benuanta.co.id, TARAKAN – Kota Tarakan mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 3,62 persen pada Juni 2026. Kenaikan harga tersebut terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi penyumbang inflasi terbesar dibanding kelompok pengeluaran lainnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, Umar Riyadi, menjelaskan inflasi year-on-year terjadi karena Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat menjadi 110,02 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pada Juni 2026 terjadi inflasi year-on-year sebesar 3,62 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,02,” ungkapnya, Selasa (7/7/2026).
Selain secara tahunan, Tarakan juga mengalami inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,45 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) sebesar 1,87 persen. Kondisi tersebut menunjukkan harga berbagai komoditas masih mengalami kenaikan secara bertahap sepanjang semester pertama 2026.
“Inflasi month-to-month Juni 2026 tercatat 0,45 persen, sedangkan inflasi year-to-date mencapai 1,87 persen,” jelasnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, penyumbang inflasi tahunan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 1,14 persen. Kontributor berikutnya berasal dari perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,93 persen, transportasi sebesar 0,61 persen, kesehatan sebesar 0,35 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,27 persen.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Juni 2026,” bebernya.
Sementara itu, beberapa kelompok pengeluaran memberikan andil yang relatif kecil terhadap inflasi, seperti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,16 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,07 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,04 persen, pendidikan sebesar 0,04 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,01 persen. Adapun kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat relatif stabil atau mendekati nol.
“Sebagian besar kelompok pengeluaran tetap memberikan kontribusi terhadap inflasi meski dengan andil yang relatif kecil,” terangnya.
Jika dibandingkan perkembangan selama satu tahun terakhir, inflasi Tarakan sempat mencapai 5,00 persen pada Februari 2026 sebelum melandai menjadi 2,90 persen pada April dan kembali meningkat menjadi 3,08 persen pada Mei hingga 3,62 persen pada Juni 2026. Tren tersebut menunjukkan tekanan harga kembali menguat menjelang pertengahan tahun.
“Perkembangan inflasi menunjukkan adanya kenaikan kembali pada Juni 2026,” imbuhnya.
Di tingkat Provinsi Kalimantan Utara, inflasi tahunan Tarakan berada di bawah Tanjung Selor yang mencatat 4,60 persen, namun lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Nunukan yang hanya mencapai 2,08 persen. Hal ini menempatkan Tarakan sebagai daerah dengan tingkat inflasi menengah di antara tiga wilayah penghitungan inflasi di Kalimantan Utara.
“Inflasi year-on-year Tarakan tercatat 3,62 persen, lebih tinggi dari Nunukan namun masih di bawah Tanjung Selor,” lanjutnya.
Data tersebut menjadi gambaran perkembangan harga barang dan jasa di Kota Tarakan selama Juni 2026 sekaligus dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam menyusun langkah pengendalian inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang masih menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan harga.
“Data inflasi ini diharapkan menjadi dasar dalam mendukung upaya pengendalian harga dan menjaga daya beli masyarakat,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







