Ekspansi Hunian Multietnis Ancam Kelestarian Budaya Suku Tidung

benuanta.co.id, TARAKAN – Pergeseran fungsi wilayah menjadi kawasan hunian multietnis dinilai menjadi salah satu ancaman paling nyata terhadap keberlangsungan budaya suku Tidung di Kalimantan Utara (Kaltara), terutama di wilayah perbatasan.

Temuan ini mengemuka dalam riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang telah berjalan sejak 2024, mencakup Kabupaten Nunukan, Kecamatan Sebatik, Kota Tarakan hingga Kabupaten Tana Tidung (KTT).

Penelitian tersebut menyoroti soal perubahan lanskap sosial turut mempercepat memudarnya identitas budaya lokal.

Ketua tim riset, Fairul Zabadi, menegaskan dokumentasi budaya saja tidak cukup jika tidak diikuti upaya menghidupkan kembali praktik budaya di tengah masyarakat.

“Dokumentasi ini penting sebagai langkah awal revitalisasi, agar budaya Tidung tidak hanya tersimpan, tetapi juga bisa dihidupkan kembali dan diwariskan ke generasi berikutnya,” ujarnya.

Dalam riset tahun kedua di Tarakan, tim menemukan sejumlah warisan budaya Tidung masih bertahan, mulai dari permainan tradisional seperti Batu Lele, Lugu (Balugu), Simbon, dan Babitor, hingga kuliner khas seperti Nasi Subut, Nasi Rasul, Sabai Banabok, dan Ketumpuk Udang.

Ritual adat seperti Mandi Safar, Melarung Kapal ke Laut, dan Besetan Badewa juga masih dijalankan, begitu pula tradisi sosial Nyembaloy dan Bekeparat yang menjadi perekat hubungan sosial masyarakat.

Kendati demikian, keberadaan budaya tersebut kini menghadapi tekanan serius. Selain globalisasi dan tingginya interaksi lintas etnis, perubahan wilayah menjadi ruang hidup bersama berbagai kelompok masyarakat membuat ruang ekspresi budaya Tidung semakin menyempit.

Di wilayah Sebatik, kondisi ini diperparah dengan kuatnya pengaruh budaya negara tetangga yang masuk melalui aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan pelestarian budaya tidak hanya bersifat internal, tetapi juga dipengaruhi dinamika lintas batas.

BRIN menilai, tanpa intervensi yang konkret, perubahan kawasan ini berpotensi menggeser praktik budaya dari ruang publik menjadi sekadar simbol atau bahkan hilang secara perlahan.

Oleh karena itu, revitalisasi budaya didorong tidak hanya melalui dokumentasi, tetapi juga penguatan ruang-ruang praktik budaya, termasuk melalui pendidikan, pertunjukan seni, hingga festival budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Dalam riset ini menyimpulkan, keberlangsungan budaya Tidung sangat ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi di tengah perubahan ruang hidup yang semakin kompleks.

“Revitalisasi menjadi kunci agar budaya Tidung tidak hilang, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman,” tutupnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *