benuanta.co.id, TARAKAN – Tingginya hasil tangkapan ikan di Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai belum sepenuhnya memberi keuntungan maksimal bagi nelayan lokal. Di tengah dominasi ekspor hasil laut dan kuatnya peran pengepul dalam rantai distribusi, nelayan tradisional di Tarakan mulai mendorong adanya ruang penjualan langsung agar hasil tangkapan bisa dipasarkan tanpa perantara sekaligus menjaga kualitas ikan yang dikonsumsi masyarakat.
Aspirasi tersebut muncul seiring meningkatnya perhatian terhadap tata niaga ikan di Tarakan. Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Tarakan, Rustan, berharap pemerintah tidak hanya membangun fasilitas perdagangan, tetapi juga membuka akses pasar yang benar-benar berpihak pada nelayan kecil agar harga ikan tidak sepenuhnya ditentukan pengepul.
“Kalau ada pasar seperti ini, harga komoditi kita jadi jelas dan tidak semena-mena lagi pengepul menentukan harga,” ungkapnya, Selasa (12/5/2026).
Rustan mengatakan sebagian besar hasil tangkapan nelayan Kalimantan Utara selama ini memang lebih banyak dikirim keluar daerah hingga ekspor karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Kondisi itu membuat masyarakat lokal sering kali hanya menikmati ikan konsumsi biasa, sementara ikan premium lebih banyak keluar dari daerah.
“Hasil tangkapan nelayan Kalimantan Utara itu 70 persen ekspor, sedangkan yang 30 persen baru masuk pasar lokal,” katanya.
Menurutnya, ikan-ikan premium seperti bawal kualitas terbaik, kakap, dan ikan merah memiliki harga jual tinggi sehingga lebih menguntungkan bila dipasarkan keluar daerah. Bahkan untuk bawal kualitas nomor satu hingga tiga, hampir seluruhnya dikirim keluar karena nilai jualnya mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram.
“Kalau bawal nomor satu, dua, tiga itu ekspor semua, nilainya ratusan ribu per kilo,” bebernya.
Ia menjelaskan ikan yang beredar di pasar lokal umumnya merupakan jenis ikan dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Sementara sebagian ikan yang dijual di pasar juga berasal dari tangkapan nelayan luar daerah, bukan hasil tangkapan nelayan Tarakan sendiri.
“Kalau di pasar itu rata-rata yang dijual justru hasil tangkapan dari luar seperti cakalang, layang, dan cumi-cumi,” katanya.
Rustan menilai tingginya harga ikan premium bukan semata karena permainan pasar, melainkan dipengaruhi biaya operasional melaut yang terus meningkat. Nelayan saat ini menghadapi tantangan cuaca, pembatasan waktu melaut, hingga mahalnya bahan bakar yang membuat biaya produksi semakin besar.
“Kalau harga ikan tangkapan nelayan diturunkan, kasihan nelayan karena biaya melaut sekarang sudah besar,” tuturnya.
Karena itu, nelayan berharap pemerintah menyediakan ruang khusus bagi nelayan yang ingin menjual hasil tangkapan secara langsung tanpa melalui pengepul. Skema tersebut dinilai dapat menjaga kualitas ikan sekaligus memberi keuntungan lebih besar bagi nelayan kecil.
“Kalau nelayan langsung dari laut memasarkan ikannya, kualitasnya lebih terjamin karena tidak disimpan dua sampai lima hari di es,” imbuhnya.
Menurut Rustan, penjualan langsung dari nelayan ke konsumen juga akan membantu masyarakat membedakan mana ikan segar hasil tangkapan lokal dan mana ikan yang sudah lama berada di rantai distribusi. Ia menilai selama ini masyarakat sulit mengetahui asal-usul ikan yang dijual di pasar.
“Kalau ada tempat khusus nelayan jual langsung, masyarakat bisa tahu ini benar hasil tangkapan nelayan Tarakan,” lanjutnya.
Ia juga meyakini akses pasar yang lebih terbuka akan berdampak terhadap kesejahteraan nelayan dalam jangka panjang. Dengan harga yang lebih transparan dan distribusi yang lebih pendek, nelayan dinilai memiliki posisi tawar lebih baik dibanding hanya bergantung pada pengepul.
“Kalau ini berjalan baik, saya yakin dampaknya besar untuk nelayan,” terangnya.
Selain itu, Rustan menegaskan kualitas ikan harus tetap menjadi perhatian utama dalam perdagangan hasil laut di Tarakan. Menurutnya, masyarakat kini semakin selektif dalam membeli ikan sehingga pedagang harus menjaga kesegaran produk yang dijual.
“Kalau disebut higienis, tidak mungkin ikan yang dijual matanya sudah merah karena disimpan empat atau lima hari,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







