benuanta.co.id, BULUNGAN – Dulu, Darmawati hanya ingin tetap memiliki penghasilan setelah ikut suaminya pindah dari Tarakan ke Bulungan. Dari rumah, ia membuat kue kering untuk mengisi waktu luang.
Namun, ia segera menyadari bahwa kue kering memiliki pasar yang cenderung ramai pada momen tertentu, seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Darmawati kemudian berpikir, mengapa tidak membuat makanan yang bisa dijual kapan saja?
Pertanyaan sederhana itulah yang perlahan membawa perempuan tersebut memulai perjalanan panjang bersama Darmah Food.
Di sekitar rumahnya, Darmawati melihat banyak udang kering. Bahan sederhana itu kemudian memunculkan ide. Ia mencoba mengolah udang kering menjadi abon, lalu memasukkannya ke dalam kulit lumpia dan mengolahnya menjadi camilan.
Awalnya, camilan itu sama sekali tidak dibuat untuk dijual. Ia hanya membuatnya untuk dinikmati sendiri.
Sampai suatu hari, seorang teman mencicipi makanan buatannya. Rasanya ternyata mendapat respons positif. Sang teman bahkan menyarankan agar Darmawati menjual camilan tersebut.
Bukannya langsung yakin, Darmawati justru sempat ragu. “Saya kan kurang percaya diri. Saya bilang, emang ada yang mau beli?” cerita Darmawati, Rabu (26/8/2026).
Keraguan itu akhirnya ia lawan. Camilan tersebut mulai ditawarkan kepada teman-temannya. Ternyata, responsnya di luar dugaan.
Banyak yang tertarik setelah mencicipinya. Dari sana, pesanan mulai berdatangan dan usaha kecil yang semula hanya berawal dari dapur rumah mulai menemukan jalannya.
Pada awal berjualan, Darmawati belum memikirkan banyak hal tentang kemasan maupun identitas produk.
Camilannya hanya dimasukkan ke dalam plastik bening, kemudian diikat menggunakan karet gelang yang lazim digunakan untuk mengikat sayuran.
Namun, justru dari kemasan sederhana itu Darmawati mulai memahami bahwa menjual makanan bukan hanya soal rasa.
Ia mulai mengenal dunia usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Ia mengikuti berbagai sosialisasi serta pelatihan untuk memperbaiki dan mengembangkan usahanya.
Sedikit demi sedikit, ia belajar tentang kemasan, logo, izin edar, sertifikasi halal hingga hak kekayaan intelektual. Satu per satu persyaratan dan pengetahuan tentang usaha mulai ia lengkapi.
Dalam proses tersebut, Darmawati mendapat pembinaan dan dukungan dari sejumlah instansi, di antaranya Dinas Perikanan serta Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM. Berbagai pameran juga mulai diikutinya.
Bagi Darmawati, pameran bukan sekadar tempat menjual produk. Di sana ia bisa melihat bagaimana pelaku UMKM lain mengemas, memperkenalkan dan memasarkan produk mereka.
Salah satu pengalaman yang paling diingatnya terjadi pada 2018, ketika ia mengikuti pameran di Jakarta.
Di kota tersebut, ia melihat langsung beragam produk UMKM dari berbagai daerah dengan kemasan yang lebih menarik dan pasar yang jauh lebih luas. Pengalaman itu justru membuatnya semakin bersemangat.
Darmawati mulai membandingkan produknya dengan produk-produk lain dan menyadari masih banyak hal yang harus dipelajari.
Perjalanan tersebut kemudian mempertemukannya dengan berbagai pelatihan dan pembinaan, termasuk dukungan dari Bank Indonesia.
Dari pembinaan itu, Darmawati tidak hanya belajar bagaimana membuat produk yang baik, tetapi juga bagaimana memasarkannya, mencari pasar dan mencatat keuangan usaha.
Bagi Darmawati, salah satu tantangan terbesar bukanlah membuat camilan. Tantangan sebenarnya adalah membuat masyarakat mengenal produknya.
Sebab, sebagus apa pun produk yang dibuat, orang tidak akan mengetahui rasanya jika belum pernah mencicipinya.
Karena itu, Darmawati memilih cara sederhana: membawa produknya ke berbagai kegiatan dan kesempatan agar semakin banyak orang bisa melihat sekaligus mencicipi Darmah Food.
Ia percaya, jika orang sudah mencoba dan merasa cocok, peluang untuk kembali membeli akan semakin besar.
“Yang penting kita yakin sama produk kita enak. Setiap orang beli, mau beli lagi,” ujarnya.
Cara itu perlahan membuahkan hasil. Darmah Food yang awalnya hanya dikenal di sekitar Bulungan mulai memiliki pelanggan dari daerah lain.
Produk unggulannya, pastel ebi dan pastel tuna, kemudian dipasarkan lebih luas dan masuk ke sejumlah tempat penjualan di Tarakan, Berau dan wilayah lainnya. Jangkauannya bahkan tidak berhenti di dalam Kalimantan Utara.
Darmawati beberapa kali mengikuti pameran di luar daerah. Produk Darmah Food juga pernah dibawa oleh dinas untuk mengikuti pameran di luar negeri.
Kesempatan lain datang ketika produknya berhasil lolos kurasi untuk masuk ke Sarinah Jakarta.
Bagi Darmawati, pencapaian tersebut terasa istimewa. Ia teringat masa ketika produknya masih dibungkus plastik bening dan diikat dengan karet gelang.
Kini, camilan yang dulu dibuat untuk konsumsi sendiri telah menjelma menjadi produk UMKM yang membawa nama Kalimantan Utara ke berbagai daerah.
Pertumbuhan Darmah Food juga terlihat dari omzet yang berhasil diraih. Sebelum mendapat pembinaan dari Bank Indonesia, usaha Darmawati hanya menghasilkan sekitar Rp1,5 juta per bulan.
Kini, omzetnya berada di kisaran Rp15 juta hingga Rp17 juta per bulan. Ketika permintaan sedang tinggi, omzetnya bahkan bisa mencapai sekitar Rp20 juta.
Meski demikian, perjalanan usaha tidak selalu berada di titik ramai. Pada Juli dan Agustus, misalnya, penjualan biasanya mengalami penurunan. Omzet dapat turun hingga sekitar Rp12 juta per bulan.
Sebaliknya, permintaan meningkat ketika memasuki musim liburan dan hari-hari besar seperti Lebaran, Natal serta Tahun Baru.
Banyak konsumen membeli produk Darmah Food untuk dijadikan oleh-oleh. Bagi Darmawati, perkembangan usaha tersebut bukan sekadar angka omzet.
Dari usaha yang dibangunnya dari rumah, ia kini bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan, usaha tersebut juga memberinya kesempatan untuk membantu saudara-saudaranya.
Itulah yang membuat perjalanan panjang Darmah Food terasa semakin berarti. Meski telah melewati perjalanan panjang, Darmawati belum ingin berhenti.
Ia masih memiliki keinginan untuk membawa Darmah Food semakin jauh hingga dikenal di berbagai daerah di Indonesia.
Ia juga berencana menambah produk baru sehingga usahanya tidak hanya bergantung pada pastel ebi dan pastel tuna.
Bagi Darmawati, perjalanan membangun usaha mengajarkan satu hal penting: keberanian untuk mencoba harus berjalan bersama kemauan untuk belajar.
Dari perempuan yang awalnya ragu apakah ada orang yang mau membeli produknya, kini ia justru melihat sendiri bagaimana camilan buatannya menembus pasar di luar daerah.
“Saya senang dan bangga ternyata produk saya menjadi produk unggulan Kalimantan Utara,” katanya.
Dari dapur rumah di Bulungan, Darmah Food kini bukan lagi sekadar usaha untuk mengisi waktu luang.
Ia telah menjadi bagian dari perjalanan Darmawati membangun kemandirian ekonomi sekaligus membawa rasa khas Kalimantan Utara ke berbagai tempat.
Perjalanan Darmah Food menjadi salah satu gambaran bagaimana UMKM dapat tumbuh dari skala rumahan hingga memiliki pasar yang lebih luas.
Ahli ekonomi Dr. Ana Sriekaningsih, SE.S.Th, MM mengatakan, keberadaan UMKM memiliki peran penting dalam perekonomian Kalimantan Utara.
Menurutnya, meskipun perekonomian Kaltara masih banyak ditopang sektor pertambangan, UMKM tetap menjadi salah satu sektor yang membantu masyarakat memperoleh penghasilan.
“UMKM ini sangat berkontribusi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Khususnya di sektor perdagangan, kuliner, kerajinan tangan dan jasa,” ujar Ana.
Menurutnya, semakin banyak UMKM yang berkembang, semakin besar pula peluang lapangan pekerjaan yang terbuka bagi masyarakat.
UMKM juga memiliki kelebihan karena dapat membuka kesempatan usaha tanpa selalu mensyaratkan latar belakang pendidikan formal yang tinggi.
“UMKM juga membuka peluang bagi masyarakat tanpa membatasi latar belakang pendidikan formal yang tinggi,” ujarnya.
Selain menyerap tenaga kerja, keberadaan UMKM juga membantu menjaga perputaran uang di daerah.
Ketika masyarakat membeli produk yang dibuat pelaku usaha lokal, uang tersebut akan kembali berputar di tengah masyarakat dan ikut menggerakkan ekonomi daerah.
Ana menilai Kalimantan Utara memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Hasil alam yang tersedia di Kaltara, menurutnya, dapat diolah menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi, seperti yang dilakukan Darmawati ketika mengolah bahan hasil perikanan menjadi camilan.
Terlebih, Kaltara memiliki wilayah perbatasan yang membuka peluang bagi produk lokal untuk dipasarkan lebih luas, termasuk ke luar negeri.
Namun, perjalanan UMKM untuk berkembang bukan tanpa hambatan.
Sejumlah persoalan masih dihadapi pelaku usaha, mulai dari akses, biaya logistik, distribusi, permodalan hingga pengurusan legalitas dan sertifikasi produk.
Karena itu, dukungan pemerintah dinilai tetap diperlukan agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu naik kelas.
Dukungan tersebut dapat diberikan melalui kemudahan akses permodalan, penyederhanaan proses perizinan dan legalitas, serta pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan.
“Pemerintah bisa memberikan akses permodalan, penyederhanaan perizinan dan legalitas, serta pelatihan dan pendampingan agar UMKM terus bertumbuh,” pungkasnya.
Perjalanan Darmah Food menunjukkan bahwa sebuah usaha tidak selalu lahir dari modal besar atau rencana bisnis yang rumit.
Kadang, ia berawal dari dapur rumah, bahan sederhana, sebuah ide kecil dan keberanian untuk menawarkan hasil karya kepada orang lain.
Dari sana, langkah demi langkah bisa membawa sebuah camilan rumahan menyeberangi batas daerah dan bagi Darmawati, perjalanan itu masih belum selesai. (*)
Penulis: Alvianita








