benuanta.co.id, NUNUKAN – Memasuki usia ke-8 tahun, perjalanan Benuanta mendapat apresiasi dari Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara, Muhammad Nasir, S.Pi., M.M. Ia menilai delapan tahun kiprah Benuanta bukan sekadar perjalanan sebuah perusahaan media, tetapi telah menjadi bagian dari pertumbuhan ruang informasi publik di provinsi termuda Indonesia tersebut.
Benuanta diketahui mulai berkiprah sejak 3 September 2018. Dari awalnya mengembangkan produk koran dan pemberitaan online, media yang berbasis di Kota Tarakan itu terus beradaptasi mengikuti perubahan cara masyarakat memperoleh informasi. Dalam perkembangannya, Benuanta juga merambah podcast dan berbagai kanal media sosial sebagai bagian dari transformasi digitalnya.
Menurut Muhammad Nasir, kemampuan sebuah media lokal bertahan dan terus berkembang selama delapan tahun patut diberikan apresiasi, terlebih industri media saat ini menghadapi perubahan yang sangat cepat.
“Saya menyampaikan selamat HUT ke-8 kepada seluruh keluarga besar Benuanta. Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Ada kerja keras, konsistensi, proses membangun profesionalisme dan yang paling penting adalah bagaimana mempertahankan kepercayaan masyarakat,” ujar Nasir.
Bukan Hanya Memberitakan, Turut Membangun Literasi
Nasir melihat salah satu kiprah penting Benuanta adalah upayanya tidak berhenti pada produksi berita semata. Media ini juga mulai mengambil bagian dalam penguatan budaya literasi di Kalimantan Utara.
Sejak 2024, Benuanta secara konsisten menggelar lomba menulis opini. Pada peringatan HUT ke-8 tahun 2026, kegiatan tersebut bahkan menyasar pelajar SMA/sederajat, mahasiswa hingga unsur kehumasan instansi dan perusahaan se-Kalimantan Utara. Tema yang diangkat pun bersentuhan dengan persoalan aktual, mulai dari perundungan, kecanduan gawai, hoaks, pemanfaatan kecerdasan buatan hingga transparansi komunikasi publik.
Sebelumnya, pada HUT ke-5 tahun 2023, Benuanta juga mengadakan lomba karya jurnalistik bagi wartawan se-Kalimantan Utara. Menurut Nasir, kegiatan-kegiatan seperti itu penting karena media memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar mengejar kecepatan informasi.
“Saya mengapresiasi ketika media ikut membangun budaya membaca, menulis dan berpikir kritis. Ini penting bagi generasi muda Kaltara. Media bukan hanya tempat kita mengetahui apa yang terjadi hari ini, tetapi juga bisa menjadi ruang pendidikan yang membentuk kualitas masyarakat di masa depan,” katanya.
Menjadi Ruang bagi Persoalan Daerah
Nasir juga menilai keberadaan media lokal seperti Benuanta memiliki nilai strategis karena memahami secara dekat persoalan yang berkembang di Kalimantan Utara.
Pemberitaan Benuanta selama ini menjangkau beragam sektor kehidupan masyarakat, mulai dari pemerintahan, ekonomi, pembangunan, hukum dan kriminal, pendidikan, sosial, kebudayaan hingga berbagai persoalan masyarakat di daerah. Situs Benuanta hingga September 2026 masih aktif menerbitkan pemberitaan dari berbagai wilayah Kaltara dan isu pelayanan publik daerah.
Selain berita harian, Benuanta juga menghadirkan tulisan feature yang mengangkat kehidupan masyarakat dan identitas lokal. Beberapa di antaranya mengangkat tenun khas Kalimantan Utara, sejarah Kesultanan Bulungan, kehidupan masyarakat Nunukan, isu disabilitas hingga berbagai kisah sosial dari daerah.
Bagi Nasir, keberadaan media lokal menjadi sangat penting karena tidak semua persoalan daerah memperoleh ruang yang cukup di media nasional.
“Di situlah kekuatan media daerah. Persoalan jalan, pendidikan, ekonomi masyarakat, UMKM, perbatasan, petani, nelayan, pelayanan publik sampai kehidupan masyarakat di pelosok bisa mendapat ruang. Suara masyarakat yang mungkin kecil di tingkat nasional, menjadi besar ketika media lokal konsisten menyuarakannya,” ungkapnya.
Media sebagai Mitra Kritis Pemerintah dan DPRD
Sebagai anggota legislatif, Nasir menegaskan dirinya memandang pers bukan sekadar mitra publikasi pemerintah ataupun DPRD. Media justru harus tetap memiliki jarak kritis terhadap kekuasaan.
Menurutnya, pembangunan daerah membutuhkan pengawasan publik. Dalam konteks tersebut, pemberitaan media dapat menjadi bahan koreksi bagi pemerintah maupun DPRD ketika terdapat pelayanan yang belum maksimal atau kebijakan yang belum menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Kami di DPRD juga membutuhkan media yang kritis. Kalau ada aspirasi masyarakat yang belum ditindaklanjuti, pembangunan yang bermasalah atau pelayanan pemerintah yang belum baik, sampaikan secara objektif. Kritik yang berdasarkan fakta justru diperlukan agar penyelenggaraan pemerintahan semakin baik,” tegas Nasir.
Ia mengingatkan, salah satu kekuatan terbesar pers adalah kepercayaan publik. Karena itu, kecepatan pemberitaan menurutnya harus tetap berjalan bersama akurasi, keberimbangan dan tanggung jawab jurnalistik.
Benuanta sendiri tercatat dalam Survei Data Pers Indonesia 2021 Dewan Pers sebagai salah satu media yang beroperasi di Kalimantan Utara. Dalam pengembangan sumber daya manusia redaksinya, wartawan Benuanta juga rutin mengikuti Uji Kompetensi Wartawan, pada September 2021, empat wartawannya dinyatakan kompeten dalam UKW tingkat muda.
Hingga tahun-tahun berikutnya, sumber daya redaksi Benuanta juga telah dibekali dan mengantongi Sertifikasi Wartawan tingkat muda, madya hingga utama.
Tumbuh dari Kaltara, Memperluas Jangkauan
Perjalanan Benuanta juga menunjukkan perkembangan dari media lokal menuju jaringan yang lebih luas. Pada momentum HUT ke-6 tahun 2024, Benuanta melahirkan Benua Kaltim, yang kemudian mulai membangun eksistensi pemberitaan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pada HUT ke-7 tahun 2025, manajemen Benuanta menyebut pengembangan tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri media digital.
Nasir melihat perkembangan tersebut sebagai sesuatu yang positif sepanjang identitas dan kedekatan Benuanta dengan masyarakat Kalimantan Utara tetap dipertahankan.
“Kita tentu bangga ketika media yang tumbuh dari Kalimantan Utara mampu berkembang dan memperluas jangkauannya. Tetapi saya berharap akar Benuanta sebagai media yang memahami denyut kehidupan masyarakat Kaltara tetap kuat,” tuturnya.
Tema HUT Dinilai Relevan
Pada usia ke-8 tahun ini, Benuanta mengangkat tema “Menjaga Kepercayaan, Menginspirasi Kaltara.” Menurut Nasir, tema tersebut sangat relevan dengan kondisi dunia informasi hari ini. Media sosial telah membuat informasi bergerak dalam hitungan detik, tetapi tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itulah masyarakat tetap membutuhkan institusi pers yang bekerja berdasarkan prinsip verifikasi dan etika jurnalistik.
“Di tengah banjir informasi dan hoaks, yang dicari masyarakat bukan sekadar siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang bisa dipercaya. Saya kira makna ‘Menjaga Kepercayaan’ menjadi sangat penting di sini,” katanya.
Sedangkan semangat “Menginspirasi Kaltara”, menurut Nasir, hendaknya diwujudkan dengan memperbanyak pemberitaan yang tidak hanya menyoroti masalah, tetapi juga menghadirkan solusi, prestasi masyarakat, inovasi anak muda, geliat UMKM, kekayaan budaya hingga berbagai potensi daerah.
Ia berharap Benuanta terus menjaga independensi dan profesionalismenya sekaligus menjadi ruang yang semakin terbuka bagi suara masyarakat.
“Selamat HUT ke-8 Benuanta. Teruslah menjadi media yang dekat dengan masyarakat, berani menyampaikan fakta, kritis terhadap kekuasaan, tetapi tetap konstruktif dalam membangun daerah. Jaga kepercayaan yang telah diberikan pembaca dan teruslah menghadirkan karya-karya yang menginspirasi Kalimantan Utara,” pungkas Muhammad Nasir. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







