Ekspor dari Kaltara Terkendala Kontainer, Barantin Siapkan Opsi

benuanta.co.id, TARAKAN – Aktivitas ekspor komoditas dari Kalimantan Utara masih menghadapi kendala logistik, terutama keterbatasan kontainer khusus ekspor. Kondisi tersebut membuat pengiriman langsung dalam skala besar dari Kaltara belum berjalan optimal.

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, mengatakan persoalan kontainer menjadi salah satu kendala yang disampaikan pelaku usaha dalam pertemuan di Tarakan, Ahad (30/8/2026). Menurutnya, fasilitas kontainer ekspor belum tersedia secara memadai di Kaltara.

“Kalau ekspor langsung itu problemnya sebenarnya di kontainernya,” ungkapnya.

Ia menyebut keterbatasan tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi pelaku usaha yang ingin mengirim komoditas secara langsung ke pasar luar negeri. Selain jumlahnya terbatas, biaya penggunaan kontainer ekspor juga dinilai cukup tinggi.

“Kontainer ekspornya tidak punya di Kalimantan Utara ini,” katanya.

Untuk mencari jalan keluar, Karding mengaku telah membicarakan persoalan tersebut dengan sejumlah kepala daerah di Kaltara. Pembahasan dilakukan bersama Gubernur Kaltara, Wakil Gubernur Kaltara, Bupati Nunukan serta Bupati Bulungan.

Baca Juga :  Kabut Tebal, Pesawat Super Air Jet IU 535 Gagal Mendarat di Bandara Juwata Tarakan

“Saya sudah bicara dengan Pak Gubernur Wakil Gubernur Kaltara, Bupati Nunukan serta Bupati Bulungan,” paparnya.

Salah satu opsi yang muncul adalah memanfaatkan kontainer umum untuk membawa komoditas terlebih dahulu ke wilayah yang memiliki fasilitas ekspor lebih lengkap. Setelah sampai di Surabaya, barang kemudian dapat dimasukkan ke kontainer ekspor sebelum diteruskan menuju negara tujuan.

“Mungkin solusinya pakai kontainer biasa saja, nanti dibawa misalnya ke Surabaya, nanti di Surabaya dimasukin,” jelasnya.

Menurut Karding, skema tersebut dapat menjadi alternatif sementara untuk mengatasi tingginya biaya kontainer ekspor sekaligus keterbatasan fasilitas di daerah. Ia menilai persoalan logistik perlu segera dicarikan solusi karena berkaitan langsung dengan kelancaran perdagangan komoditas dari wilayah perbatasan.

Baca Juga :  Urai Kemacetan, Dishub Kaltara Tertibkan Antrean Kendaraan di SPBU Sengkawit

“Intinya kita cari solusi dan akan terus berkoordinasi demi kelancaran arus perdagangan di wilayah perbatasan,” ucapnya.

Karding memastikan dari sisi perizinan Karantina tidak menjadi hambatan bagi pengiriman komoditas ekspor. Menurutnya, persoalan yang perlu dicari jalan keluarnya saat ini lebih banyak berkaitan dengan dukungan logistik, khususnya ketersediaan kontainer.

“Kalau dari perizinan, saya jamin dari Karantina aman,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait dapat menemukan skema logistik yang lebih efisien sehingga komoditas dari Kaltara tidak harus menanggung biaya tambahan yang terlalu besar untuk mencapai pasar internasional.

“Karena mahal kontainer ekspor itu,” tukasnya.

Di sisi lain, pelaku eksportir Adit mengatakan pengiriman komoditas perikanan saat ini memang masih dilakukan menggunakan jalur udara. Cara tersebut dipilih karena pengiriman dengan kontainer belum dapat dilakukan untuk kebutuhan dalam skala besar.

Baca Juga :  KKB 2026 Dorong UMKM Kaltara Naik Kelas dan Tembus Pasar Luar Daerah

“Kami pakai pesawat. Kalau pakai kontainer belum bisa karena skala besar itu,” tuturnya.

Adit menyebut kegiatan ekspor ikan yang dilakukannya telah kembali berjalan sekitar tiga minggu terakhir. Komoditas tersebut dikirim ke sejumlah negara tujuan, termasuk Hongkong dan Singapura.

“Negara tujuan ekspor ada Hongkong dan Singapura,” katanya.

Menurut Adit, terbukanya kembali aktivitas ekspor menjadi kabar positif bagi pelaku usaha. Namun, persoalan moda pengiriman masih menjadi tantangan yang perlu diselesaikan agar kapasitas ekspor dapat ditingkatkan.

“Alhamdulillah sekarang, dari Karantina sama Balai Mutu sudah sinergi, jadi kita enak pengajuannya,” ungkapnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *