70 Persen Ikan Kaltara Dijual Keluar, Alasan Harga Ikan Lokal Tetap Mahal

benuanta.co.id, TARAKAN – Di tengah melimpahnya hasil laut Kalimantan Utara (Kaltara), masyarakat ternyata belum tentu bisa menikmati ikan premium dengan harga murah. Sebagian besar hasil tangkapan nelayan justru dikirim keluar daerah hingga ekspor karena memiliki nilai jual tinggi, sementara pasar lokal lebih banyak diisi ikan konsumsi dengan harga yang menyesuaikan daya beli masyarakat.

Fenomena itu menjadi salah satu alasan mengapa harga sejumlah jenis ikan di Tarakan masih tergolong tinggi meski daerah tersebut dikenal sebagai kawasan penghasil ikan. Nelayan menyebut kondisi itu bukan semata karena pasokan terbatas, tetapi karena sebagian besar ikan berkualitas tinggi memang ditujukan untuk pasar luar daerah.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Utara, Rukhi Syayahdin, S.ST.Pi., mengatakan anggapan bahwa seluruh ikan berkualitas ‘dibawa keluar’ sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, ikan yang dipasarkan keluar daerah adalah komoditas dengan nilai ekonomi tinggi yang tidak selalu sesuai dengan kemampuan beli masyarakat lokal.

“Ikan yang diekspor keluar itu ikan yang bernilai ekonomi tinggi,” ungkapnya, Selasa (12/5/2026).

Ia menjelaskan ikan yang banyak dijual di pasar lokal merupakan jenis ikan yang masih dapat dijangkau masyarakat sehari-hari, seperti layang dan bandeng. Sementara ikan premium seperti kakap merah dan bawal kualitas terbaik memiliki harga jual jauh lebih tinggi di pasar luar daerah.

“Kalau ikan merah satu kilo Rp65 ribu atau ikan bawal Rp100 ribu lebih, pasti mereka kirimnya ke luar,” bebernya.

Hal senada disampaikan Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Tarakan, Rustan. Ia mengungkapkan sekitar 70 persen hasil tangkapan nelayan Kalimantan Utara saat ini memang masuk pasar ekspor karena kualitas dan nilai jualnya tinggi.

“Hasil tangkapan nelayan Kalimantan Utara itu 70 persen ekspor,” jelasnya.

Menurut Rustan, hanya sekitar 30 persen hasil tangkapan yang akhirnya masuk pasar lokal. Itupun sebagian besar berasal dari kategori ikan konsumsi biasa yang harganya lebih rendah dibanding komoditas premium.

“Yang 30 persen itu baru dipasarkan di lokal karena ikan-ikan mahal memang lebih banyak keluar,” katanya.

Ia mencontohkan bawal kualitas nomor satu hingga nomor tiga hampir seluruhnya dikirim keluar daerah karena nilainya mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram. Begitu pula kakap dan ikan merah yang memiliki pasar khusus di luar daerah hingga luar negeri.

“Kalau bawal nomor satu, dua, tiga itu ekspor semua, nilainya ratusan ribu per kilo,” lanjutnya.

Rustan menilai tingginya harga ikan premium juga dipengaruhi biaya operasional melaut yang terus meningkat. Nelayan saat ini harus menghadapi cuaca yang tidak menentu, pembatasan aktivitas melaut, hingga mahalnya bahan bakar yang membuat biaya produksi semakin besar.

“Kalau harga ikan hasil tangkapan nelayan diturunkan, kasihan nelayan karena biaya melaut sekarang besar,” imbuhnya.

Selain itu, ia mengatakan banyak ikan yang dijual di pasar lokal Tarakan justru berasal dari luar daerah. Jenis ikan seperti cakalang, layang, dan cumi-cumi disebut lebih banyak dipasok nelayan luar dibanding hasil tangkapan nelayan lokal Tarakan sendiri.

“Kalau di pasar itu rata-rata yang dijual hasil tangkapan dari luar seperti cakalang dan layang,” terangnya.

Rustan berharap masyarakat mulai memahami bahwa tingginya harga ikan di Kaltara bukan semata karena permainan pedagang, tetapi juga dipengaruhi rantai distribusi, biaya melaut, dan tingginya permintaan pasar luar terhadap ikan premium asal Kaltara. Menurutnya, keberadaan pasar ikan higienis yang baru dibuka pemerintah juga bisa membantu masyarakat mengetahui kualitas dan asal ikan yang dijual di pasar.

“Kalau ada pasar seperti ini, masyarakat jadi tahu harga komoditas kita sebenarnya,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *