benuanta.co.id, TARAKAN – Gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat ternyata dapat ikut memengaruhi gambaran kondisi kesejahteraan yang tercermin dalam desil. Di Kalimantan Utara (Kaltara), fenomena ‘kumpaunomic’ disebut membuat sebagian masyarakat cenderung menunjukkan kemampuan konsumsi di atas kondisi ekonomi riilnya.
Kondisi tersebut menjadi sorotan Wakil Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Kalimantan Utara sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si. Menurutnya, fenomena tersebut berkaitan dengan pola konsumsi yang dalam pemotretan kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat menjadi salah satu gambaran untuk membaca tingkat kesejahteraan.
“Fenomena ini berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat yang dalam pemotretan kondisi sosial ekonomi dapat menjadi salah satu gambaran untuk melihat tingkat kesejahteraan,” ungkapnya, Kamis (3/9/2026).
Dr. Margiyono mengatakan pergerakan desil tidak hanya mungkin terjadi pada kelompok desil 9 dan 10, tetapi juga dapat terjadi pada kelompok desil lainnya. “Berkaitan dengan polemik pergeseran atau pergerakan atau dinamika di Desil 9 dan 10, mungkin juga memungkinkan terjadi pergerakan di desil-desil yang lain,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi kesejahteraan masyarakat tidak cukup dilihat hanya dari besaran pendapatan. Salah satu ukuran yang lebih relevan adalah pendapatan siap dibelanjakan atau disposable income, yakni pendapatan setelah memperhitungkan bantuan, tunjangan, subsidi atau hibah yang diterima serta pajak yang dibayarkan.
“Pendapatan yang siap dibelanjakan itu terdiri dari pendapatan yang ia terima, ditambah pendapatan bantuan atau tunjangan atau subsidi atau hibah dari pihak mana pun, kemudian dikurangi pajak,” katanya.
Di sisi lain, Dr. Margiyono memahami adanya pendekatan tertentu yang digunakan dalam memotret kondisi ekonomi masyarakat. Pendapatan dinilai menjadi informasi yang sensitif sehingga tidak selalu mudah diperoleh secara akurat melalui pengakuan langsung responden.
“Jarang sekali seseorang ketika ditanya pendapatan dia akan menyatakan besarnya pendapatannya dengan jumlah nominal tertentu,” bebernya.
Karena itu, kondisi ekonomi masyarakat juga dapat dilihat melalui pola pengeluaran. Barang yang dibeli, jumlah hingga kualitas barang yang dikonsumsi dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan ekonomi seseorang.
“Untuk mengetahui pendapatan seseorang maka sejatinya kita bisa melihat tempat sampahnya,” ujarnya.
Menurutnya, pola konsumsi tersebut dapat memberikan gambaran berbeda antara kelompok masyarakat. Barang yang dibeli, merek, jumlah serta jenis kebutuhan yang dikonsumsi menjadi bagian dari informasi yang dapat digunakan untuk membaca kondisi ekonomi.
“Yang ditanyakan adalah berapa atau apakah yang ia beli, apakah yang ia beli, berapa dia beli,” tuturnya.
Namun, persoalan menjadi lebih kompleks ketika pola konsumsi tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan ekonomi riil. Di Kaltara, khususnya Tarakan, Margiyono melihat adanya fenomena sosial yang ia sebut sebagai ‘kumpaunomic’.
“Masyarakat Kaltara itu atau Tarakan sering kita dengar dengan istilah kumpau. Kalau saya menyatakan, ada fenomena kumpaunomic,” terangnya.
Ia menjelaskan, fenomena tersebut berkaitan dengan konsep demonstration effect, ketika seseorang terdorong menunjukkan kemampuan untuk mengikuti pola konsumsi kelompok yang dianggap memiliki kelas ekonomi lebih tinggi. Sederhananya, seseorang terdorong mengonsumsi barang atau menggunakan layanan yang sama setelah melihat orang lain mampu melakukannya.
“Kalau kamu bisa makan di kafe tertentu dengan kelas tertentu, maka saya juga sama,” imbuhnya.
Menurut Dr. Margiyono, pola semacam itu bukan fenomena yang sepenuhnya baru. Ia mengingat kondisi sejak era 1990-an ketika terdapat masyarakat dengan pekerjaan sederhana tetapi mampu menunjukkan gaya hidup yang relatif tinggi. Pola tersebut, kata dia, terus berkembang hingga sekarang dengan bentuk yang semakin beragam. Masyarakat yang secara ekonomi sebenarnya biasa saja atau bahkan berada di bawah dapat memiliki gaya hidup yang sama dengan kelompok masyarakat yang secara riil lebih sejahtera.
“Masyarakat tertentu yang sebenarnya secara ekonomi biasa-biasa saja atau justru agak ke bawah, gaya hidupnya sama dengan atau di atas masyarakat yang kesejahteraannya secara riil lebih tinggi,” lanjutnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan ketika pola konsumsi digunakan sebagai salah satu cara untuk membaca kondisi sosial ekonomi. Sebab, masyarakat dapat memiliki pola konsumsi yang terlihat tinggi meskipun aset dan sumber daya ekonominya relatif terbatas.
“Pertanyaannya juga sama, apa yang dia beli, misalnya sabun yang dia beli berapa banyak, mereknya apa, kosmetik yang dia beli mereknya apa dan berapa banyak,” sebutnya.
Kesamaan pola konsumsi antara masyarakat dengan kondisi ekonomi berbeda, lanjutnya, berpotensi membuat gambaran kesejahteraan seseorang terlihat lebih tinggi dibandingkan kondisi aset yang sebenarnya. Bahkan, seseorang yang memiliki rumah sederhana atau aset terbatas dapat berada pada posisi desil yang lebih tinggi apabila pola konsumsinya menunjukkan kemampuan ekonomi yang besar.
“Perilaku konsumsi yang tinggi atau fenomena kumpaunomic tadi akhirnya melemparkan desil yang rendah menjadi desil yang tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi salah satu penjelasan mengapa terdapat masyarakat yang merasa dirinya tidak terlalu kaya, tetapi justru berada pada kelompok desil tinggi. Ia menegaskan, konsumsi memang dapat menjadi salah satu indikator dalam membaca kondisi ekonomi, tetapi harus dipahami bersama indikator lainnya.
“Indikator tentang konsumsi yang tinggi itulah menjelaskan tentang golongan atau desil yang tinggi pula,” tegasnya.
Karena itu, Dr. Margiyono mengingatkan masyarakat untuk memberikan informasi secara jujur ketika mengikuti pendataan maupun survei sosial ekonomi. Kejujuran responden dinilai penting karena informasi yang diberikan akan memengaruhi hasil pemotretan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Setiap kita itu harus menerima jujur, menjawab jujur dengan apa yang kita alami dan apa yang juga kita lakukan,” katanya.
Ia menambahkan, pola konsumsi yang tinggi dan tidak sejalan dengan aset maupun sumber daya yang dimiliki juga dapat membuat posisi desil menjadi lebih dinamis.
“Dengan pola konsumsi yang tinggi itu tentu mengakibatkan pergerakan desil menjadi lebih dinamis dibandingkan yang sebenarnya,” tambahnya.
Meski demikian, Dr. Margiyono tidak melihat tingginya konsumsi semata-mata sebagai sesuatu yang negatif. Konsumsi masyarakat tetap memiliki peran dalam menggerakkan aktivitas ekonomi daerah.
“Konsumsi yang tinggi itu menggerakkan produktivitas yang tinggi sehingga kota kita menjadi riuh,” jelasnya.
Ia menggambarkan kondisi tersebut melalui aktivitas ekonomi yang terlihat dari ramainya kafe, warung hingga jalan-jalan di perkotaan. Ketika berbagai kelompok masyarakat melakukan konsumsi, perputaran uang di tingkat lokal juga ikut bergerak.
“Kafe-kafe di mana-mana penuh, warung-warung di mana-mana penuh, jalan-jalan penuh,” ujarnya.
Namun, persoalannya muncul ketika konsumsi lebih banyak diarahkan untuk memenuhi gaya hidup dan menunjukkan status sosial, bukan untuk memperkuat kondisi ekonomi dalam jangka panjang.
“Ada pola perilaku konsumsi yang konsumtif, yang demonstration effect, dan juga yang kumpau. Ini mengakibatkan kelas seseorang menjadi dianggap lebih kaya dibandingkan yang lain,” tuturnya.
Karena itu, Dr. Margiyono mendorong adanya perubahan perilaku masyarakat secara bertahap, dari konsumtif menuju produktif. Menurutnya, uang yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup dapat mulai dialihkan menjadi tabungan dan kemudian investasi.
“Tidak perlu kita demonstration, tidak perlu kita kumpau, tidak perlu kita konsumtif, tetapi uang yang tadinya kita belanjakan dalam bentuk konsumtif tadi kita arahkan kepada penggunaan uang secara produktif,” tegasnya.
Ia menyarankan masyarakat dengan pendapatan terbatas mulai mengendalikan pengeluaran dan membangun kebiasaan menabung. Tabungan tersebut selanjutnya dapat diarahkan menjadi investasi yang menghasilkan aset dan memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
“Belanja yang biasa-biasa saja, merek yang biasa-biasa saja, kemudian uang yang ia miliki ditabung menjadi saving, ketika menjadi saving maka pada saatnya akan melakukan investasi,” sarannya.
Menurutnya, perubahan tersebut akan membuat peningkatan kesejahteraan tidak sekadar terlihat dari tingginya konsumsi, tetapi mulai ditopang oleh kepemilikan aset.
“Desil yang didorong oleh kebiasaan ia menabung, kebiasaan ia melakukan investasi, dan jumlah aset yang ia miliki,” ujarnya.
Dr. Margiyono mencontohkan, kemampuan ekonomi yang sebelumnya digunakan untuk konsumsi dapat dialihkan untuk membangun aset produktif, seperti rumah yang dapat disewakan, rumah kos maupun kendaraan yang dapat menghasilkan pendapatan.
“Alangkah baiknya masyarakat yang tadi konsumsi menjadi lebih agak sedikit hemat sehingga dia memiliki rumah yang lebih bagus, rumah kos, rumah sewaan, atau memiliki kendaraan yang bisa disewakan,” paparnya.
Menurutnya, aset produktif memiliki keunggulan karena dapat menghasilkan pendapatan secara berulang. Hal ini berbeda dengan konsumsi yang manfaat ekonominya cenderung bersifat sesaat.
“Kepemilikan aset ini akan mendorong tingkat kesejahteraan yang lebih baik dan akan meningkatkan daya beli masyarakat secara lebih permanen,” katanya.
Pendapatan yang berasal dari aset tersebut nantinya juga dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan demikian, peningkatan kesejahteraan tidak hanya bersumber dari pendapatan utama maupun bantuan dan subsidi yang diterima.
“Selain pendapatannya, selain transfer atau subsidi yang ia terima, maka ada pendapatan aset atau pendapatan dari kapital yang ia miliki,” ujarnya.
Dr. Margiyono menilai transformasi dari perilaku konsumtif menuju produktif pada akhirnya dapat membuat peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi lebih nyata dan berkelanjutan. Menurutnya, masyarakat tidak perlu mengejar citra kesejahteraan melalui pola konsumsi, tetapi membangun kesejahteraan melalui tabungan, investasi dan kepemilikan aset produktif.
“Desil yang ia terima atau positioning desil nyata-nyata menjadi lebih permanen, lebih real, dan lebih berkelanjutan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







