Jelang Iduladha, Harga Cabai Rawit di Tarakan Tembus Rp110 Ribu per Kg

benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Tarakan mencatat sejumlah komoditas pangan mulai mengalami kenaikan harga menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.

Komoditas yang paling menonjol mengalami kenaikan yakni cabai rawit lokal yang kini berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram.

Analis Kebutuhan Pangan Ahli Muda DKPP Kota Tarakan, Shinta Arianasofa mengatakan, sebelumnya harga cabai rawit sempat mencapai Rp120 ribu per kilogram pada pekan lalu. Namun saat ini mulai sedikit turun.

“Untuk Iduladha pantauan kami rata-rata komoditas utama memang ada sedikit kenaikan, terutama cabai kecil atau cabai rawit. Harga hari ini sekitar Rp100 ribu sampai Rp110 ribu. Kemarin sempat mencapai Rp120 ribu,” sebutnya, Senin (18/5/2026).

Menurut Shinta, kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi faktor cuaca yang menyebabkan banyak tanaman rusak dan hasil panen menurun. “Kadang panas, kadang hujan tiba-tiba. Ini berpengaruh ke produksi karena banyak tanaman yang busuk dan gagal panen,” ujarnya.

Ia menyebut, harga cabai rawit lokal sebelumnya sempat turun di bawah Rp100 ribu per kilogram, bahkan berada di kisaran Rp70 ribu hingga Rp80 ribu. Namun saat ini kembali merangkak naik. Pemerintah juga mewaspadai potensi lonjakan harga lebih tinggi menjelang Iduladha apabila distribusi pasokan terganggu.

“Kami khawatir nanti bisa naik sampai di atas Rp150 ribuan menjelang lebaran. Mudah-mudahan tidak terjadi,” ungkapnya.

Selain faktor cuaca, keterlambatan distribusi barang juga mulai berdampak terhadap sejumlah komoditas.

Shinta mengungkapkan adanya informasi mengenai terganggunya operasional kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) yang dikhawatirkan memengaruhi pasokan bahan pangan dari luar daerah.

“Informasi dari pengusaha, katanya kapal Pelni di docking. Ini yang kami khawatirkan juga takutnya harga naik lagi,” jelasnya.

Komoditas yang diperkirakan terdampak gangguan pasokan di antaranya cabai, bawang merah dan bawang putih. Pasokan diprediksi mulai terganggu pada akhir Mei 2026 dan baru kembali normal pada Juni mendatang.

“Kemungkinan harga bisa naik, cuma kami belum bisa estimasi kenaikan sampai berapa,” katanya.

Kendati demikian, stok pangan di Tarakan dipastikan masih aman karena distribusi tidak hanya bergantung pada kapal Pelni, melainkan juga melalui kapal feri dan jalur sungai.

“Stok aman sementara, karena tidak hanya lewat kapal Pelni datangnya, bisa lewat kapal feri juga,” tuturnya.

Selain cabai rawit, kenaikan harga juga terjadi pada beberapa jenis sayuran. Harga tomat saat ini mencapai Rp28 ribu per kilogram, padahal normalnya berada di kisaran Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.

Sementara harga sawi sempat turun menjadi Rp6 ribu hingga Rp8 ribu per ikat, namun kembali naik menjadi Rp10 ribu per ikat. Padahal harga normal komoditas tersebut berada di kisaran Rp5 ribu per ikat.

Sedangkan komoditas lain seperti bayam masih relatif stabil di harga Rp5 ribu per ikat besar. Kacang panjang juga stabil di kisaran Rp2 ribu hingga Rp3 ribu per ikat. Begitu pula buncis dan terong yang masih dinilai normal.

“Terong masih murah karena pernah sampai Rp40 ribu per ikat, sekarang sekitar Rp25 ribu,” tambahnya.

Untuk harga minyak goreng terpantau relatif stabil meski ada sedikit kenaikan di tingkat pengecer akibat keterlambatan distribusi barang di pasaran.

Adapun harga daging ayam, ikan, beras dan bawang masih berada di kisaran normal. Harga bawang merah dan bawang putih saat ini berada di kisaran Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.

Shinta menambahkan, beberapa komoditas pangan memang masih bergantung pada pasokan luar daerah karena belum dapat diproduksi di Tarakan.

“Kalau komoditas dari luar yang kita belum bisa produksi seperti kentang, kol, wortel, labu siam, bawang merah dan bawang putih,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *