benuanta.co.id, NUNUKAN – Kenaikan harga masih membayangi masyarakat Kabupaten Nunukan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan mencatat inflasi tahunan pada Agustus 2026 mencapai 1,28 persen.
Angka tersebut berdasarkan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada di level 110,86. Secara bulanan, harga-harga di Nunukan juga naik 0,16 persen, sedangkan inflasi kumulatif sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 1,39 persen.
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien, mengatakan kenaikan tersebut tercermin dari pergerakan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.
“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year-on-year Kabupaten Nunukan sebesar 1,28 persen dengan IHK sebesar 110,86,” kata Iskandar.
Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, penyediaan makanan dan minuman/restoran menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan. Kelompok ini mengalami inflasi 5,28 persen dan memberikan andil 0,46 persen terhadap inflasi y-on-y.
Nasi dengan lauk menjadi komoditas dengan kontribusi paling besar di kelompok tersebut, yakni 0,24 persen. Berikutnya kue kering berminyak dan sate masing-masing menyumbang 0,05 persen. Sementara ayam goreng, soto dan bakso siap santap masing-masing memberikan andil 0,03 persen.
“Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran memberikan andil inflasi year-on-year terbesar, yaitu 0,46 persen,” ujarnya.
Namun, dari sisi laju inflasi, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya justru mencatat kenaikan tertinggi. Inflasi kelompok ini mencapai 6,71 persen dengan andil 0,36 persen terhadap inflasi tahunan. Tekanan harga juga terjadi pada kebutuhan rumah tangga. Kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga mengalami inflasi 3,02 persen dengan andil 0,16 persen.
Sektor transportasi turut memberikan tekanan. Kelompok Transportasi mengalami inflasi 2,02 persen dengan andil 0,21 persen. Kenaikan dipengaruhi sejumlah komoditas, seperti bensin, sepeda motor, angkutan laut, pelumas atau oli mesin, ban luar sepeda motor, hingga biaya pemeliharaan dan servis.
“Pada kelompok transportasi, beberapa komoditas memberikan kontribusi terhadap perubahan harga, di antaranya bensin, sepeda motor dan angkutan laut,” jelas Iskandar.
Kelompok Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga juga mencatat inflasi 1,80 persen dengan andil 0,25 persen. Sejumlah material bangunan ikut mengalami kenaikan harga, di antaranya batu bata atau batu tela, besi beton, cat, pasir, semen dan seng.
Sementara itu, kelompok Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan mengalami inflasi 1,87 persen dengan andil 0,10 persen. Telepon seluler menjadi salah satu pendorong dengan andil 0,08 persen, disusul televisi berwarna 0,02 persen.
Kelompok Kesehatan mencatat inflasi 1,36 persen, sedangkan kelompok Pakaian dan Alas Kaki mengalami inflasi 0,32 persen.
Bila dirinci berdasarkan komoditas, emas perhiasan menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,30 persen. Setelah itu daging ayam ras 0,10 persen, beras 0,09 persen, telepon seluler 0,08 persen dan bensin 0,06 persen.
Iskandar mengatakan BPS terus memantau pergerakan harga komoditas yang menjadi dasar penghitungan IHK.
“Kita terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga komoditas yang menjadi bagian dalam penghitungan Indeks Harga Konsumen,” pungkasnya. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







