benuanta.co.id, TARAKAN – Kebutuhan telur ayam di Kalimantan Utara (Kaltara) masih jauh dari mampu dipenuhi peternak lokal. Dari estimasi kebutuhan mencapai sekitar 25.685 ton per tahun, produksi telur daerah saat ini baru berada di angka 2.279 ton.
Artinya, Kaltara masih mengalami defisit sekitar 22.481 ton dan harus mendatangkan sebagian besar kebutuhan telur dari luar daerah.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kaltara, Suryanto Samuel Taro, mengatakan ketergantungan pasokan dari luar daerah saat ini masih mencapai sekitar 70 persen.
“Kalau ditarik ke kebijakan pemerintah provinsi, kita tahu bahwa kebutuhan telur dan daging ayam kita masih bergantung dari luar sekitar 70 persen,” ujarnya.
Menurutnya, kebutuhan tersebut tidak hanya berasal dari rumah tangga. Kebutuhan nonrumah tangga, seperti hotel, restoran, kafe, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG), turut meningkatkan permintaan telur di Kaltara.
Untuk kebutuhan rumah tangga pada 2025 diperkirakan mencapai 6.621 ton. Sementara kebutuhan nonrumah tangga ditambah MBG mencapai 14.410 ton.
Dengan kondisi tersebut, pasokan telur dari luar daerah yang masih diperlukan diperkirakan mencapai sekitar 18.888 ton.
Suryanto menyebut pemerintah daerah telah mulai mendorong penambahan populasi ayam petelur melalui bantuan kepada kelompok ternak. Pada 2024 hingga 2025, pemerintah provinsi telah membantu delapan kandang yang dikelola empat kelompok peternak.
Hasil produksi dari kelompok tersebut bahkan mulai diserap oleh sejumlah dapur MBG di Bulungan. Namun, mengejar kemandirian telur tidak cukup hanya dengan menambah kandang. Pemerintah juga harus berhadapan dengan tingginya biaya produksi, terutama harga pakan.
Harga pakan yang masuk ke Kaltara dari Makassar dan Surabaya, kata Suryanto, jika dikonversi mencapai sekitar Rp10 ribu hingga Rp11 ribu per kilogram.
“Kalau BBM bisa satu harga, apakah pakan peternakan juga bisa dibuat satu harga?” terangnya.
Di sisi lain, Koordinator PPL Kementerian Pertanian di Tarakan, Hari Suryanto, mengatakan minat masyarakat untuk beternak ayam petelur sebenarnya cukup tinggi. Persoalannya, keterbatasan anggaran membuat tidak semua calon peternak dapat memperoleh bantuan.
Selain bantuan pakan dan bibit, penerima bantuan juga mulai diarahkan untuk memproduksi bahan pakan sendiri. Di Tarakan, kelompok penerima bantuan diwajibkan menanam jagung pipil sebagai pakan tambahan.
“Walaupun belum bisa menggantikan pakan utama secara 100 persen, setidaknya sudah ada kontribusi bahan pakan lokal,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kaltara, Jufri Budiman, menilai ketergantungan pasokan telur dari luar daerah harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Menurutnya, pengembangan peternakan perlu dirancang berbasis potensi masing-masing desa. Ada wilayah yang dapat difokuskan untuk produksi telur, sementara wilayah lainnya dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pakan.
“Tidak bisa kita terus mengandalkan pasokan luar, apalagi untuk mendukung program strategis Presiden yaitu Makan Bergizi Gratis,” tegasnya.
Guna mengejar kebutuhan sekitar 25 ribu ton per tahun, Suryanto menyebut Kaltara membutuhkan penambahan populasi sekitar 1,2 juta ekor ayam petelur secara bertahap. Target tersebut dinilai menjadi salah satu kunci agar ketergantungan Kaltara terhadap pasokan telur dari luar daerah dapat ditekan. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







