Akademisi Perikanan dan Kelautan: Budidaya Lobster di Kaltara Bisa

TARAKAN – Inisiatif Gubernur Kalimantan Utara yang ingin bertekad hadirkan budidaya lobster di Kaltara, menurut ahli di bidang perikanan hal itu sangat dimungkinkan.

Pasalnya, biota laut yang filum Arthropoda ini tergolong komoditas yang mempunyai nilai atau harga tinggi jika di ekspor dalam ukuran siap panen.

Kendati demikian, stok dan keberlanjutan satwa tersebut harus menjadi perhatian anak bangsa yang mendiami negara maritim ini.

Akademisi dari dosen program studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo Tarakan, Dr. Muhammad Firdaus, S.Pi.,M.Si menilai budidaya lobster di Kaltara sangat bisa.

Baca Juga :  Pemasokan Sapi di Tarakan Diduga Dikuasai Oknum, Peternak Keluhkan Pungutan Tak Berdasar

“Di perairan Tarakan, keberadaan lobster berada di Fishing Ground (area penangkapan) Tanjung Pasir, Tanjung Baru, Belakang BRI dan dekat Pulau Sadau. Perairan itu masih ada sedikit terumbu karang, makanya ada lobster,” jelasnya kepada benuanta.co.id pada Selasa, 23 Maret 2021.

Walaupun keberadaan lobster di Tarakan dikatakan terbatas, Firdaus membenarkan hal itu dan mengaitkannya dengan keberadaan ekosistem terumbu karang yang sudah degradasi.

Baca Juga :  DKISP Tarakan Rencana Tambah CCTV di Titik Rawan, Kendalanya Listrik dan Internet

“Lobster itu sangat erat asosiasinya dengan terumbu karang, karena ia tipikal biota laut yang kerap bersembunyi di selah-selah karang. Hewan ini juga aktif mencari makan di malam hari (Nocturnal) dan hidupnya,” tambahnya.

Bagi Firdaus, bila ingin budidaya Lobster di Kaltara khususnya di Kota Tarakan merupakan langkah yang tepat untuk keberlanjutan stok Lobster ke depan. Namun upaya tersebut harus bisa disesuaikan dengan habitat lobster di alam.

Baca Juga :  Waspadai Perubahan Mental, Psikolog: Ancaman Bunuh Diri Harus Disikapi Serius

“Sangat bisa budidaya Lobster di Tarakan. Asalkan lingkungan asal lobster harus bisa direkayasakan di lokasi budidaya. Misalkan, Kerjamba Jaring Apung (KJA) yang akan digunakan dasarnya dibuat bebatuan, berpasir dan seperti habitat aslinya. Kemudian ombak dan salinitas juga harus dipertimbangkan,” tuntas Firdaus.

Reporter: Kristianto Triwibowo
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *