Detik-detik Proklamasi, Bendera Merah Putih 17 Meter Dibentang di Simpang Empat Tarakan Mall

Tarakan68 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Bendera Merah Putih berukuran raksasa dibentangkan di simpang empat Tarakan Mall, Senin (17/8/2026), bertepatan dengan pelaksanaan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Pembentangan bendera tersebut menjadi bagian dari ajakan kepada masyarakat untuk menghentikan aktivitas sejenak, memberikan penghormatan kepada Sang Merah Putih, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pelaksanaan penghormatan detik-detik Proklamasi dimulai dengan penghentian sementara arus lalu lintas di kawasan tersebut. Kasat Lantas Polres Tarakan, IPTU Ardi Wisnu Pradana, S.Tr.K., S.I.K., M.H., mengatakan penghentian dilakukan mulai pukul 11.14 WITA dengan diawali pembunyian sirine selama kurang lebih satu menit.

“Mulai pukul 11 lewat 14 menit, diawali dengan pembunyian sirine selama kurang lebih satu menit,” ungkapnya.

Setelah sirine dibunyikan, rangkaian dilanjutkan dengan pembacaan teks Proklamasi dan penghormatan kepada Bendera Merah Putih tepat pada pukul 11.17 WITA. Penghormatan tersebut juga diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya dan diikuti masyarakat yang berada di lokasi.

“Kemudian dilanjutkan dengan pembunyian teks Proklamasi, kemudian dilanjutkan dengan penghormatan kepada Bendera Merah Putih diiringi lagu Kebangsaan Indonesia Raya,” ujarnya.

IPTU Ardi menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seremoni peringatan kemerdekaan yang dilakukan di lapangan, tetapi juga dibawa ke ruang publik agar masyarakat dapat ikut merasakan momentum tersebut secara langsung. Kegiatan itu sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan yang telah mendahului generasi saat ini.

“Kita laksanakan peringatan tidak hanya secara seremonial di lapangan saja, melainkan di tempat-tempat umum untuk mengajak seluruh masyarakat, khususnya Kota Tarakan,” jelasnya.

Ia menilai keterlibatan masyarakat di ruang publik penting untuk kembali mengingat sejarah perjuangan bangsa dan jasa para pahlawan. Momentum kemerdekaan diharapkan tidak hanya diperingati secara simbolis, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap tanah air.

“Ini adalah wujud kita cinta tanah air, bangsa Indonesia, bahwasannya setiap tanggal 17 Agustus kita laksanakan peringatan,” katanya.

Dalam pelaksanaan di simpang empat Tarakan Mall tersebut, personel yang terlibat mencapai hampir 100 orang. Dari unsur kepolisian, sekitar 55 personel diterjunkan, terdiri dari personel Polres Tarakan serta unsur Direktorat Polda yang berada di Tarakan.

Baca Juga :  Di Tengah Gejolak Daerah, Merah Putih Jangan Sampai Kehilangan Makna

“Gabungan kurang lebih sekitar hampir 100, karena dari kepolisian sendiri kurang lebih ada 55 personel,” paparnya.

Kegiatan juga melibatkan berbagai elemen di Kota Tarakan, baik dari instansi pemerintahan maupun unsur masyarakat. IPTU Ardi menyebut keterlibatan berbagai pihak menunjukkan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan yang dinilai positif dalam memperingati kemerdekaan.

“Kita juga melibatkan berbagai lapisan elemen, baik dari instansi kantor, dari kota, maupun dari ormas-ormas yang ada di Kota Tarakan,” bebernya.

Selama rangkaian penghormatan berlangsung, masyarakat yang berada di sekitar lokasi turut diarahkan untuk memberikan penghormatan kepada Bendera Merah Putih. Menurut Ardi, penghormatan tersebut dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap simbol negara.

“Sebagai bentuk penghormatan kita kepada Bendera Merah Putih, seluruhnya kami pandu untuk melaksanakan penghormatan kepada Bendera Merah Putih,” katanya.

Penghentian arus lalu lintas dilakukan sementara selama rangkaian detik-detik Proklamasi berlangsung. Setelah kegiatan selesai, arus kendaraan kembali dinormalkan dengan bantuan sejumlah pihak yang ikut mengatur lalu lintas di kawasan tersebut.

“Untuk arus lalu lintas dapat dilihat sama-sama, sudah kita normalkan kembali,” terangnya.

Dalam normalisasi arus lalu lintas, kepolisian turut mendapat dukungan dari unsur Dinas Perhubungan dan Satpol PP. Kolaborasi tersebut dilakukan agar penghentian sementara kendaraan untuk kegiatan penghormatan tidak berlangsung lebih lama dari yang diperlukan.

“Dengan bantuan dari rekan-rekan juga, ada dari Dishub, Pol PP, itu juga membantu dalam normalisasi arus lalu lintas yang sempat kita hentikan sementara,” tukasnya.

Sementara itu, pembentangan bendera raksasa tersebut bukan kali pertama dilakukan oleh komunitas yang terlibat. Ketua Badan Pengurus Kota Organisasi Orang Indonesia (OI) Tarakan, Che Ageng, mengatakan tradisi pembentangan bendera telah dilakukan sejak 2015, meski ukurannya saat itu jauh lebih kecil dibandingkan bendera yang dibentangkan pada tahun ini.

“Mungkin ini yang sudah kelima kalinya. Tapi, untuk pembentangan bendera itu sebenarnya teman-teman OI sudah mulai sejak tahun 2015,” katanya.

Baca Juga :  Job Fair Buka Akses Kerja, BPS Tarakan Dorong Pencari Kerja Tingkatkan Kompetensi

Pada awalnya, bendera yang digunakan memiliki panjang sekitar lima meter dan lebar tiga meter. Setelah pelaksanaan peringatan detik-detik Proklamasi di simpang lampu merah kembali dilakukan pascapandemi Covid-19, kegiatan tersebut kemudian dikembangkan agar menjadi daya tarik di pusat Kota Tarakan.

“Di 2019 itu panjang bendera kita baru sekitar 5 meter, lebarnya 3 meter,” ujarnya.

Menurut Che Ageng, adanya penutupan simpang saat pelaksanaan detik-detik Proklamasi menjadi salah satu alasan pihaknya kembali berinisiatif membentangkan bendera di kawasan simpang empat Tarakan Mall. Bendera kemudian diperbesar dan ukurannya dibuat mengikuti angka tanggal dan bulan kemerdekaan Indonesia.

“Kami kembali berinisiatif bahwa agar supaya menjadi daya tarik di pusat kota, dalam hal ini di simpang GTM ini ketika dilakukan penutupan jalan, maka kami membentangkan bendera,” jelasnya.

Bendera yang awalnya berukuran lima meter kali tiga meter itu kemudian diperbesar hingga mencapai panjang 17 meter dan lebar 8 meter. Ukuran tersebut sengaja dipatok menjadi 17-8 sebagai simbol tanggal dan bulan pelaksanaan peringatan kemerdekaan.

“Bendera yang tadinya panjang 5 meter, lebar 3 meter itu kami tambah besar, dan kami patenkan menjadi 17-8, sesuai dengan tanggal dan bulan pada saat pelaksanaannya, yaitu panjang 17 meter, lebarnya 8 meter,” paparnya.

Proses memperbesar bendera tersebut dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Pengerjaannya melibatkan penjahit lokal, sementara bendera yang digunakan tetap merupakan bendera yang telah ada sejak 2015.

“Itu sekitar 2 bulanan saja, 2 bulanan sudah selesai. Teman juga yang jahit, penjahit lokal juga yang jahit,” terangnya.

Perubahan ukuran bendera tersebut dilakukan sebanyak enam kali, baik melalui penambahan panjang maupun lebar hingga mencapai ukuran 17 meter kali 8 meter seperti saat ini.

“Ada 6 kali penambahan, baik penambahan panjang maupun penambahan lebar, untuk dia sampai di titik hari ini 17-8,” ujarnya.

Untuk menjaga kondisi bendera agar tetap layak digunakan, bendera tersebut dirawat secara khusus dan secara berkala dijemur menggunakan sinar matahari pagi. Penyimpanan juga diberi bahan tertentu untuk mencegah kerusakan akibat serangga.

Baca Juga :  Satlantas Polres Tarakan Siapkan Pengawasan Kendaraan Berat

“Dijemur di matahari pagi, kemudian di dalam pelipatannya juga kita kasih semacam kapur barus supaya tidak dihinggap rayap,” bebernya.

Che Ageng mengatakan bendera berukuran raksasa tersebut memang diperuntukkan terutama untuk momentum 17 Agustus. Namun, penggunaannya juga dapat dilakukan dalam kegiatan lain yang memiliki semangat nasionalisme.

“Peruntukannya memang untuk tabuh, seiring berjalan kegiatan teman-teman yang sifatnya nasionalis, kita mengeluarkan bendera ini,” katanya.

Dalam pembentangan bendera pada Senin siang, sekitar 30 orang berada di posisi sebagai pemegang bendera. Sementara itu, masyarakat dan sejumlah kelompok lain turut hadir secara sukarela untuk mendukung kegiatan tersebut.

“Kalau untuk yang pembentangan itu kan sekitar 30 orang, untuk yang posisi pemegang bendera,” sebutnya.

Antusiasme juga datang dari berbagai elemen masyarakat yang hadir di lokasi, di antaranya pengemudi ojek online, Tameng Adat Borneo, RAPI, serta masyarakat umum. Menurut Che Ageng, keterlibatan tersebut muncul dari respons positif masyarakat terhadap kegiatan pembentangan Merah Putih.

“Teman-teman di luar kita itu merespon baik dengan kegiatan ini, dan mereka datang, seperti dari tadi ada teman-teman ojol, kemudian dari teman-teman Tameng Adat Borneo, ada teman-teman RAPI, ditambah lagi masyarakat,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat bahkan terlihat sejak sebelum pelaksanaan detik-detik Proklamasi yang dijadwalkan pukul 11.17 WITA. Sejumlah masyarakat telah berada di lokasi sejak sekitar pukul 09.00 WITA dan menanyakan kepastian kegiatan tersebut.

“Kegiatan itu jam 11 lebih 17 menit, tapi jam 9 itu sudah datang,” katanya.

Menurutnya, kehadiran masyarakat sejak pagi menunjukkan pembentangan bendera raksasa tersebut masih memiliki daya tarik dan makna bagi warga Tarakan. Masyarakat tidak hanya datang untuk menyaksikan bendera dibentangkan, tetapi juga ikut memberikan penghormatan dan menyanyikan Indonesia Raya bersama-sama.

“Artinya, antusias masyarakat untuk hari ini menyaksikan pembentangan bendera, kemudian sama-sama menghormat dan menyanyikan lagu Indonesia Raya itu, untuk di Tarakan itu masih ada,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *