Kabut Asap Selimuti Tarakan, Aktivitas Laut dan Penerbangan Diminta Waspadai Jarak Pandang

Tarakan14 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Kabut asap masih menyelimuti Kota Tarakan akibat dampak adanya karhutla. Kondisi tersebut berdampak pada jarak pandang dan menjadi perhatian bagi masyarakat yang melakukan aktivitas transportasi, khususnya di laut, serta aktivitas penerbangan di Bandara Juwata Tarakan.

Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, mengungkapkan masyarakat yang beraktivitas di laut perlu mempertimbangkan kondisi jarak pandang sebelum melakukan perjalanan. Hal tersebut penting dilakukan untuk mengantisipasi risiko yang dapat muncul akibat terbatasnya jarak pandang karena kabut asap.

“Untuk masyarakat yang beraktivitas di laut sebaiknya mempertimbangkan kondisi jarak pandang saat ini,” ungkapnya, Selasa (1/9/2026).

Sementara itu, untuk aktivitas penerbangan, pihak Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan terus melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait di lingkungan bandara. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memantau kondisi cuaca dan jarak pandang yang menjadi salah satu pertimbangan dalam proses lepas landas maupun pendaratan pesawat.

Baca Juga :  Mobilitas Ojol Didorong Jadi Sumber Informasi Kamtibmas

“Untuk aktivitas penerbangan saat ini kami selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di lingkungan bandara untuk proses take off dan landing,” ujarnya.

Khilmi menjelaskan, secara umum Kota Tarakan masih mengalami kondisi berkabut akibat asap, baik pada pagi hingga sore maupun malam sampai dini hari. Kabut asap tersebut dipengaruhi oleh kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah sekitar Tarakan.

“Secara umum kondisi Kota Tarakan masih berkabut karena asap, baik pagi sampai dini hari,” terangnya.

Kabut asap yang menyelimuti Tarakan berasal dari dampak karhutla di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Asap dari kebakaran tersebut terbawa hingga memengaruhi kondisi udara di wilayah Kota Tarakan.

“Adapun kabut asap bersumber dari karhutla yang terjadi di Kabupaten Berau dan Kabupaten Bulungan,” katanya.

Baca Juga :  Kualitas Udara Memburuk, Disdik Tarakan Siapkan Opsi Belajar Daring

Kondisi jarak pandang di Kota Tarakan juga mengalami perubahan dalam periode waktu tertentu. Pada pagi hingga sore hari, jarak pandang berkisar antara 500 meter hingga 3 kilometer, sedangkan pada malam sampai dini hari berada pada kisaran 3 hingga 6 kilometer.

“Untuk jarak pandang Kota Tarakan saat ini, pagi sampai sore hari berkisar antara 500 meter hingga 3 kilometer dan malam hingga dini hari berkisar antara 3 sampai 6 kilometer,” ujarnya.

Selain berdampak terhadap jarak pandang, kondisi kabut asap juga memengaruhi kualitas udara di Kota Tarakan. Berdasarkan Air Quality Index, kualitas udara saat ini masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap.

“Kondisi kualitas udara di Kota Tarakan saat ini berdasarkan Air Quality Index termasuk dalam kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif,” tuturnya.

Baca Juga :  Harga Cabai di Pasar Gusher Tarakan Tembus Rp80 Ribu per Kg, Tomat dan Terong Justru Turun

Dalam kondisi tersebut, masyarakat juga diminta mengurangi risiko gangguan kesehatan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengonsumsi vitamin apabila diperlukan menjadi beberapa langkah yang disarankan untuk meminimalkan dampak paparan asap.

“Imbauan kepada masyarakat untuk menggunakan masker untuk meminimalisir terkena ISPA, mengurangi aktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih dan vitamin jika dibutuhkan,” katanya.

Sementara untuk kondisi cuaca, suhu udara di Kota Tarakan diprakirakan berkisar antara 25 hingga 32 derajat Celsius. Kelembapan udara berada pada kisaran 60 hingga 85 persen dengan kecepatan angin sekitar 3 hingga 8 knot.

“Kondisi suhu diprakirakan berkisar antara 25 sampai 32 derajat Celsius dengan kelembapan 60 sampai 85 persen dan kecepatan angin 3 sampai 8 knot,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *