benuanta.co.id, TARAKAN – Bandara Juwata Tarakan mulai mempercepat kesiapan fasilitas dan prosedur untuk mendukung kembali operasional penerbangan internasional berjadwal. Upaya ini dilakukan setelah status Bandara Juwata kembali ditetapkan sebagai bandara internasional melalui peraturan menteri terbaru.
Salah satu rute yang dipersiapkan adalah Berau–Tarakan–Tawau yang direncanakan dilayani Wings Air dengan frekuensi awal tiga kali dalam sepekan menggunakan pesawat ATR 72. Namun, penerbangan perdana yang sebelumnya direncanakan pada 1 September 2026 masih tertunda karena proses perizinan rute.
Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Juwata Tarakan, Fahrudin Rahmad, mengatakan rapat lintas instansi dilakukan untuk memastikan berbagai kebutuhan operasional penerbangan internasional dapat segera dipenuhi.
“Rapat membahas percepatan kesiapan Bandara Juwata Tarakan sebagai bandara internasional untuk operasional penerbangan penumpang berjadwal,” ujarnya dalam pembahasan kesiapan operasional bandara.
Menurutnya, kesiapan tidak hanya menyangkut fasilitas fisik, tetapi juga alur penumpang serta prosedur Customs, Immigration, and Quarantine (CIQ).
Pada area keberangkatan, alur penumpang akan dimulai dari check-in, Security Check Point (SCP), pemeriksaan imigrasi, ruang tunggu internasional hingga boarding gate. Sejumlah kebutuhan imigrasi masih harus disiapkan, termasuk ruang pemeriksaan khusus dan penyesuaian meja untuk mendukung sistem face recognition.
Ruang kantor imigrasi berukuran 3×6 meter juga direncanakan dibagi menjadi tiga sekat untuk kebutuhan Secondary Inspection, Passenger Analysis Unit atau analisis face recognition, serta ruang pengaduan. Penataan alur menjadi perhatian karena potensi kepadatan antrean tetap ada, terutama ketika penumpang datang dalam satu rombongan.
Di sisi keamanan, bandara perlu menyiapkan ruang pemeriksaan khusus SCP sekaligus memastikan keberadaan X-Ray cadangan. Peralatan tersebut disiapkan sebagai back-up apabila X-Ray utama mengalami gangguan.
Kemampuan pemeriksaan secara manual juga harus dipastikan.
Sementara Bea Cukai dan Karantina akan ditempatkan untuk melakukan monitoring di area keberangkatan dan membutuhkan tambahan meja serta kursi untuk mendukung koordinasi dengan petugas Avsec.
Kesiapan fasilitas pendukung juga mencakup check-in counter 1 dan 2 yang direncanakan digunakan Wings Air. Kedua counter tersebut masih memerlukan penambahan atau perbaikan peralatan, termasuk memastikan ketersediaan listrik serta jaringan Wi-Fi/LAN untuk mendukung sistem operasional secara daring.
Pada area kedatangan internasional, diperlukan area transisi tertutup setelah penumpang turun dari pesawat. Area tersebut akan mencakup fasilitas Visa on Arrival (VOA), area aklimatisasi dan thermal scanner untuk pemeriksaan suhu oleh petugas karantina kesehatan.
“Penumpang yang memiliki suhu tubuh di atas normal akan diarahkan terlebih dahulu ke ruang observasi karantina sebelum melanjutkan proses pemeriksaan,” ungkapnya.
Selanjutnya, penumpang diarahkan menuju area pengambilan bagasi, imigrasi, Bea Cukai dan karantina. Bea Cukai membutuhkan meja, kursi, listrik, jaringan serta CCTV yang merekam secara berkesinambungan sejak penumpang tiba hingga keluar dari area pabean.
Penetapan kawasan pabean juga menjadi bagian penting dalam persiapan. Dalam pembahasan, terdapat kesepakatan sementara untuk menetapkan seluruh area airside sebagai kawasan pabean.
Keterbatasan fasilitas turut menjadi perhatian, salah satunya hanya tersedianya satu X-Ray untuk pemeriksaan bagasi tercatat domestik dan internasional. Untuk memudahkan identifikasi, bagasi internasional akan diberi pita atau tanda khusus oleh maskapai sehingga dapat dibedakan oleh ground handling.
Untuk karantina kesehatan, tiga ruangan yang tersedia direncanakan digabung menjadi satu area yang lebih luas dengan menggunakan tirai portabel. Badan Karantina Indonesia juga akan dilibatkan dalam penanganan produk pertanian dan hewan yang berkaitan dengan penerbangan internasional.
Selain itu, toilet dan kamar mandi di area kedatangan harus berada di luar area clearance. Kaca pada area kedatangan internasional juga perlu diberi sandblast atau film privasi.
Fahruddin menyebut percepatan kesiapan dilakukan dengan memprioritaskan pemenuhan persyaratan yang bersifat mandatori sekaligus menyiapkan mitigasi terhadap fasilitas yang masih memiliki keterbatasan.
“Prioritas utama bukan hanya penyempurnaan seluruh fasilitas, tetapi terlebih dahulu memastikan terpenuhinya persyaratan regulasi yang bersifat mandatori serta tersedianya mitigasi operasional untuk kekurangan yang masih ada,” terangnya.
Sebagai tindak lanjut, seluruh pihak akan melakukan tinjauan lapangan, pengukuran langsung, penataan ruang, serta memastikan kesiapan petugas dan fasilitas pendukung. Koordinasi intensif antarinstansi ditargetkan dapat memenuhi kebutuhan utama dalam waktu sekitar satu hingga dua minggu, menyesuaikan dengan proses perizinan rute penerbangan.
Artinya, meski status internasional Bandara Juwata telah kembali, pekerjaan rumah menuju operasional penerbangan internasional berjadwal masih cukup besar. Kesiapan fasilitas, prosedur CIQ, keamanan, personel hingga perizinan rute harus dipastikan sebelum penerbangan perdana benar-benar dapat direalisasikan. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







