Berawal dari Sepeda di Halaman Rumah, Rezha jadi Pembalap Cilik Andalan Kaltara

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Di balik deru motor dan kerasnya persaingan lintasan balap, ada kisah sederhana dari seorang anak kecil asal Kalimantan Utara (Kaltara) yang kini mulai dikenal di ajang balap nasional. Ia adalah Rezha Abinaya, pembalap cilik berusia 10 tahun yang perlahan menapaki mimpinya menjadi rider profesional.

Tak banyak yang tahu, perjalanan Rezha menuju dunia balap justru dimulai dari kebiasaannya bermain sepeda di rumah sang nenek. Dari situ, sang ayah melihat keberanian dan keseimbangan yang berbeda dibanding anak-anak seusianya.

“Awalnya dia cuma sering main sepeda di rumah neneknya. Saya lihat dia berani dan cepat belajar keseimbangan, jadi saya coba arahkan ke balap motor,” ujar ayah Rezha, Andi Mahadir, Ahad (10/5/2026).

Dengan fasilitas sederhana, Rezha mulai dikenalkan ke lintasan sirkuit menggunakan motor Mini GP. Latihan demi latihan dijalani bersama sang ayah hingga akhirnya bakatnya mulai dilirik sekolah balap.

“Dulu latihan biasa saja sama papa di sirkuit. Lama-lama saya jadi suka karena seru dan ingin terus belajar,” kata Rezha.

Ketertarikannya pada dunia balap semakin besar setelah sering menonton ajang road race dan mengidolakan pembalap Fahmi Basam. Dari situlah muncul keinginan untuk serius menekuni balap motor.

“Kalau lihat balapan itu senang sekali. Saya juga suka lihat Fahmi Basam balapan, jadi tambah semangat ikut balap,” ucapnya.

Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, Rezha sudah menjalani rutinitas latihan layaknya atlet profesional. Hari-harinya diisi latihan fisik seperti jogging dan gym untuk menjaga stamina saat bertanding.

“Kalau hari biasanya latihan fisik, jogging sama gym. Kalau Sabtu Minggu baru latihan motor di sirkuit,” jelasnya.

Kerja keras itu mulai membuahkan hasil. Rezha sukses meraih sejumlah prestasi di ajang Kejurnas dan kejuaraan regional, mulai dari Mini GP hingga kelas beginner 150 CC.

Namun di balik prestasi tersebut, perjuangan keluarga Rezha juga tidak ringan. Keterbatasan fasilitas membuat mereka harus menyewa motor balap demi bisa mengikuti kompetisi.

“Kami belum punya motor tim sendiri, jadi masih sewa. Syukur ada bantuan dari pemerintah provinsi untuk mendukung kebutuhan balap Rezha,” ungkap Andi.

Pada tahun 2026, Rezha mendapat bantuan pembinaan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara melalui Dispora Kaltara sebesar Rp50 juta yang digunakan untuk menyewa motor balap selama satu musim kompetisi.

“Bantuan itu sangat membantu saya untuk ikut balapan lagi. Jadi saya ingin kasih hasil terbaik juga buat Kalimantan Utara,” kata Rezha.

Kini, pembalap cilik yang akrab disapa Eza itu mulai memasang mimpi lebih tinggi. Ia berharap suatu saat bisa mengharumkan nama Indonesia di ajang balap internasional.

“Saya ingin terus belajar dan latihan supaya nanti bisa ikut balapan sampai tingkat Asia,” tutupnya penuh semangat. (*)

Reporter: Alvianita

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *