benuanta.co.id, TARAKAN – Warga yang bermukim di kawasan lereng dan daerah rawan longsor di Kota Tarakan didorong untuk mulai melakukan mitigasi secara mandiri melalui penghijauan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan menilai penanaman bambu menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mengurangi risiko bencana.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan masyarakat tidak perlu menunggu intervensi pemerintah untuk melakukan upaya pencegahan di lingkungan masing-masing. Sebab, warga dinilai lebih memahami kondisi wilayah tempat tinggalnya.
“Kalau bisa jangan menunggu pemerintah. Masyarakat juga harus punya inisiatif melakukan mitigasi karena mereka yang lebih tahu kondisi rumah dan lingkungannya,” ujarnya.
Menurutnya, setiap aktivitas pembukaan lahan maupun penggundulan vegetasi seharusnya diikuti dengan penanaman kembali. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kestabilan tanah, terutama di wilayah yang memiliki potensi longsor.
“Sebenarnya wajib. Kalau menggundulkan lahan, ya harus menanam kembali,” tegasnya.
Dirinya menjelaskan, bambu menjadi tanaman yang paling direkomendasikan karena memiliki sistem perakaran yang kuat untuk mengikat tanah. Selain itu, beberapa jenis bambu berukuran kecil juga memiliki daya serap air yang lebih tinggi sehingga mampu membantu mengurangi potensi longsor.
“Yang paling cocok untuk cepat itu memang bambu. Ada jenis bambu kecil yang daya serap airnya lebih kuat sehingga baik untuk mengurangi risiko longsor,” terangnya.
Yonsep mengungkapkan, kondisi geografis Tarakan yang didominasi tanah berpasir membuat wilayah tersebut rentan mengalami pergerakan tanah. Risiko longsor bahkan dapat terjadi setelah musim kemarau berakhir. Ia menuturkan, saat musim kemarau, rongga-rongga akan terbentuk di dalam tanah. Ketika hujan turun, rongga tersebut terisi air dan dapat memicu longsor susulan meski cuaca sudah kembali cerah.
Di sisi lain, BPBD juga mencermati adanya anomali cuaca yang terjadi di Tarakan. Sebelumnya, wilayah ini diperkirakan memasuki musim kemarau hingga September. Namun, hujan ringan dengan durasi panjang masih kerap terjadi.
“Kita pernah menyampaikan sampai September itu kemarau. Tapi sekarang ada anomali cuaca. Hujannya memang ringan, tetapi durasinya panjang sehingga tetap meningkatkan risiko bencana,” jelasnya.
Oleh karena itu, BPBD mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan rawan longsor agar rutin memantau kondisi lereng, segera melaporkan jika muncul retakan tanah, serta terus melakukan penghijauan sebagai upaya sederhana dalam menekan risiko bencana. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







