Tak Terlihat Beraktivitas, Warga Jalan Gajah Mada Temukan Pria Meninggal di Kamar Kosnya

Hukrim, Tarakan105 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Seorang pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Karang Rejo, Kecamatan Tarakan Barat, Gang Kepiting, RT 31, Kota Tarakan, setelah warga mulai curiga karena korban tidak terlihat beraktivitas seperti biasanya pada Ahad (16/8/2026) pagi.

Salah satu warga, Risma, mengungkapkan kecurigaan bermula ketika jendela kamar korban yang biasanya sudah terbuka pada pagi hari masih tertutup. Saat itu, Wati baru pulang dari pasar dan tidak melihat korban berada di luar kamar maupun menjalankan aktivitas rutinnya sebagai tukang parkir.

“Saya dari pasar, kenapa itu belum ada parkir di luar? Makanya saya tanya mereka (anak-anak sekitar), adakah Om (korban) ke luar? ternyata tidak ada,” ungkapnya.

Risma kemudian meminta anak-anak di sekitar melihat kondisi kamar korban dari luar. Menurutnya, pintu kamar juga tidak dalam keadaan digembok dari luar sehingga muncul dugaan korban masih berada di dalam kamar.

“Saya bilang kalau digembok, rumahnya berarti di luar. Kalau tidak digembok, berarti di dalam,” katanya.

Setelah dilakukan pengecekan melalui jendela, warga melihat korban berada di dalam kamar dalam kondisi tidak bergerak. Risma menyebut kondisi tubuh korban saat itu sudah kaku dan tidak mengenakan pakaian.

“Memang kejung sudah (badannya). Tidak menggunakan pakaian sama sekali (telanjang bulat),” tuturnya.

Risma mengatakan dirinya tidak langsung masuk ke dalam kamar dan hanya melihat kondisi korban dari luar jendela. Posisi tubuh korban saat itu menghadap ke samping sehingga wajahnya tidak terlihat jelas dari tempat ia mengintip.

Baca Juga :  Karhutla Ancam Sumber Air Tarakan

“Menghadap ke samping mukanya. Jadi tidak sempat saya lihat mukanya,” tuturnya.

Menurut Risma, korban selama ini dikenal cukup baik oleh penghuni kos dan warga sekitar. Ia disebut tidak pernah memiliki masalah dengan warga serta beberapa kali membantu orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya.

“Bagi saya Om itu baik kepada warga dan tidak ada salah sama sekali,” ucapnya.

Korban diketahui telah cukup lama tinggal di kawasan tersebut. Risma mengatakan pria tersebut bahkan sudah tinggal di sana sebelum dirinya menetap selama sekitar enam tahun, meski korban sempat pindah ke tempat lain di kawasan Karanganyar selama kurang lebih tiga bulan sebelum akhirnya kembali.

“Lama sudah. Bukan cuma satu tahun, karena saya di sini sudah 6 tahun dan beliau itu sudah ada waktu pertama kali saya ngontrak,” katanya.

Rumah kos tersebut diketahui memiliki sekitar 10 kamar, namun hanya sekitar empat kamar yang saat ini terisi. Penghuni kos sama dengan korban, Sapri, mengaku tidak terlalu mengenal korban secara dekat karena mereka menempati kamar yang berbeda.

“Saya tidak terlalu mengenal dekat karena beda kamar,” katanya.

Meski tidak terlalu dekat, Sapri mengetahui aktivitas korban sehari-hari sebagai tukang parkir. Korban hampir setiap hari terlihat keluar sejak pagi untuk bekerja dan biasanya baru kembali setelah siang hari.

“Sehari-hari saya tahunya beliau sebagai tukang parkir di warung Coto Makassar di depan” ujarnya.

Sapri juga mengaku sempat melihat korban masih beraktivitas dan mandi sebelum ditemukan meninggal dunia. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa korban masih terlihat menjalani rutinitas seperti biasa sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Baca Juga :  PM2,5 Tarakan Tembus 62, DLH Tingkatkan Kewaspadaan Kualitas Udara di Tengah Cuaca Kering

“Sempat lihat mandi tadi pagi,” katanya.

Sementara itu, penghuni kos lainnya, Wati mengatakan korban memang memiliki kebiasaan keluar pada pagi hari untuk bekerja sebagai tukang parkir. Ia biasanya mulai bekerja sejak pagi dan pulang sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 WITA.

“Setiap pagi parkirnya itu, nanti jam 1, jam 2 baru pulang dia,” ujarnya.

Dalam beberapa hari terakhir, korban juga sempat berpindah lokasi untuk bekerja karena ada kebutuhan tenaga tukang parkir di kawasan lain. Wati menyebut korban sempat diminta membantu menjaga parkir di warung kapurung selama sekitar tiga hari.

“Tiga hari kan sudah ini disuruh jaga parkir di warung kapurung juga, karena tidak ada tukang parkirnya,” tuturnya.

Wati mengatakan korban masih sempat beraktivitas hingga malam sebelumnya. Salah satu aktivitas yang diketahui warga adalah menghadiri kegiatan di gereja Katolik dan berbincang dengan sejumlah orang.

“Beliau juga sempat ke gereja tadi malam,” katanya.

Selain itu, korban sempat mengeluhkan rasa lelah kepada Wati ketika menjalani aktivitasnya. Meski demikian, selama mengenal korban, Wati mengaku tidak pernah mengetahui korban memiliki penyakit atau sering mengeluhkan kondisi kesehatan.

“Setahu saya tidak pernah ada riwayat sakit,” katanya.

Dalam kesehariannya, korban dikenal warga dengan panggilan Om. Warga sekitar bahkan lebih mengenal panggilan tersebut dibandingkan nama lengkapnya.

“Untuk identitasnya saya tidak tahu. Biasanya dipanggil Om Botak saja di sini,” ujarnya.

Baca Juga :  Sensus Ekonomi di Tarakan Ditarget Rampung Pertengahan Agustus

Wati mengatakan korban juga dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tidak banyak menuntut. Ketika mendapatkan bantuan atau pemberian dari warga, korban disebut menerimanya dengan baik.

“Apapun kerjaan yang dikasih dia mau. Tak banyak ngomong dia itu,” tuturnya.

Hubungan korban dengan warga sekitar juga disebut cukup baik. Wati mengatakan korban mudah bergaul dan sering membantu warga ketika dibutuhkan.

“Orangnya baik dan sederhana,” katanya.

Mengenai keluarga korban, Wati mengaku tidak mengetahui secara pasti keberadaan keluarganya. Ia hanya pernah mendengar korban bercerita bahwa dirinya masih memiliki keluarga di kampung.

“Dia pernah juga cerita, bilang ada keluarganya, tapi di kampung,” bebernya.

Pada hari ditemukan, Wati memperkirakan korban diketahui sudah meninggal sekitar pukul 10.00 WITA. Ia sendiri baru pulang dari pasar sekitar pukul 10.00 lewat dan mulai merasa ada yang tidak biasa karena korban tidak terlihat di luar.

“Aku dari pasar itu jam 9 lewat. Tidak ada memang aktivitas dari si Om sejak pagi,”pungkasnya.

Setelah warga memastikan kondisi korban, pihak terkait kemudian melakukan penanganan dan mengevakuasi jenazah dari kamar kos. Jenazah selanjutnya dibawa menggunakan mobil jenazah RSUD Tarakan untuk proses lebih lanjut.

Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti meninggalnya pria tersebut belum diketahui berdasarkan keterangan penghuni kos dan warga sekitar. Penanganan jenazah selanjutnya dilakukan oleh pihak terkait untuk mengetahui kondisi dan penyebab kematian korban. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *