benuanta.co.id, TARAKAN – Megahnya fasilitas yang dibangun di kawasan wisata Pantai Ratu Intan atau Pantai Amal dinilai belum mampu mendongkrak jumlah pengunjung secara signifikan. Sejumlah fasilitas yang sempat digadang-gadang menjadi ikon wisata baru Kota Tarakan bahkan kini mulai mengalami kerusakan akibat minim pemanfaatan dan perawatan, sementara kawasan tersebut masih kesulitan bersaing dengan berbagai pilihan hiburan dan destinasi wisata lainnya.
Akademisi sekaligus Pakar Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si., menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari kesalahan strategi pengelolaan sejak awal. Menurutnya, pembangunan kawasan wisata dilakukan dengan pendekatan yang kurang sesuai dengan karakter dasar Pantai Amal sebagai wisata bahari.
“Kemudian kalau kita membahas Ratu Intan ini adalah upaya untuk melakukan transformasi yang salah kaprah saya sebut,” ungkapnya, Senin (1/6)2026).
Dr. Margiyono menjelaskan, sebelum banyak pilihan wisata dan hiburan bermunculan, Pantai Amal merupakan salah satu tujuan rekreasi favorit masyarakat Tarakan. Namun saat ini masyarakat memiliki lebih banyak alternatif hiburan yang relatif lebih murah dan dianggap lebih menarik. Karena itu, menurutnya pengelolaan kawasan wisata harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku masyarakat.
“Kalau kita bicara hiburan atau wisata sekarang, masyarakat juga dihadapkan kepada pilihan yang lain yang relatif lebih murah dan juga cukup menghibur,” jelasnya.
Menurutnya, Pantai Amal sejak awal merupakan wisata alam yang identik dengan nuansa kebaharian sehingga pengembangannya seharusnya memperkuat daya tarik alam, pemandangan, wahana, dan kuliner khas pesisir. Namun sekitar empat hingga lima tahun lalu, pemerintah justru mendorong modernisasi kawasan dengan membangun berbagai fasilitas besar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.
“Pantai Amal itu adalah wisata alam yang bercirikan kepada kebaharian,” ujarnya.
Ia mengatakan fasilitas yang dibangun saat itu tergolong lengkap dan megah. Mulai dari area bersantai, tempat berjualan, lahan parkir hingga fasilitas pendukung kegiatan lainnya telah tersedia. Bahkan ia mengaku sempat mengunjungi kawasan tersebut dan melihat langsung kualitas pembangunannya.
“Saya menyaksikan sangat bagus sekali dan megah dan monumental,” katanya.
Meski demikian, pembangunan fasilitas tersebut dibayangi perdebatan terkait tarif masuk yang dinilai terlalu mahal. Margiyono mengungkapkan sejak awal dirinya sudah mengingatkan bahwa tarif tinggi akan menjadi penghalang bagi wisatawan domestik yang menjadi pasar utama Pantai Amal.
“Tarif yang mahal itu akan memberikan penilaian yang kurang menarik bagi calon wisatawan,” tegasnya.
Ia menjelaskan mayoritas pengunjung Pantai Amal berasal dari masyarakat Tarakan sendiri. Ketika harga tiket terlalu tinggi, masyarakat akan cenderung mengalihkan pengeluarannya ke tempat hiburan lain yang menawarkan lebih banyak fasilitas dengan biaya serupa.
“Kalau terlalu mahal maka masyarakat akan mengalihkan uangnya itu ke tempat lain,” bebernya.
Dari sudut pandang ekonomi, Dr. Margiyono menilai pengelola seharusnya menerapkan strategi meningkatkan jumlah pengunjung, bukan memaksimalkan harga tiket. Ia menjelaskan konsep total revenue atau total penerimaan diperoleh dari perkalian harga dan jumlah pengunjung. Karena itu, harga yang rendah dengan jumlah pengunjung besar dinilai lebih efektif dibanding harga tinggi dengan jumlah pengunjung sedikit.
“Mestinya yang kita dorong ke sana itu bukan teori price atau harga, tetapi teori quantity,” tuturnya.
Menurutnya, jika jumlah pengunjung tinggi maka aktivitas ekonomi di kawasan wisata akan tumbuh dengan sendirinya. Pedagang kaki lima akan berdatangan, kios terisi, parkir ramai, dan pengelola tetap memperoleh pemasukan dari berbagai sumber.
“Yang penting berjalan dulu operasionalnya,” terangnya.
Ia menambahkan, ketika kawasan wisata hidup maka pengelola memiliki sumber pendapatan untuk membayar pegawai, merawat fasilitas, membayar listrik, air dan kebutuhan operasional lainnya. Selain itu, pendapatan tidak hanya berasal dari tiket masuk.
“Sudah tiga kali pendapatan, pendapatan dari penyewaan los, pendapatan dari parkir, dan pendapatan dari karcis,” tambahnya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tarif tinggi membuat minat masyarakat menurun sehingga fasilitas yang telah dibangun tidak dimanfaatkan dalam waktu lama. Akibatnya, bangunan mengalami penurunan kualitas secara alami karena minim perawatan.
“Karena sekarang sudah beberapa tahun dan tidak ada perawatan,” imbuhnya.
Dr. Margiyono menilai pemerintah tidak bisa sepenuhnya lepas tangan meskipun proyek tersebut melibatkan investor. Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi investasi yang telah ditanamkan agar tidak mengalami kerugian besar.
“Termasuk melindungi pengusaha dari potensi kerugian, itu menjadi tugas negara,” lanjutnya.
Ia berpendapat pemerintah seharusnya membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan investor memperoleh pendapatan yang wajar sehingga investasi yang masuk dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Memajukan itu ya meningkatkan pendapatan investor, meningkatkan pendapatan pedagang kaki lima, meningkatkan pendapatan pekerjanya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat Amal,” ucapnya.
Selain persoalan tarif, Dr. Margiyono juga menyoroti aspek pemasaran. Menurutnya, nama Pantai Ratu Intan memang terdengar filosofis dan monumental, tetapi kurang efektif dari sisi branding dibandingkan nama Pantai Amal yang sudah lama dikenal masyarakat.
“Pantai Intan itu bagus, monumental, tetapi dalam sisi marketing penyebutannya menjadi kurang marketable,” bebernya.
Ia mengatakan jika nama Pantai Ratu Intan tetap dipertahankan maka perlu upaya besar untuk memperkenalkan dan menanamkan nama tersebut kepada masyarakat maupun wisatawan.
“Harus ada upaya untuk mendorong melekatkan nama itu kepada setiap masyarakat dan setiap pengunjung,” sebutnya.
Untuk menghidupkan kembali kawasan wisata tersebut, Margiyono mendorong adanya promosi besar-besaran dan penyelenggaraan berbagai event yang mampu menarik perhatian masyarakat. Menurutnya, saat ini diperlukan langkah luar biasa untuk mengembalikan Pantai Amal sebagai destinasi wisata unggulan.
“Harus ada promosi, harus ada event yang bisa mengundang dan menyedot orang datang ke situ,” tegasnya.
Bahkan ia mengusulkan agar kawasan tersebut digratiskan sementara waktu sebagai strategi membangun kembali minat masyarakat. Pengunjung cukup dikenakan biaya parkir sehingga orang terdorong datang dan mengenal kembali kawasan wisata tersebut.
“Bisa jadi sekali dua kali digratiskan aja dulu,” sarannya.
Menurut Dr. Margiyono, wisata modern tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga kebanggaan bagi pengunjung. Karena itu, Pantai Amal harus dikemas menjadi destinasi yang membuat wisatawan merasa bangga ketika berkunjung dan membagikan pengalaman mereka kepada orang lain. Ia menilai penyebaran foto dan pengalaman pengunjung melalui media sosial dapat menjadi sarana promosi yang sangat efektif untuk meningkatkan kunjungan wisata.
“Tujuannya adalah informasi tentang keberadaan Amal menyebar secara masif,” ujarnya.
Dalam kondisi saat ini, Dr. Margiyono menyarankan pemerintah tidak membebankan seluruh pengelolaan kepada APBD. Menurutnya, kerja sama dengan pihak swasta perlu dilakukan agar kawasan tersebut kembali bergerak tanpa menambah beban keuangan daerah.
“Yang penting dirawat dan tidak berjanji untuk tidak merusak,” terangnya.
Ia berujar kerja sama tersebut harus dituangkan secara jelas dalam perjanjian yang mengatur kondisi aset, kewajiban perawatan, serta risiko apabila terjadi kerusakan. “Semuanya poin-poin itu adalah harus dinyatakan,” ujarnya.
Dr. Margiyono juga melihat keberadaan mahasiswa dari berbagai daerah yang menempuh pendidikan di Tarakan sebagai peluang promosi yang besar. Menurutnya, promosi yang tepat dapat menarik keluarga maupun kerabat mahasiswa untuk datang berkunjung.
“Pemasaran yang masif itu akan juga nanti menarik orang dari tempat daerah yang lain,” ucapnya.
Ia mendorong mahasiswa dan masyarakat dilibatkan dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan di kawasan wisata tersebut. Event yang rutin digelar diyakini mampu menarik pengunjung secara bertahap hingga kawasan kembali hidup. “Membuka event, tujuannya ini mempromosikan aja dulu,” tuturnya.
Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan maka biaya perbaikan akan semakin besar sementara nilai investasi terus menurun. Karena itu, upaya penyelamatan harus segera dilakukan. “Kalau ini dibiarkan bebannya makin berat, beban kerusakannya makin parah,” katanya.
Dr. Margiyono mengingatkan bahwa wisata merupakan kebutuhan tersier sehingga persaingannya sangat ketat. Saat ini destinasi wisata bukan hanya bersaing dengan tempat wisata lain, tetapi juga dengan berbagai pilihan hiburan digital yang tersedia di telepon genggam.
“Kalau kita tidak lebih menarik dan tidak memiliki nilai tambah maka juga akan kesulitan,” lanjutnya.
Sebagai wisata bahari, Pantai Amal menurutnya harus memiliki lebih banyak manfaat atau utilitas bagi pengunjung. Salah satunya dengan memperkuat identitas kuliner khas pesisir yang menjadi ciri kawasan tersebut. “Kuliner andalannya harus ditonjolkan,” katanya.
Selain kuliner, ia menilai potensi rumput laut yang menjadi komoditas unggulan masyarakat setempat juga perlu dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata edukasi. Pengunjung dapat diajak melihat proses budidaya, panen hingga pengolahan rumput laut.
“Orang bisa menanam rumput laut, orang bisa memanen rumput laut, orang bisa mengolah rumput laut,” jelasnya.
Ia juga mendorong pengembangan kawasan mangrove sebagai daya tarik tambahan. Menurutnya, keberadaan mangrove yang lebat akan memperkaya pengalaman wisata sekaligus menarik minat peneliti dan wisatawan dari luar daerah.
“Kalau mangrovenya bisa hidup, bisa lebat, itu jadi akan menilai tambah,” katanya.
Tak hanya itu, Dr. Margiyono menilai nilai sejarah Pantai Amal juga perlu diangkat sebagai bagian dari konsep wisata. Ia menyebut kawasan tersebut memiliki kaitan dengan sejarah kedatangan pasukan Sekutu sehingga dapat menjadi daya tarik tersendiri.
“Amal itu dulu adalah menjadi pintu masuk pasukan sekutu,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh potensi tersebut harus dikemas melalui narasi yang kuat dan dipromosikan secara digital agar mudah diakses wisatawan. “Tinggal bagaimana kita mengorkestasi orang-orang pintar di bidangnya,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya melibatkan akademisi dan pihak yang benar-benar memiliki kompetensi dalam penyusunan konsep pengembangan wisata. Menurutnya, keputusan strategis tidak boleh hanya didasarkan pada kedekatan personal.
“Undanglah, ajaklah diskusi orang-orang yang memiliki kompetensi,” sarannya.
Jika seluruh langkah tersebut dijalankan secara terintegrasi, Margiyono optimistis Pantai Amal dapat kembali menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha kecil, tetapi juga sektor transportasi dan ekonomi Tarakan Timur secara keseluruhan.
“Semuanya akan bergerak ekonominya,” ujarnya.
Bahkan ia mengusulkan adanya layanan bus bersubsidi menuju Pantai Amal untuk meningkatkan akses masyarakat. Menurutnya, subsidi transportasi dapat menjadi stimulus ekonomi yang memberikan manfaat lebih luas dibanding membiarkan kawasan tersebut terus sepi pengunjung.
“Misalnya bis gratis selama empat jam, tidak apa-apa,” katanya.
Di akhir, Dr. Margiyono menegaskan bahwa kunci utama kebangkitan Pantai Amal terletak pada strategi pemasaran yang tepat, promosi yang kuat, tarif yang terjangkau serta peningkatan manfaat yang dirasakan pengunjung.
“Supaya utilitasnya besar maka tarifnya rendah tapi kebermanfaatnya tinggi,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli








