Kabut Asap Karhutla Pengaruhi Proses Pembentukan Awan di Tarakan

Tarakan4 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Tarakan tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan menyebut keberadaan partikel asap di atmosfer juga dapat mengganggu proses pembentukan awan.

Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, mengatakan asap merupakan partikel kering yang berasal dari sisa pembakaran dan berbeda dengan uap air. Keberadaan partikel tersebut dapat menyelimuti permukaan daratan maupun laut sehingga proses penguapan air oleh matahari menjadi kurang maksimal.

“Penguapan air laut oleh matahari ini sedikit kurang maksimal karena permukaan laut maupun daratan diselubungi asap. Asap ini berbeda dengan air, asap adalah partikel kering yang tidak bisa menjadi uap,” jelasnya.

Menurutnya, uap air yang berasal dari proses penguapan berperan dalam menambah kandungan uap air di atmosfer dan mendukung pembentukan awan hujan. Karena itu, gangguan terhadap proses penguapan dapat berpengaruh terhadap proses pembentukan awan.

Baca Juga :  Desil Berubah, Penerima Bansos Tarakan Bisa Terdampak

Namun, kondisi tersebut bukan berarti Tarakan akan mengalami suhu ekstrem. BMKG mencatat suhu Tarakan saat ini berada di kisaran 31, 32 hingga 33 derajat Celsius dan masih berada dalam kondisi normal.

Dari sisi jarak pandang, kondisi penerbangan di Tarakan juga sejauh ini masih relatif aman. Berdasarkan catatan BMKG pada 10 hingga 25 Agustus 2026, jarak pandang terdekat yang tercatat mencapai 4 kilometer.

“Sampai saat ini, jarak pandang terdekat yang kita catat di Tarakan itu 4.000 meter, masih dalam batas yang aman untuk aktivitas penerbangan,” ujarnya.

Sementara kondisi terkini, jarak pandang di Tarakan berada di sekitar 8 kilometer.

Kendati demikian, Khilmi mengingatkan Tarakan tetap berpotensi menerima dampak asap dari wilayah lain di Kalimantan. Arah angin dominan di wilayah tersebut bergerak dari selatan hingga tenggara menuju utara.

Baca Juga :  Empat Perumda di Tarakan Terancam Bangkrut

Kondisi ini menjadi perhatian karena jumlah titik panas atau hotspot di sejumlah provinsi tetangga cukup tinggi. Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah memiliki hotspot lebih banyak dibandingkan Kalimantan Utara.

“Tidak menutup kemungkinan kita juga mendapat dampak dari kebakaran hutan yang terjadi di provinsi lain,” terangnya.

Di Tarakan sendiri, BMKG masih mencatat satu hotspot. Tingkat kepercayaan atau confidence level hotspot tersebut berada pada kategori medium, yakni sekitar 20 hingga 80 persen.
Secara keseluruhan di Kalimantan Utara terdapat 61 hotspot. Dari jumlah tersebut, dua hotspot masuk kategori low atau rendah, sedangkan 59 lainnya berada pada kategori medium atau sedang. Untuk kategori high atau tinggi, BMKG belum menemukan hotspot.

Kondisi kabut asap juga perlu diwaspadai masyarakat karena Tarakan saat ini mengalami periode hari tanpa hujan yang lebih panjang dari biasanya. Hari tanpa hujan tercatat mencapai 6 hingga 10 hari, sedangkan karakteristik normal

Baca Juga :  Peralatan Pemadam Kebakaran Perlu Peremajaan

Tarakan selama ini berada di bawah lima hari.
Kondisi tersebut membuat permukaan tanah lebih mudah mengalami kekeringan dan meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran di tempat terbuka yang berpotensi memicu kebakaran. Masyarakat juga diminta menjaga kesehatan dan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan apabila jarak pandang mulai menurun akibat kabut asap.

“Mohon selalu waspada terhadap perubahan cuaca, termasuk fenomena kebakaran hutan dan lahan yang memicu asap. Kami mengimbau untuk tidak melakukan pembakaran di tempat-tempat terbuka yang bisa membahayakan hutan dan lahan,” tutupnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *