Digali hingga 8 Meter, Batu Bara di Jalan Pantai Amal Lama Masih Membara

Tarakan16 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Upaya penanganan kebakaran batu bara di bawah badan jalan Pantai Amal Lama, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, belum sepenuhnya membuahkan hasil. Meski Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Tarakan telah melakukan penggalian hingga kedalaman sekitar 8 meter, batu bara yang berada di bawah tanah masih ditemukan dalam kondisi membara.

Berdasarkan pantauan benuanta.co.id, titik lokasi batu bara masih berasap dan mengeluarkan hawa panas dan tumbuhan sekitar batu bara mulai mengering. Bahkan garis polisi pun masih terpasang, tidak ada masyarakat yang melintas selain para pekerja yang melakukan penggalian.

Kepala DPUPR Kota Tarakan, Fandariansyah mengatakan, penggalian dilakukan untuk membuka sekaligus melokalisir titik batu bara yang terbakar. Penggalian dilakukan dari arah Pantai Amal hingga menuju sisi jalan ke arah Universitas Borneo Tarakan (UBT).

“Dari kita sudah melakukan penggalian. Jadi penggalian baik ke arah Pantai Amal, ke pantai, terus satu sisinya ke arah UBT. Itu lebih kurang dalamnya sekitar 8 meter,” ujarnya.

Baca Juga :  Kualitas Udara Memburuk, Disdik Tarakan Siapkan Opsi Belajar Daring

Menurutnya, area yang telah digali memiliki panjang sekitar 20 hingga 30 meter dengan lebar kurang lebih selebar badan jalan, yakni sekitar 8 meter atau bahkan lebih.

Lokasi tersebut kemudian dilokalisir agar sumber bara yang berada di bawah permukaan tidak terus merambat ke area tanah di sekitarnya. Namun, hasil penggalian justru menunjukkan batu bara yang terbakar tidak berhenti pada kedalaman tersebut. Material batu bara masih ditemukan lebih dalam dan berpotensi membentuk rongga di bawah tanah.

“Batu bara ternyata tidak putus sampai di situ. Batu bara masuk ke dalam tanah lagi, ke dalam, ke bawah, dan itu bikin rongga,” ungkapnya.

Kondisi itu menjadi persoalan baru bagi DPUPR. Sebab, kemampuan alat berat yang digunakan untuk melakukan penggalian tidak dapat menjangkau sumber bara yang berada lebih dalam.

Baca Juga :  Kabut Asap Karhutla Pengaruhi Proses Pembentukan Awan di Tarakan

Ia membeberkan, pihaknya membutuhkan dukungan dari instansi maupun perusahaan yang memiliki kemampuan mendeteksi keberadaan batu bara di bawah tanah. Koordinasi pun dilakukan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pertamina, Medco, Sucofindo dan pihak terkait lainnya.

Menurutnya, pendeteksian diperlukan agar langkah penanganan yang dilakukan tidak keliru dan benar-benar dapat memadamkan sumber bara.

“Perlu expert, kemampuan teman-teman yang memang membidanginya. Mendeteksi batu bara sampai ke bawah itu ada alat khusus yang mungkin dimiliki oleh perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan,” jelasnya.

Ia menerangkan, penggalian hingga kedalaman sekitar 8 meter tersebut dilakukan berdasarkan arahan awal dari pihak-pihak yang sebelumnya berkoordinasi di lapangan.

Saat itu, DPUPR diminta membuka dan mengupas bagian tanah untuk mengetahui kondisi batu bara yang berada di bawah badan jalan. Namun setelah dilakukan penggalian sesuai kemampuan alat berat, batu bara ternyata masih lebih dalam dari perkiraan awal.

Baca Juga :  Harga Cabai di Pasar Gusher Tarakan Tembus Rp80 Ribu per Kg, Tomat dan Terong Justru Turun

“Kita belum mendapat data yang rigid kemarin berapa dalamnya. Advice-nya tolong dibuka, dikupas, dibongkar. Sudah kita kupas sepanjang kemampuan alat berat kita, lebih kurang 8 meter. Ternyata batu baranya masih lebih dalam lagi dari prediksi kita,” ungkapnya.

Untuk sementara, pendinginan masih dilakukan dengan penyiraman air secara berkala. Upaya tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh sejumlah pihak.

“Kolaborasilah dari BPBD, Kolakar, PDAM, saya lihat ada beberapa teman-teman lainnya ikut berkontribusi untuk menyiram di situ,” tuturnya.

Fandariansyah menegaskan, pihaknya belum dapat memastikan kapan penanganan tersebut akan selesai. Sebab, kedalaman dan jumlah batu bara yang masih terbakar di bawah tanah belum dapat dipastikan.

“Saya terus terang belum tahu. Karena batu bara ini susah juga di dalam bumi. Kita belum bisa memprediksi berapa konsentrasi batu bara yang di dalam bumi itu ada berapa banyak,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *