benuanta.co.id, TARAKAN – Rencana penambahan rombongan belajar (rombel) di Sekolah Negeri Terpadu (SNT) 11 Tarakan tahun depan otomatis akan menambah kebutuhan tenaga pendidik. Persoalannya, ketika kapasitas penerimaan siswa hendak diperluas, hingga kini baru lima ASN yang mendaftar untuk bergabung sebagai guru di sekolah tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan, Tamrin Toha, mengatakan SNT 11 saat ini baru memiliki satu angkatan dengan sekitar 80 siswa. Tahun depan, jumlah rombel akan ditambah sehingga kapasitas peserta didik juga meningkat.
Penambahan rombel tersebut membuat kebutuhan guru di SNT 11 ikut bertambah. Namun, minat ASN untuk berpindah ke sekolah unggulan itu masih tergolong rendah.
“Ini kan angkatan pertama, baru 80 orang. Tahun depan rencananya ada penambahan rombel. Tetap diperuntukkan bagi peserta didik asal Tarakan melalui jalur prestasi,” ujarnya.
Hingga saat ini, Disdik Tarakan baru mencatat lima orang yang mendaftar sebagai tenaga pendidik di SNT 11. Jumlah tersebut menjadi perhatian karena sekolah akan menerima lebih banyak siswa ketika rombel ditambah.
Selain posisi guru, terdapat tiga pelamar untuk jabatan Wakil Kepala Sekolah SNT 11. Namun, hanya satu orang yang lolos seleksi administrasi.
“Untuk Tarakan itu baru lima pendaftar. Cuma saya enggak tahu siapa, karena kita hanya melihat jumlah peminatnya,” ujarnya.
Pemenuhan guru di SNT 11 juga tidak bisa hanya dilakukan dengan menarik ASN dari sekolah lain. Sebab, sekolah reguler di Tarakan masih mengalami kekurangan tenaga pendidik.
Oleh karena itu, perpindahan ASN ke SNT 11 harus mempertimbangkan kebutuhan guru di sekolah asal. Terlebih, proses perpindahan juga membutuhkan persetujuan Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK), yakni kepala daerah.
“Kita sudah kekurangan guru, masa mau diambil lagi? Tapi kita tidak menghalangi karena itu hak mereka. Apalagi kalau untuk berkarier lebih baik, karena ini sekolah unggulan,” ungkapnya.
Kendati demikian, pengembangan SNT 11 tetap berjalan. Sekolah tersebut menawarkan fasilitas yang lebih lengkap dibandingkan sekolah reguler, mulai dari layanan antar-jemput, laptop pribadi bagi setiap siswa, hingga seragam khusus dan berbagai fasilitas penunjang pendidikan tanpa dipungut biaya.
“Fasilitasnya ada antar jemput, kemudian satu siswa satu laptop. Pakaiannya juga berbeda, ada beberapa macam. Semuanya gratis,” bebernya.
SNT 11 juga diproyeksikan berkembang melalui fasilitas pembelajaran berbasis praktik. Pemerintah menyiapkan pengembangan sektor pertanian dan peternakan sebagai bagian dari fasilitas sekolah.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan pembangunan sekolah baru di kawasan Mamburungan. Proyek tersebut direncanakan menggunakan dana APBN, sedangkan Pemkot Tarakan menyiapkan lahan sekitar 20 hektare.
Berbeda dengan Sekolah Rakyat, SNT tidak menerapkan sistem asrama. Namun, fasilitas pendidikannya akan diperkuat untuk menunjang proses pembelajaran dan pengembangan keterampilan siswa.
“Kalau Sekolah Rakyat ada asrama. Kalau SNT tidak, tetapi fasilitasnya lebih lengkap lagi, termasuk untuk pengembangan peternakan dan pertanian,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







