar. Namun, dalam hal ini perlu diperhatikan posisi bibit siklon itu sendiri.

“Jika bibit siklon masih berada di wilayah Timur laut Tarakan itu tentunya akan membawa dampak hujan, tapi jika posisinya berada di Utara atau Barat itu cenderung cerah bahkan tidak ada hujan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Matthew Gregori Nusa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *