Daya Beli Masyarakat Melemah, Omzet Pedagang Pasar Gusher Tarakan Turun Drastis

benuanta.co.id, TARAKAN – Harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Gusher Tarakan relatif stabil, bahkan beberapa komoditas seperti tomat dan terong mengalami penurunan. Kondisi tersebut belum mampu mengangkat aktivitas perdagangan.

Sejumlah pedagang mengaku persoalan terbesar yang mereka hadapi justru jumlah pembeli yang terus menurun.

Salah satu pedagang sayur di Pasar Gusher, Joni, mengatakan kondisi sepinya pembeli sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, menurut dia, situasi tersebut telah dirasakan sekitar dua tahun terakhir.

“Agak kurang pembelinya. Sudah lama ini kurang terus pembeli,” ujarnya.

Pedagang yang telah sekitar 10 tahun berjualan di Pasar Gusher itu menduga salah satu penyebabnya adalah semakin banyak masyarakat yang berbelanja di pedagang yang berjualan di pinggir jalan.

Namun, ia juga tidak menampik kemungkinan faktor ekonomi ikut memengaruhi kemampuan masyarakat berbelanja di pasar. Menurutnya, kondisi pembeli biasanya sedikit lebih ramai pada momentum tertentu seperti Lebaran dan Tahun Baru.

Baca Juga :  Maulid Jangan Sekadar Seremonial, Pemuda Diminta Hidupkan Akhlak Rasulullah

Sementara pada hari-hari biasa, kondisi pasar disebutnya kembali sepi. Sepinya pembeli tersebut kemudian berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang.

Joni mengatakan jika sebelumnya dalam sehari dirinya bisa memperoleh omzet sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta, kini pendapatannya paling banyak hanya sekitar Rp1 juta per hari.

“Biasa Rp2 juta, biasa Rp3 juta. Sekarang paling Rp1 juta,” bebernya.

Menurutnya, penurunan omzet yang dialaminya berada di kisaran 50 persen.

Kondisi serupa juga dirasakan Ahmad Yani, pedagang telur yang telah berjualan sekitar 10 tahun di Pasar Gusher.

Ahmad mengatakan penurunan aktivitas pembeli justru semakin terasa ketika harga telur mengalami kejatuhan beberapa waktu lalu.

Padahal, menurut pengalamannya, ketika harga telur mahal sekalipun, pembeli masih ramai.

“Dulu-dulu mahal telur, pembeli juga ramai. Sekarang telur jatuh, pembeli juga jatuh,” ujarnya.

Baca Juga :  Empat Orang Diamankan di Lokasi Sambung Ayam Juata Laut

Ia membandingkan kondisi penjualan saat ini dengan masa sebelum pandemi COVID-19.

Menurutnya, dahulu penjualan telur bisa mencapai sekitar 150 piring dalam sehari. Kini, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 50 piring.

“Kalau dulu yang bisa jual 150 piring, sekarang ini 50,” terangnya.

Penurunan volume penjualan tersebut juga berimbas pada omzet. Ahmad Yani mengatakan pada kondisi tertentu sebelum pandemi COVID-19, omzet penjualannya bisa mencapai sekitar Rp5 juta dalam sehari.

Kini, pendapatannya hanya berada di kisaran Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari.

“Dari Rp5 juta ke Rp1,5 juta-Rp2 juta itu,” ujarnya.

Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan harga satu komoditas. Ia melihat daya beli masyarakat secara umum mengalami pelemahan.

Ia bahkan mengaku kondisi ekonomi saat ini membuat dirinya lebih berhati-hati, termasuk ketika mendapatkan tawaran pinjaman dari perbankan.

“Sekarang ditawari sama bank takut. Takut kita enggak bisa bayar,” tuturnya.

Baca Juga :  Dari Dapur Sederhana, Darmah Food Tumbuh Jadi Camilan Kebanggaan Kaltara

Ahmad Yani menilai pasar merupakan salah satu tempat yang dapat menjadi indikator sederhana untuk melihat perputaran ekonomi masyarakat. Sebab, kebutuhan pokok merupakan kebutuhan sehari-hari yang membuat masyarakat tetap harus datang berbelanja.

“Pusat pasar itu kan orang belanja. Mau tak mau, mau makan mesti ke pasar,” ujarnya.

Oleh karena itu, ketika pasar sepi, ia menilai persoalannya tidak hanya berdampak kepada pedagang sayur atau telur. Pelemahan daya beli juga berpotensi merembet ke sektor perdagangan lainnya.

“Kalau pasarnya sepi, bagaimana kira-kira? Kalau beli mobil, beli motor, itu orang banyak uang. Ini kebutuhan pokok, tiap hari orang makan,” tuturnya.

Ahmad Yani pun berharap masyarakat memiliki cukup uang untuk kembali berbelanja sehingga perputaran ekonomi di pasar dapat bergerak.
“Pokoknya kecewa lah, kecewa sama ekonomi,” tutupnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *