benuanta.co.id, TARAKAN – Di sebuah toko di Jalan Yos Sudarso, Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) berbagai produk oleh-oleh lokal tersusun rapi. Ada satu produk yang menjadi perhatian, kue lapis berbahan buah terap, buah hutan yang dahulu lebih sering dikonsumsi begitu saja dan belum memiliki nilai ekonomi berarti.
Di balik lahirnya produk tersebut ada sosok perempuan kelahiran 1980, Sushanti Mulyadi, owner Lapis Tarakan. Ia bukan sekadar melihat terap sebagai buah hutan, tetapi melihat potensi ekonomi yang selama ini belum banyak disentuh.
Dari tangan Sushanti, terap yang sebelumnya nyaris tidak memiliki nilai jual kemudian diolah menjadi produk pangan modern tanpa meninggalkan identitas lokalnya. Perjalanan itu dimulai pada 2017.
Saat itu, Sushanti memiliki keinginan sederhana namun kuat: membuat Kota Tarakan memiliki oleh-oleh yang benar-benar merepresentasikan daerah.
Kala itu, menurut Sushanti, oleh-oleh khas Tarakan yang dikenal masyarakat masih terbatas. Produk perikanan seperti ikan asin menjadi salah satu yang paling mudah ditemui, sementara potensi hasil pertanian maupun buah lokal belum banyak diolah menjadi produk oleh-oleh. Dari situlah ide mengangkat buah terap muncul.
“Niat awalnya ingin mengangkat nama Kota Tarakan supaya lebih dikenal. Apalagi saat itu Kaltara merupakan provinsi termuda. Akhirnya saya mengangkat unsur oleh-oleh dari Kota Tarakan,” ujar Sushanti, Selasa (25/8/2026).
Buah yang tumbuh di sejumlah wilayah Tarakan itu sebelumnya belum banyak disentuh sebagai bahan baku industri pangan. Ketika musim panen tiba dan peminatnya terbatas, sebagian buah hanya dikonsumsi secara sederhana dengan cara langsung dimakan tanpa diolah sedemikian rupa.
Sushanti melihat celah yang berbeda. Ia ingin mengubah buah tersebut menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah. Namun, mengubah ide menjadi produk bukan perkara mudah.
Selama sekitar empat bulan, ia bereksperimen mencari formula yang tepat. Mulai dari rasa, tekstur, proses pengolahan hingga bagaimana karakter buah terap dapat tetap terasa setelah menjadi kue. Eksperimen itu akhirnya melahirkan kue lapis terap.
Baginya, inovasi bukan berarti menghilangkan karakter tradisional. Justru unsur lokal harus tetap dipertahankan, sementara pengolahannya dibuat lebih modern sehingga dapat diterima pasar. Dari situlah Lapis Tarakan perlahan berkembang.
Awalnya, seluruh proses produksi dilakukan Sushanti dari rumah sendiri. Tidak ada toko khusus yang menjadi tempat berkumpulnya produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) lokal Tarakan. Kondisi tersebut justru mendorongnya untuk membuat ruang pemasaran sendiri.
Kini, Lapis Tarakan tidak hanya menjual produknya sendiri tapi telah berkembang menjadi tempat untuk memfasilitasi berbagai produk UMKM lokal. Sushanti ingin toko tersebut menjadi etalase bagi produk-produk Tarakan hingga Kaltara.
Menurutnya, banyak pelaku UMKM memiliki produk yang bagus, tetapi menghadapi persoalan klasik, seperti tidak memiliki tempat untuk memasarkan produk secara berkelanjutan.
“Kita selama ini punya produk, tetapi tidak punya tempat memasarkannya. Akhirnya kita bisa memiliki produk lokal yang unggul dan dibanggakan,” katanya.
Konsep tersebut membuat keberadaan Lapis Tarakan memiliki dampak yang lebih luas dibanding sekadar menjual kue. Toko tersebut menjadi titik temu antara produk lokal, wisatawan, pekerja perusahaan, masyarakat dari luar daerah hingga pengunjung dari negara tetangga.
Para pekerja perusahaan tambang yang berasal dari berbagai daerah seperti Jawa, Sumatra dan Sulawesi menjadi salah satu konsumen. Ketika hendak pulang ke kampung halaman, mereka membeli oleh-oleh dari Lapis Tarakan.
Produk yang dibeli kemudian ikut bergerak ke berbagai daerah di Indonesia. Efek ekonominya pun ikut melebar. Sushanti tidak berhenti pada satu produk.
Dari buah terap, ia kemudian mengembangkan inovasi lain dengan memanfaatkan bagian bijinya sebagai bahan cookies. Saat ini, Lapis Tarakan telah memiliki dua produk berbahan terap yang telah dilengkapi Nomor Induk Berusaha (NIB), izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikasi halal, yakni kue lapis terap dan cookies biji terap.
Pengembangan tersebut menjadi contoh bagaimana satu komoditas lokal dapat menghasilkan lebih dari satu produk bernilai ekonomi. Tidak berhenti di sana, Sushanti juga tengah mengembangkan terap menjadi selai.
Ia memiliki strategi tersendiri untuk menjaga ketersediaan bahan baku buah terap. Meski terap sering dianggap sebagai buah musiman, Sushanti melihat kondisi di Tarakan sedikit berbeda. Buah tersebut dapat ditemukan di sejumlah wilayah seperti Juata, Karungan dan Mamburungan.
Jika produksi di satu wilayah berkurang, sumber lainnya dapat menjadi alternatif. Untuk mengantisipasi kekurangan bahan baku, Sushanti juga membeli buah terap dalam jumlah banyak ketika tersedia dan menyimpannya dengan metode pembekuan.
Dalam sehari, Lapis Tarakan dapat menggunakan sekitar 5 kilogram buah terap sebagai bahan baku produksi. Di balik aktivitas produksinya, muncul dampak lain yang menurut Sushanti jauh lebih penting: hubungan dengan petani lokal.
Ketika terap memiliki nilai ekonomi, masyarakat memiliki alasan untuk mempertahankan dan membudidayakan tanaman tersebut. “Dengan kita menjadikan terap ini bahan olahan, terjadi simbiosis mutualisme dengan petani lokal. Mereka bisa membudidayakan tanaman terap agar tidak punah,” ujarnya.
Dengan demikian, inovasi produk tidak hanya menghasilkan omzet, tetapi juga membuka peluang bagi keberlanjutan komoditas lokal. Perjalanan Lapis Tarakan tentu tidak selalu berjalan mulus. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu masa paling berat bagi usaha Lapis Tarakan.
Pendapatan sempat menurun. Aktivitas masyarakat terbatas dan pergerakan orang yang selama ini menjadi salah satu pasar oleh-oleh ikut terganggu. Namun, Sushanti memilih bertahan.
Ia terus memikirkan produk apa yang dapat dikembangkan dan bagaimana usaha tetap berjalan. Prioritasnya tetap sama: membuat produk yang dapat dibawa pulang oleh para pendatang sebagai buah tangan dari Tarakan.
Sejak 2024, penjualan dan produksi Lapis Tarakan mengalami peningkatan. Omzet yang sebelumnya berada di kisaran lebih dari Rp100 juta per tahun kemudian meningkat menjadi sekitar Rp300 juta per tahun. Saat ini, produksi dapat mencapai sekitar 20-25 kemasan per hari untuk masing-masing jenis produk dari Lapis Tarakan.
Angka tersebut menjadi gambaran bagaimana inovasi yang dimulai dari dapur rumah perlahan berkembang menjadi usaha dengan pasar yang lebih luas.
Sushanti mengakui perjalanan Lapis Tarakan tidak hanya ditopang oleh usaha pribadi. Dukungan pemerintah daerah, BUMN dan Bank Indonesia di Kaltara turut memberikan ruang bagi UMKM untuk berkembang. Bantuan tersebut bukan hanya berupa promosi, tetapi juga pengetahuan.
Sushanti mendapatkan pelatihan mengenai pemasaran digital, penghitungan harga pokok produksi, penentuan harga jual, pembukuan, pengembangan kemasan (packaging) hingga logo usaha.
Menurut Sushanti, pendampingan semacam itu sangat penting karena UMKM tidak cukup hanya bisa membuat dan menjual produk. Pelaku usaha juga harus memahami bagaimana mengelola bisnis secara profesional.
“Kami bisa naik kelas, tidak hanya tentang produksi dan jualan, tetapi juga bisa berwawasan,” katanya.
Perwakilan Bank Indonesia di Kaltara diakuinya turut memfasilitasi pelatihan bagi UMKM lokal hingga proses menuju pasar ekspor.
Produk Lapis Tarakan pernah dibawa hingga pada event di Tawau dan Kota Kinabalu, Malaysia. Di pasar lokal, produknya juga telah menjangkau Jakarta.
“Pengunjung asal Tawau yang datang ke Tarakan juga kerap mampir ke toko Lapis Tarakan dan membawa pulang lapis terap ke Malaysia sebagai oleh-oleh,” jelasnya.
Bagi Sushanti, hal tersebut menjadi bukti produk berbasis potensi lokal memiliki peluang untuk dikenal lebih luas. Ia tidak ingin terburu-buru melakukan ekspansi internasional. Pasar lokal tetap menjadi pijakan utama sebelum melangkah lebih jauh.
Pertumbuhan Lapis Tarakan juga menciptakan lapangan pekerjaan. Saat ini terdapat empat karyawan yang diberdayakan dan direkrut secara mandiri. Selain itu, Lapis Tarakan menjalin kerja sama dengan pihak sekolah kejuruan atau SMK melalui Memorandum of Understanding (MoU) dengan siswa magang jurusan tata boga.
Artinya, keberadaan usaha tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi pemilik, tetapi juga membuka ruang bagi tenaga kerja dan generasi muda untuk memperoleh pengalaman di dunia usaha.
Sushanti juga percaya UMKM tidak bisa berkembang sendirian. Menurutnya, diperlukan organisasi dan wadah yang mempertemukan para pelaku UMKM se-Kalimantan Utara.
Melalui wadah tersebut, para pelaku usaha dapat saling menguatkan, bertukar pengalaman hingga membantu ketika salah satu UMKM mengalami masa sulit.
“Ketika ada UMKM yang lagi down, kita bersinergi untuk membantu teman-teman yang lain,” tuturnya.
Semangat tersebut menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi lokal. Sebab, keberhasilan satu UMKM tidak harus berarti kekalahan bagi UMKM lain. Sebaliknya, semakin kuat ekosistem usaha lokal, semakin besar pula peluang produk Kaltara untuk tumbuh bersama.
Sushanti membuktikan produk lokal tidak selalu harus berasal dari komoditas yang sejak awal memiliki nilai jual tinggi. Terkadang, nilai itu justru harus diciptakan melalui kreativitas dan inovasi. Buah terap yang dahulu dianggap biasa kini memiliki cerita baru.
Sushanti menyebut perjalanan itu masih panjang. Ia berharap dukungan pemerintah untuk mempromosikan produk UMKM Kaltara dapat semakin ditingkatkan. Sebab, semakin luas produk lokal dikenal, semakin besar pula peluang peningkatan produksi. Dan bersama Lapis Tarakan itu, nama Tarakan ikut dibawa pergi dari rumah ke rumah, dari kota ke kota, bahkan hingga ke luar negeri.
Ekonom: Pembinaan UMKM Jangan Terputus
UMKM dinilai memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi Kaltara. Dengan jumlah UMKM lokal yang mencapai 70 ribuan unit usaha, sektor ini tidak hanya menjadi penggerak ekonomi masyarakat, tetapi juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.
Pengamat Ekonomi Kalimantan Utara, Dr. Syaiful Anwar, S.E., M.M., mengatakan perkembangan UMKM di Kaltara dari tahun ke tahun menunjukkan tren positif. Pertumbuhan tersebut terutama terlihat pada sektor industri kecil, kuliner, kerajinan hingga manufaktur.
Menurutnya, tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan jumlah UMKM, tetapi bagaimana mendorong usaha yang masih berskala kecil agar dapat naik kelas menjadi usaha menengah hingga mampu menembus pasar antardaerah maupun internasional.
“UMKM ini kan semakin tahun semakin meningkat, terutama yang bergerak di industri kecil, kuliner, kerajinan dan manufaktur. Tinggal bagaimana UMKM ini bisa tumbuh,” ujar Syaiful.
Ia menilai proses naik kelas tersebut membutuhkan dukungan yang konsisten dari berbagai pihak. Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun perusahaan swasta nasional dinilai memiliki peran penting dalam memberikan pembinaan kepada pelaku UMKM.
Pembinaan, kata dia, tidak cukup dilakukan sesekali. Pelaku UMKM membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, mulai dari peningkatan keterampilan, manajemen usaha hingga pengembangan produk agar mampu bersaing.
“Siapa yang mendorong dan memberikan pemahaman kepada UMKM? Yakni peran negara dalam hal ini seperti BUMN dan pemerintah serta perusahaan swasta nasional. Mereka harus diperhatikan, diberikan pembinaan yang tidak terputus,” ungkapnya.
Selain pelatihan produksi, Syaiful mendorong agar UMKM mendapatkan pemahaman mengenai bagaimana membuat produk yang memiliki daya saing, baik di pasar lokal maupun global.
Menurutnya, peningkatan kualitas produk menjadi salah satu kunci agar UMKM Kaltara tidak hanya menjadi pemain di pasar daerah, tetapi mampu memperluas jaringan pemasaran ke luar wilayah.
Selain berkontribusi terhadap perekonomian, UMKM juga memiliki peran besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Menurut Syaiful, sektor UMKM secara nasional menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan UMKM secara langsung berkaitan dengan peningkatan kesempatan kerja bagi masyarakat.
Besarnya jumlah UMKM juga memberikan dampak terhadap perekonomian daerah Kaltara, khususnya dalam penyerapan tenaga kerja lokal.
Syaiful mengatakan salah satu keunggulan UMKM adalah kemampuannya membuka kesempatan kerja tanpa selalu mensyaratkan tingkat pendidikan formal yang tinggi.
“Penyerapan tenaga lokal tidak butuh terlalu ijazah, yang penting punya keterampilan,” katanya.
Karena itu, peningkatan keterampilan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengembangan UMKM. Pelatihan yang diberikan kepada pelaku usaha maupun calon tenaga kerja UMKM diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga membuat tenaga kerja memiliki keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Semakin berkembangnya UMKM, perputaran ekonomi di tingkat lokal juga berpotensi semakin kuat.
Menurut Syaiful, ukuran keberhasilan pengembangan UMKM di Kaltara ke depan tidak cukup hanya dilihat dari bertambahnya jumlah pelaku usaha. Lebih penting adalah memastikan UMKM yang sudah ada dapat bertahan, berkembang dan naik kelas.
Usaha yang awalnya dijalankan secara kecil-kecilan diharapkan dapat berkembang menjadi usaha menengah, kemudian memiliki kapasitas produksi lebih besar dan mampu masuk ke pasar antardaerah. Tahap berikutnya, UMKM Kaltara diharapkan mampu bersaing di pasar internasional.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan ekosistem usaha yang mendukung. Pemerintah dan lembaga terkait tidak hanya hadir ketika UMKM baru mulai berdiri, tetapi juga mendampingi ketika usaha tersebut memasuki tahap pengembangan.
Pembinaan berkelanjutan, peningkatan keterampilan, penguatan kualitas produk serta perluasan akses pasar menjadi sejumlah aspek yang menurut Syaiful harus terus diperkuat. Dengan dukungan tersebut, UMKM Kaltara diharapkan tidak sekadar menjadi penopang ekonomi masyarakat, tetapi dapat tumbuh menjadi kekuatan baru dalam perekonomian daerah. “Bagaimana produk UMKM bisa mampu bersaing secara lokal dan global,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ramli








