Kermanpour melalui sebuah unggahan di platform media sosial X, Kamis, menyampaikan korban tersebut merupakan jumlah dalam periode antara malam 30 Agustus hingga 2 September.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 61 orang merupakan perempuan dan 44 berusia di bawah 18 tahun. Sementara itu, dua perempuan dan satu anak termasuk di antara korban tewas.
“Di balik setiap angka terdapat seorang manusia dan sebuah keluarga,” kata Kermanpour.
Perkembangan tersebut terjadi di tengah kembali meningkatnya eskalasi militer setelah serangan AS terhadap Pulau Larak pada Minggu, yang mengakhiri jeda selama sekitar satu bulan dalam permusuhan di kawasan.
Washington mengatakan pasukan Amerika Serikat menargetkan dua peluncur milik Iran setelah mengamati persiapan untuk mengerahkan roket yang membawa ranjau laut.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang fasilitas militer AS di sejumlah negara tetangga, termasuk Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, dan Irak.
Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer Amerika di Timur Tengah, melancarkan serangan udara terbaru terhadap target-target IRGC di dalam wilayah Iran pada Selasa malam (1/9).
Pertempuran terbaru ini terjadi setelah runtuhnya nota kesepahaman 18 Juni 2026 yang bertujuan mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz. Adapun bentrok kembali pecah pada Juli setelah adanya perbedaan pendapat terkait implementasinya.
Sumber: Anadolu / Antara







