Masih Terbakar, Sumber Bara di Jalan Pantai Amal Belum Terdeteksi

Tarakan5 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Tarakan belum dapat memastikan waktu penyelesaian penanganan batu bara yang masih terbakar di bawah badan jalan kawasan Pantai Amal. Kondisi tersebut disebabkan sumber bara di bawah tanah belum dapat dipetakan secara menyeluruh.

Kepala DPUPR Kota Tarakan, Fandariansyah mengatakan, pihaknya telah melakukan penggalian sekitar 8 meter berdasarkan arahan awal hasil koordinasi dengan sejumlah pihak. Namun, setelah tanah dibuka, batu bara masih ditemukan dalam kondisi membara di bagian yang lebih dalam.

“Sudah kita gali dan sudah kita lubangi sekian dalam, sekian lebar. Nah, sekarang setelah dibuka sekian lebar, sekian dalam itu, ternyata batu bara belum mati juga, masih membara,” ujarnya, Senin (31/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat DPUPR tidak dapat bekerja hanya mengandalkan kemampuan alat berat. Penggalian memang dapat dilakukan untuk membuka permukaan tanah, tetapi belum dapat memastikan keberadaan batu bara yang terbakar di lapisan bawah.

Baca Juga :  DPRD Soroti Celah Pengawasan Aplikator Ojol di Tarakan, Pemda Tak Punya Wewenang Cabut Izin

Oleh karena itu, pihaknya kini membutuhkan tenaga ahli serta peralatan khusus untuk mendeteksi keberadaan batu bara yang masih terbakar di bawah permukaan tanah.

“Sekarang kita terus terang tidak punya kemampuan yang cukup untuk mendeteksi itu, sehingga kita perlu expert, kemampuan teman-teman yang memang membidanginya,” ungkapnya.

Dirinya menyebut, alat untuk mendeteksi kondisi batu bara hingga ke bagian bawah tanah kemungkinan dimiliki oleh perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan. Selain itu, koordinasi dilakukan dengan sejumlah pihak, di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pertamina, Medco dan Sucofindo.

Menurutnya, langkah pendeteksian sangat diperlukan sebelum menentukan metode penanganan berikutnya. Sebab, jika hanya mengandalkan penggalian, sumber batu bara yang berada lebih dalam masih sulit dijangkau.

“Enggak bisa kalau PU saja. Gali-gali aja enggak bisa. PU bisanya gali-gali aja. Sama BPBD. Yang mengetahui di bawah dalam bumi itu enggak ada. Kita tidak ada kemampuannya untuk itu,” tegasnya.

Baca Juga :  Kabut Asap Selimuti Tarakan, Aktivitas Laut dan Penerbangan Diminta Waspadai Jarak Pandang

Ia mengatakan, evaluasi terhadap penanganan sebelumnya telah dilakukan. Penggalian yang dilakukan DPUPR merupakan tindak lanjut dari arahan yang diberikan saat koordinasi awal di lapangan. Namun, hasilnya menunjukkan langkah tersebut belum cukup untuk memastikan seluruh bara batu bara padam.

“Nah, sekarang advice-nya ke depan ini kita perlu advice lanjutan. Ini sudah kita lakukan seperti yang disarankan kemarin. Ternyata yang disarankan belum cukup kuat untuk memadamkan batu bara,” jelasnya.

Sambil menunggu arahan lanjutan dari pihak yang memiliki kompetensi, pendinginan di lokasi tetap dilakukan melalui penyiraman. Sejumlah pihak turut terlibat dalam upaya tersebut.

Fandariansyah juga belum dapat memberikan estimasi kapan penanganan akan rampung. Menurutnya, pemerintah masih harus mengetahui terlebih dahulu seberapa dalam dan seberapa banyak batu bara yang masih terbakar di bawah tanah.

Baca Juga :  Mobilitas Ojol Didorong Jadi Sumber Informasi Kamtibmas

“Belum tahu kita terus terang. Karena kita belum bisa memprediksi berapa konsentrat batu bara yang di dalam bumi ada berapa banyak,” bebernya.

Di sisi lain, DPUPR memastikan akses masyarakat tetap menjadi perhatian selama proses penanganan berlangsung. Jalan yang terdampak telah dialihkan melalui jalur yang sebelumnya dibuka dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).

Jalur tersebut memiliki lebar sekitar 8 hingga 10 meter dan saat ini masih berupa agregat, namun telah dapat dilalui berbagai jenis kendaraan, termasuk truk dan bus.

“Yang penting hajat hidup orang banyak di sana bisa kita lakukan. Bagaimana masyarakat bisa melewati seperti biasa. Yang penting kita kerjakan dulu,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *