benuanta.co.id, TARAKAN – Harga telur di Pasar Gusher Tarakan perlahan mulai kembali naik setelah sempat mengalami penurunan tajam. Namun, perubahan harga tersebut belum mampu mengembalikan geliat perdagangan seperti sebelumnya.
Bagi pedagang telur, persoalan utama saat ini bukan sekadar harga komoditas, melainkan semakin lemahnya daya beli masyarakat. Kondisi itu terlihat dari penurunan volume penjualan yang cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu pedagang telur di Pasar Gusher, Ahmad Yani, mengatakan sebelum pandemi COVID-19, dagangannya dapat terjual hingga sekitar 150 piring telur dalam sehari. Kini, jumlah tersebut merosot menjadi sekitar 50 piring per hari.
“Dulu bisa sampai 150 piring sehari. Sekarang paling sekitar 50 piring,” ujarnya.
Penurunan transaksi tersebut turut berdampak langsung terhadap omzet pedagang. Jika sebelumnya dalam kondisi pasar sepi omzet masih dapat mencapai sekitar Rp5 juta sehari, kini pendapatannya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa perputaran uang di masyarakat belum kembali seperti sebelumnya. Bahkan ketika harga telur turun, jumlah pembeli justru ikut berkurang.
“Telur jatuh, pembeli juga jatuh. Sampai banyak yang busuk-busuk, telur dibuang,” ungkapnya.
Saat ini harga telur ukuran sedang di lapaknya berada di kisaran Rp55 ribu hingga Rp57 ribu per piring, sedangkan ukuran besar sekitar Rp60 ribu per piring. Harga tersebut mulai mengalami kenaikan, meski menurut Ahmad masih tergolong terjangkau.
Namun, harga yang lebih murah sebelumnya ternyata tidak serta-merta mendorong masyarakat meningkatkan pembelian.
Ahmad yang telah sekitar 10 tahun berjualan telur mengaku kondisi tersebut menjadi salah satu situasi paling berat yang pernah ia rasakan. Menurutnya, pedagang kebutuhan pokok sangat bergantung pada tingkat konsumsi masyarakat.
“Kalau pasarnya sepi, bagaimana kira-kira? Ini kebutuhan pokok, tiap hari orang makan,” tuturnya.
Sepinya pembeli juga menimbulkan persoalan baru bagi pedagang karena telur merupakan komoditas yang memiliki batas kualitas. Ahmad mengatakan telur yang tersimpan lebih dari sekitar satu minggu mulai mengalami penurunan kualitas.
Akibat lambatnya perputaran barang, sebagian stok akhirnya tidak terserap pasar. Telur yang masih layak konsumsi terkadang diberikan kepada orang lain, sementara telur yang sudah rusak harus dibuang.
“Sudah tidak kembali modal. Yang masih bisa dimakan saya kasih orang. Yang sudah hitam betul, yang bau, kalau dikasih orang pun buang di tempat sampah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat pedagang menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus. Di satu sisi, harga komoditas mengalami perubahan, sementara di sisi lain kemampuan masyarakat untuk membeli justru menurun.
Ahmad berharap kondisi ekonomi masyarakat dapat segera membaik sehingga aktivitas perdagangan di pasar kembali bergerak. Sebab, menurutnya, kestabilan harga saja belum cukup untuk membuat pedagang bertahan jika tidak diikuti peningkatan transaksi.
“Ya bagaimana bisa orang rakyat-rakyat semuanya dapat uang, ya bisa belanja juga,” terangnya.
Bagi Ahmad, kondisi Pasar Gusher tidak hanya menggambarkan aktivitas jual beli pedagang dan pembeli. Ramai atau sepinya pasar juga menjadi indikator sederhana mengenai seberapa kuat daya beli masyarakat dan seberapa lancar uang berputar di tingkat bawah.
“Pokoknya kecewa lah, kecewa sama ekonomi,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







