benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan memprediksi Kalimantan Utara akan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam satu minggu ke depan. Meski peluang hujan meningkat, masyarakat diminta tetap mewaspadai potensi kabut asap kiriman dari d terusaerah lain serta ancaman angin kencang di sejumlah wilayah.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, mengatakan secara umum seluruh wilayah Kalimantan Utara diperkirakan memasuki periode hujan selama sepekan ke depan. Adapun rincian kabupaten dan kota yang berpotensi diguyur hujan akan diperbarui melalui prakiraan cuaca harian BMKG.
“Secara umum dalam satu minggu ke depan Kalimantan Utara diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat,” ujarnya.
Namun, Khilmi mengingatkan hujan yang turun di Kalimantan Utara belum tentu langsung menghilangkan kabut asap. Selama kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah maupun Sulawesi, serta arah angin tetap bergerak dari selatan ke utara, asap masih dapat terbawa ke wilayah Kaltara.
“Walaupun kita hujan, kalau di provinsi lain masih ada karhutla dan anginnya dominan dari selatan ke utara, kita tetap akan merasakan fenomena asap di Kaltara,” ungkapnya.
BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang di sejumlah daerah. Tarakan diprediksi berpotensi mengalami angin kencang pada hari ini, sementara Malinau diperkirakan mengalami kondisi serupa pada hari berikutnya.
Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi karena dapat memicu pohon tumbang, kerusakan atap bangunan yang kurang kokoh hingga robohnya baliho.
“Selain kabut asap, masyarakat juga perlu mengantisipasi angin kencang yang bisa menyebabkan pohon tumbang, atap rusak atau baliho roboh,” terangnya.
Terkait perkembangan kabut asap, BMKG belum dapat memastikan kapan fenomena tersebut akan benar-benar berakhir. Menurut Khilmi, kondisi itu sangat dipengaruhi musim kemarau serta faktor kebakaran yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi.
Ia menjelaskan puncak musim kemarau di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah berlangsung pada September. Curah hujan yang minim membuat permukaan tanah menjadi sangat mudah terbakar sehingga potensi munculnya asap masih tinggi.
“Mudah-mudahan setelah melewati puncak kemarau pada September, memasuki Oktober tingkat kemudahan kebakaran menurun sehingga kejadian karhutla juga ikut berkurang,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







