Warga Perbatasan Nunukan Terdampak Akibat Nilai Rupiah Melemah

benuanta.co.id, NUNUKAN – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan masyarakat di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kenaikan harga barang impor, tetapi juga memengaruhi aktivitas perdagangan lintas batas dengan Malaysia yang selama ini menjadi denyut ekonomi masyarakat perbatasan.

Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.700 per dolar AS. Pelemahan tersebut membuat harga berbagai kebutuhan pokok dan barang konsumsi di wilayah perbatasan ikut merangkak naik.

Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia, masyarakat Nunukan cukup bergantung pada pasokan barang dari Tawau dan sejumlah wilayah Sabah. Ketika rupiah melemah terhadap dolar maupun ringgit Malaysia, biaya impor barang otomatis meningkat dan dibebankan kepada konsumen.

Kondisi tersebut mulai terasa pada harga sembako, bahan bangunan, elektronik hingga kebutuhan rumah tangga lainnya yang sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri. Pedagang pun terpaksa menaikkan harga untuk menutupi biaya pembelian dan distribusi yang semakin mahal.

Salah seorang warga Nunukan, Rahman, mengaku kondisi saat ini cukup memberatkan masyarakat kecil. Menurutnya, harga kebutuhan sehari-hari terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.

“Kalau dulu belanja masih bisa cukup untuk seminggu, sekarang cepat habis. Harga barang naik terus, terutama yang dari Malaysia,” ujar Rahman pada saat dimintai keterangan Kamis, (21/5/2026).

Hal senada disampaikan pedagang sembako di kawasan pasar tradisional Inhutani Nunukan, Nuraini. Ia mengatakan pembeli mulai mengurangi jumlah belanja karena harga barang semakin mahal mengikuti kurs mata uang.

“Barang yang kami ambil banyak yang ikut harga ringgit. Kalau rupiah turun, otomatis modal naik. Pembeli juga sekarang lebih hati-hati belanja selama harga barang naik,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Nunukan mengakui kondisi pelemahan rupiah cukup berdampak bagi daerah perbatasan. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Nunukan, Mukhtar mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan harga barang di pasaran agar tidak terjadi lonjakan yang terlalu tinggi.

“Daerah perbatasan memang sangat sensitif terhadap perubahan kurs karena sebagian kebutuhan masyarakat masih bergantung dari luar negeri. Pemerintah terus melakukan pengawasan distribusi dan menjaga stabilitas harga,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah daerah juga mendorong penguatan produk lokal dan peningkatan pasokan dari dalam negeri agar ketergantungan terhadap barang impor dapat dikurangi.

Ekonom menilai pelemahan rupiah berpotensi memicu inflasi akibat tingginya biaya impor. Dampaknya paling terasa pada daerah perbatasan yang aktivitas ekonominya sangat dipengaruhi transaksi lintas negara.

Jika kondisi ini berlangsung lama, wilayah perbatasan seperti Nunukan dinilai menjadi daerah paling rentan terdampak karena tingginya ketergantungan terhadap barang impor dan aktivitas ekonomi lintas negara. (*)

Reporter: Soni Irnada

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *