benuanta.co.id, BERAU– Masalah pengelolaan sampah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, tampaknya sudah berada di titik yang cukup mengkhawatirkan. Alih-alih kesadaran masyarakat meningkat, fasilitas tempat pembuangan yang disediakan pemerintah justru sering kali disalahgunakan.
Kondisi ini memicu reaksi spontan yang cukup menggelitik dari Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, M. Said. Dalam sebuah pertemuan bersama jajaran dinas dan camat, M. Said berseloroh, Berau mungkin membutuhkan ‘Polisi India’ lengkap dengan rotannya untuk mendisiplinkan warga yang gemar membuang sampah sembarangan.
“Solusinya tinggal dicarikan Polisi India aja sudah di dekat ambrol (bak penampungan sampah) itu. Jadi Polisi India itu diberi penjalin (rotan). Setiap orang yang membuang tidak memasukkannya, dirampis (dicambuk) saja,” ujar M. Said sambil tertawa getir, Selasa (7/7/2026).
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Said mengaku gemar berdiskusi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau mengenai kebiasaan aneh sebagian masyarakat. Menurutnya, bak sampah atau ambrol yang disediakan sering kali penuh bukan oleh sampah domestik rumah tangga, melainkan barang-barang yang tidak masuk akal.
“Ini ada sampah, ada kaleng, plastik. Kenapa ada selimut, apa di sana, guling ada di sana, springbed ditaruhnya juga di sana. Itu tempat sampah itu, jadi kadang-kadang kita itu bingung gitu nah mengolahnya,” kata Said.
Tidak hanya salah menempatkan jenis sampah, beberapa oknum warga bahkan nekat membakar sampah beserta bak penampungannya sekaligus. Alhasil, pihak DLHK harus berulang kali mengeluarkan anggaran ekstra untuk memperbaiki fasilitas yang rusak dan hangus tersebut.
Masalah ini kian mendesak mengingat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pujangga dikabarkan akan segera ditutup pada akhir tahun ini karena kapasitasnya yang sudah penuh. Sementara itu, rencana pengalihan ke TPA Pegat Bukur masih terkendala masalah aksesibilitas, kelayakan, dan efisiensi anggaran daerah yang sedang mengetat.
Said juga mengingatkan bahwa dalam waktu dekat, Tim Geopark Nasional dari berbagai universitas serta Badan Geologi Nasional akan datang ke Berau untuk melakukan verifikasi faktual terhadap Geopark Sangkulirang Mangkalihat.
Ia sangat mengkhawatirkan jika para tim penilai justru disambut oleh tumpukan sampah yang berserakan di destinasi wisata.
“Jangan sampai datang tim verifikasi nasional tersebut, sampah masih berhamburan di mana-mana, terutama objek-objek pariwisata. Karena yang dinilai itu bukan hanya itunya saja, banyak faktor termasuk di dalam faktor utama yaitu masalah sampah,” tegasnya.
Di akhir penyampaiannya, Said menekankan program kebersihan secanggih apa pun dari pemerintah pusat maupun daerah, termasuk program Gerakan Aksi Kebersihan (Asri), tidak akan pernah berjalan maksimal jika paradigma masyarakat tidak berubah.
Ia meminta para camat dan lurah untuk memberikan keteladanan nyata, dimulai dengan menjaga kebersihan di lingkungan kantor dan rumah dinas masing-masing sebelum mengajak masyarakat luas untuk bergotong-royong. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Endah Agustina







