JEMARI-jemari itu bergerak perlahan di antara susunan benang. Satu demi satu ditarik, dirapikan, dipadatkan, lalu kembali disusun menjadi pola indah khas Kalimantan Utara. Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut mungkin hanya terlihat sebagai proses membuat kain. Namun bagi Mersia, dari situlah perjalanan panjang sebuah usaha sekaligus upaya memperkenalkan identitas Kalimantan Utara dimulai.
Penulis: SUNNY CELINE T
Tenun D’utan tidak lahir dalam perjalanan yang serba mudah. Usaha tersebut berawal dari ketertarikan menenun yang kemudian berkembang menjadi kegiatan usaha setelah pesanan mulai berdatangan.
Sebelum menekuni tenun, Mersia merupakan seorang pekerja. Setelah berhenti bekerja, ia melihat masih terbuka ruang bagi kerajinan tenun untuk berkembang di Kalimantan Utara. Mersia kemudian mencoba membuat tenun dengan membawa motif dari daerah asalnya, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Namun, perjalanan itu kemudian membawanya pada sebuah perubahan penting. Pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (Perindagkop dan UMKM) melihat potensi dari usaha tersebut. Ada satu masukan yang kemudian mengubah arah pengembangan produknya, yakni agar tenun yang dibuat lebih mengangkat identitas Kalimantan Utara.
Dari situ, motif-motif lokal mulai dikembangkan. Perubahan itu perlahan mendapat respons dari masyarakat. Produk yang sebelumnya masih membawa motif dari daerah asal mulai memiliki karakter Kalimantan Utara. Masyarakat pun mulai mengenal dan tertarik dengan tenun yang dibuat.
Perkembangan usaha semakin terasa ketika dukungan dari pemerintah, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan Bank Indonesia Kalimantan Utara membuka kesempatan bagi Tenun D’utan untuk mengikuti berbagai pameran dan pembinaan.
Bagi Mersia, pameran bukan sekadar tempat memajang kain. Dari kegiatan tersebut, produk diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas sekaligus menjadi ruang untuk melihat bagaimana selera konsumen berkembang.
Di tengah perjalanan itu, tantangan juga datang silih berganti. Bahan baku menjadi salah satu persoalan yang masih dihadapi. Benang yang digunakan harus didatangkan dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa. Ketika pasokan atau pengiriman terkendala, proses produksi ikut terdampak.
Tantangan lainnya adalah menjaga kualitas, memenuhi permintaan konsumen, mencari tenaga terampil, hingga memperluas pemasaran.
Alih-alih berhenti, Tenun D’utan memilih terus beradaptasi. Motif khas Kalimantan Utara tetap dipertahankan sebagai identitas, tetapi desain, warna dan model dikembangkan mengikuti perkembangan zaman. Pewarnaan alami juga mulai digunakan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di hutan Kalimantan Utara.
Tenun pun tidak lagi dipandang sebatas kain. Produk tersebut mulai dikembangkan menjadi berbagai produk turunan seperti tas, sepatu hingga produk fashion lainnya. Cara ini membuat kain tenun memiliki lebih banyak kemungkinan untuk masuk ke pasar sekaligus meningkatkan nilai jualnya.
Di sisi pemasaran, perubahan juga terjadi. Jika sebelumnya promosi banyak mengandalkan cerita dari mulut ke mulut, kini media sosial dan marketplace ikut menjadi pintu masuk bagi konsumen.
WhatsApp menjadi salah satu media yang digunakan Mersia untuk memperkenalkan produk. Produk juga ditempatkan di UMKM Center agar masyarakat dapat melihat secara langsung hasil produksi.
Pesanan tidak hanya datang dari Tarakan. Produk Tenun D’utan telah menjangkau sejumlah konsumen di luar Kalimantan Utara. Bahkan, kain tenun tersebut sudah sampai ke Jakarta dan Malaysia. Sementara melalui media sosial dan marketplace, jangkauan pasar terus diperluas.
Perjalanan itu menunjukkan digitalisasi bagi UMKM bukan sekadar soal mengikuti perkembangan teknologi. Bagi Tenun D’utan, media digital menjadi cara untuk mempertemukan produk lokal dengan konsumen yang sebelumnya sulit dijangkau.
Namun, pertumbuhan usaha tidak hanya diukur dari seberapa jauh sebuah produk terjual. Di balik setiap kain yang diproduksi, ada penenun yang ikut mendapatkan penghasilan.
Saat ini, usaha yang dijalankan secara mandiri melibatkan sekitar dua hingga tiga orang dalam proses produksinya. Sementara dalam kelompok yang lebih luas, Tenun D’utan juga melibatkan penenun lokal, terutama perempuan, yang mendapatkan kesempatan untuk memperoleh penghasilan dari keterampilan mereka.
Bagi keluarga Mersia, usaha tersebut juga membawa perubahan. Dari yang seorang ibu rumah tangga, aktivitas menenun kemudian berkembang menjadi sumber penghasilan yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak.
“Tenun bukan hanya sebuah usaha, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang membantu kehidupan keluarga,” ujarnya.
Di titik itu, kain tenun memiliki cerita yang lebih panjang dari sekadar motif dan warna.
Ia menjadi sumber penghasilan bagi keluarga, membuka kesempatan kerja bagi perempuan, sekaligus membawa identitas Kalimantan Utara ke tempat yang lebih jauh.
Beberapa produk bahkan telah digunakan dalam berbagai kegiatan fashion show. Ketika kain tersebut dikenakan, yang diperkenalkan bukan hanya sebuah produk fesyen, tetapi juga motif dan identitas budaya yang melekat di dalamnya.
Untuk Mersi, hal tersebut menjadi salah satu kebanggaan terbesar dalam perjalanan usahanya. Produk yang awalnya dibuat dalam skala kecil kini mulai dikenal lebih luas dan digunakan oleh berbagai pihak, termasuk pejabat dan tokoh di tingkat daerah maupun pusat.
Perjalanan Tenun D’utan juga memperlihatkan bagaimana sebuah UMKM dapat tumbuh ketika inovasi berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Motif dan teknik tradisional tetap ia dipertahankan, tetapi desain terus disesuaikan agar dapat diterima generasi muda dan pasar modern. Produk pun dikembangkan agar tidak berhenti sebagai kain, melainkan dapat hadir dalam berbagai bentuk yang dekat dengan kebutuhan konsumen.
Akses modal, perluasan pasar, peningkatan kualitas, pelatihan, hingga pendampingan untuk menembus pasar ekspor menjadi kebutuhan yang masih diharapkan. Persoalan regenerasi penenun dan ketersediaan bahan baku juga menjadi tantangan yang harus dijawab agar industri tenun dapat bertahan dalam jangka panjang.
Ketika produk lokal mampu keluar dari pasar daerah dan mulai dikenal hingga luar negeri, tenun tidak hanya membawa nilai ekonomi. Ia membawa cerita tentang daerah asalnya.
Mersia memiliki harapan sederhana, ia berharap tenun Kalimantan Utara semakin dikenal dan mampu menembus lebih banyak negara. Menurutnya, semakin jauh kain itu berjalan, semakin jauh pula cerita tentang Kalimantan Utara ikut dibawa.
“Saya yakin tenun ini memiliki banyak peluang untuk terus di kembangkan. Tenun tidak harus berhenti sebagai kain saja. Semakin banyak inovasi tenun Kalimantan Utara bisa terus berkembang. Tidak hanya untuk diri saya sendiri tetapi bagi masyarakat untuk menggerakkan UMKM Kalimantan Utara,” pungkasnya.
Dari tangan para penenun, benang-benang itu tidak sekadar dirangkai menjadi kain. Ia menjadi penghidupan bagi keluarga, membuka ruang kerja bagi masyarakat, menjaga warisan budaya, sekaligus menjadi bagian kecil dari perjalanan UMKM untuk membuat Kalimantan Utara semakin dikenal di seluruh dunia. (*)








