benuanta.co.id, TARAKAN – Harga emas yang sempat menyentuh Rp3,3 juta hingga Rp3,4 juta per gram pada awal 2026 kini mengalami penurunan menjadi sekitar Rp2,8 juta per gram. Fluktuasi tersebut disebut dipengaruhi situasi geopolitik global hingga penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Kepala Cabang Pegadaian Tarakan, Yasir mengatakan, kondisi global saat ini membuat pergerakan harga emas sulit diprediksi, terutama dalam jangka pendek.
“Saat ini harga emas fluktuatif. Dibanding awal Januari memang ada penurunan lumayan. Hari ini sekitar Rp2,8 juta per gram,” sebutnya.
Kendati mengalami penurunan dibanding puncak harga awal tahun, secara tahunan harga emas masih menunjukkan tren kenaikan. Yasir menyebut, pada 31 Desember 2025 harga emas masih berada di kisaran Rp2,5 juta per gram.
“Kalau dibanding akhir tahun kemarin masih ada kenaikan hampir Rp300 ribu per gram atau sekitar 11 persen secara year to date,” tuturnya.
Menurutnya, konflik geopolitik terutama terkait minyak dunia menjadi salah satu faktor yang memicu penguatan dolar AS dan berdampak langsung terhadap harga emas.
Selain faktor global, pelemahan nilai tukar rupiah juga ikut memengaruhi harga emas di dalam negeri. Ia mencontohkan, ketika rupiah melemah hingga menembus Rp17.700 per dolar AS, harga emas domestik tetap bisa bertahan meski harga internasional turun.
“Kalau rupiah melemah, meskipun harga internasional turun, harga emas di dalam negeri bisa stagnan bahkan naik sedikit,” terangnya.
Dirinya menambahkan, perubahan kebijakan ekonomi AS yang sangat cepat membuat pasar emas semakin sensitif terhadap pernyataan maupun keputusan pemerintah AS.
“Sekarang agak susah diprediksi. Kebijakan Amerika bisa berubah cepat, bahkan per jam. Ketika Trump ngomong sesuatu saja dampaknya bisa global,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







