Maulid Jangan Sekadar Seremonial, Pemuda Diminta Hidupkan Akhlak Rasulullah

Tarakan8 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dinilai tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial tahunan. Momentum tersebut perlu menjadi ruang bagi umat, khususnya generasi muda, untuk mengevaluasi diri sekaligus menghidupkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Ustaz Dr. Fahmi Syam B.IRKH (Hons), MEI, mengungkapkan, Maulid Nabi bukan sekadar momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi kesempatan untuk menghidupkan kembali sunnah dan akhlak beliau dalam kehidupan nyata.

“Maulid itu bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, akan tetapi juga momentum untuk bagaimana kita menghidupkan kembali sunnah, akhlak beliau di dalam kehidupan nyata,” ungkapnya, Selasa (25/8/2026).

Menurut Ustaz Fahmi, Rasulullah SAW tidak hanya diutus untuk mengajarkan ibadah, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki akhlak mulia. Hal itu menjadikan Rasulullah sebagai sosok yang relevan untuk diteladani oleh generasi muda di tengah perubahan zaman.

“Rasulullah SAW itu diutus bukan hanya untuk mengajarkan ibadah, tetapi juga bagaimana membangun manusia yang memiliki akhlak mulia,” katanya.

Ia menilai keteladanan Rasulullah justru semakin penting bagi pemuda di tengah perkembangan teknologi, media sosial, budaya instan, hingga berbagai persoalan moral. Menurutnya, generasi muda membutuhkan figur yang bukan hanya dikenal karena popularitas, tetapi memiliki karakter yang layak untuk diteladani.

“Di tengah perkembangan teknologi, media sosial, budaya instan dan berbagai krisis moral, pemuda ini butuh teladan. Dan teladan yang paling pas adalah Rasulullah SAW,” tuturnya.

Ustaz Fahmi mencontohkan sejumlah nilai yang diajarkan Rasulullah dan masih sangat relevan dengan kehidupan pemuda saat ini. Ketika kejujuran semakin diuji oleh berbagai kepentingan, Rasulullah memberikan contoh untuk tetap jujur. Ketika banyak orang mudah menyerah, Rasulullah mengajarkan kesabaran dan keteguhan.

“Rasulullah SAW mengajarkan kejujuran ketika banyak orang yang tergoda untuk memanipulasi sesuatu. Rasulullah SAW mengajarkan jujur,” ucapnya.

Baca Juga :  Karhutla di Tarakan Tembus 56 Hektare pada Periode Agustus

Selain kejujuran dan kesabaran, Rasulullah juga mengajarkan pentingnya tanggung jawab dan menghargai proses. Nilai tersebut dinilai penting bagi generasi yang terkadang menginginkan hasil secara cepat tanpa melalui proses yang semestinya.

“Rasulullah SAW juga mengajarkan tanggung jawab ketika banyak generasi saat ini yang ingin mendapatkan hasil tanpa proses. Rasulullah SAW mengajarkan semua ada prosesnya,” jelasnya.

Nilai keteladanan itu, lanjutnya, juga harus dibawa ke ruang digital. Media sosial seharusnya dapat menjadi sarana menyebarkan kebaikan dan kasih sayang, bukan tempat untuk menebarkan fitnah, hoaks, kebencian, penghinaan maupun perundungan.

“Rasulullah SAW mengajarkan kasih sayang ketika di media sosial menjadi ruang bagi kita untuk menyebarkan kasih sayang, bukan menyebarkan fitnah, hoaks, benci dan lain sebagainya,” tegasnya.

Karena itu, menurut Ustaz Fahmi, hikmah terbesar Maulid Nabi bagi pemuda adalah mengubah kecintaan kepada Rasulullah dari sebatas ucapan menjadi karakter dan perilaku. Kecintaan tersebut harus terlihat dalam cara berbicara, bersikap, memperlakukan orang lain, hingga menggunakan teknologi.

“Bagaimana kita bisa mengubah kecintaan kita kepada Rasul dari sekadar ucapan menjadi karakter dan perilaku yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW,” katanya.

Ustaz Fahmi juga mengingatkan agar kecintaan kepada Rasulullah tidak hanya muncul ketika memasuki bulan Rabiul Awal. Ia menilai ada persoalan jika kecintaan tersebut hanya terlihat ketika Maulid berlangsung, kemudian menghilang setelah rangkaian peringatannya selesai.

“Jangan sampai Rasulullah hanya kita cintai ketika bulan Rabiul Awal saja. Kemudian setelah bulan Rabiul Awal, nilai cinta itu hilang juga,” ujarnya.

Menurutnya, pemuda perlu menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai sesuatu yang hidup dan terus diterapkan di luar momentum Maulid. Salah satu caranya ialah membiasakan diri bertanya bagaimana Rasulullah akan bersikap jika hidup di tengah kondisi zaman sekarang.

“Pemuda harus mulai bertanya, kalau Rasulullah hidup di zaman saya, bagaimana beliau menggunakan media sosial, bagaimana beliau berbicara, bagaimana beliau memperlakukan orang tua, bagaimana beliau berdagang, bagaimana beliau menghadapi orang yang berbeda pendapat,” imbuhnya.

Baca Juga :  PELNI Tarakan Belum Terima Bantuan untuk Bantuan Gempa NTT, Akui Sosialisasi Terbatas

Pertanyaan tersebut, lanjut Ustaz Fahmi, akan membuat keteladanan Rasulullah tidak berhenti sebagai cerita sejarah, melainkan menjadi pedoman dalam menghadapi persoalan kehidupan modern.

“Dari pertanyaan itu, maka keteladanan Rasulullah menjadi sesuatu yang hidup. Jadi Rasulullah itu bukan mati tapi hidup,” lanjutnya.

Ia menambahkan, mengikuti Rasulullah bukan berarti pemuda harus meninggalkan perkembangan zaman. Justru generasi muda muslim didorong untuk maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, selama kemajuan tersebut tetap berjalan bersama akhlak dan adab.

“Pemuda muslim harus bisa menjadi generasi yang maju dalam ilmu dan maju dalam teknologi. Akan tetapi tetap akhlaknya dijaga,” tambahnya.

Ustaz Fahmi merumuskan keteladanan Rasulullah SAW melalui sikap yang relevan dengan kehidupan pemuda saat ini. Menurutnya, kemajuan teknologi, popularitas, dan kesuksesan dunia tidak boleh membuat generasi muda kehilangan adab, kejujuran, rasa malu, maupun orientasi terhadap kehidupan akhirat.

“Boleh modern, boleh memiliki banyak pengikut dan mengejar kesuksesan dunia, tetapi jangan sampai kehilangan adab,” tuturnya.

Lebih jauh, ia meminta umat menjadikan Maulid sebagai momentum evaluasi diri. Ukuran keberhasilan peringatan Maulid bukan hanya kemeriahan acara, tetapi perubahan yang muncul setelahnya dalam perilaku dan akhlak.

“Mari kita bertanya kepada diri kita, setelah berkali-kali mendengar kisah Rasulullah SAW, apakah ada perubahan yang ada di dalam diri kita?” bebernya.

Perubahan tersebut, menurut Ustaz Fahmi, dapat dilihat dari semakin baiknya ibadah, akhlak, hubungan dengan orang tua, kejujuran dalam bekerja, kepedulian kepada sesama, serta kemampuan menjaga lisan. Menurutnya, Maulid baru benar-benar memberikan pengaruh apabila nilai-nilai keteladanan Rasulullah mulai terlihat dalam perilaku sehari-hari.

“Kalau setelah Maulid kita semakin rajin ibadah dan semakin berakhlak, maka Maulid itu benar-benar memberikan pengaruh kepada kita,” terangnya.

Baca Juga :  Lokasi Ini Kerap Terjadi Karhutla karena Mengandung Batu Bara, Polisi Larang Masyarakat Mendekat

Sebaliknya, jika Maulid hanya menghasilkan kemeriahan tanpa perubahan perilaku, maka umat dinilai baru sebatas merayakan sejarah tanpa benar-benar menghidupkan keteladanan Nabi.

“Kalau Maulid hanya menghasilkan kemeriahan acara, hanya seremonial tanpa perubahan akhlak, maka kita baru merayakan sejarah, belum menghidupkan keteladanan Nabi,” tegasnya.

Karena itu, Ustaz Fahmi berharap generasi muda menjadikan Rasulullah SAW sebagai idola utama dalam kehidupan, bukan sekadar mengikuti figur berdasarkan popularitas. Menurutnya, kualitas seorang tokoh semestinya diukur dari akhlak yang dimilikinya.

“Jangan hanya mencari figur yang hebat karena popularitasnya, tetapi carilah figur yang hebat karena akhlaknya,” harapnya.

Ia mengingatkan, kemajuan tanpa akhlak justru dapat membawa dampak buruk. Ilmu dapat melahirkan kesombongan, kekuasaan dapat berubah menjadi kezaliman, teknologi dapat digunakan untuk kerusakan, sementara popularitas tanpa karakter hanya akan menghasilkan kehampaan.

“Ilmu tanpa akhlak bisa menjadi kesombongan. Kekuasaan tanpa akhlak bisa menjadi kezaliman. Teknologi tanpa akhlak bisa menjadi kerusakan. Popularitas tanpa akhlak bisa menjadi kehampaan,” ucapnya.

Ustaz Fahmi mengatakan, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan memperbanyak pujian dan selawat. Kecintaan tersebut harus diwujudkan melalui upaya menerapkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Maulid tidak berhenti sebagai momentum mengenang sosok Nabi.

“Kita cintai Rasulullah bukan hanya dengan berselawat, tetapi juga dengan berusaha menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan kita,” bebernya.

Menurutnya, Maulid seharusnya menjadi pengingat sekaligus dorongan bagi umat untuk melakukan perubahan dalam diri. Sebab, ukuran kecintaan kepada Rasulullah bukan hanya terlihat dari kemeriahan peringatan atau banyaknya pujian yang disampaikan, tetapi dari sejauh mana keteladanan beliau benar-benar diterapkan.

“Keteladananlah yang membuktikan bahwa memang kita benar-benar mencintai Rasulullah SAW,” tutupnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *