oleh

Cerita Darman, Napi Asimilasi Mengaku Dapat Banyak Pengetahuan Baru di Lapas Tarakan

TARAKAN – Darman, satu dari 6 narapidana asimilasi dari Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II Kota Tarakan mengaku turut senang dibina untuk berbuat kebaikan dan terlibat dalam aksi Bakti Sosial (Baksos) memperbaiki jalan berlubang di Jalan Adityawarman, Karang Balik, Selasa (28/7/2020) tadi pagi.

Untuk diketahui, kegiatan ini merupakan program lanjutan dari Direktorat Jenderal Permasyarakatan untuk resolusi pemasyarakatan tahun 2020. Yakni sebagai sarana asimilasi dan edukasi yang tengah digalakkan di seluruh Lapas di Indonesia. Termasuk Lapas Tarakan yang sebelumnya juga telah dibuka melalui penanaman sebukit durian beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Peduli Lingkungan, Lapas Tarakan Ajak 6 Napi Asimilasi Semen Jalanan di Karang Balik

“Sangat bermanfaat bagi kita (Napi) karena ketika keluar nanti ada pengetahuan dan semangat yang baru juga, seperti yang sekarang ini kita lakukan (semenisasi),” ujar Darman kepada benuanta.co.id, Selasa (28/7/2020).

Gaya pria berusia 40 tahun ini ketika mencampur komposisi material bangunan seperti semen, pasir dan kerikil, lalu meratakan semenisasi ke poros jalan yang berlubang tersebut juga terlihat ulet.

Bahkan, warga setempat juga sempat mengira perbaikan jalan tersebut dikerjakan oleh jasa konstruksi bangunan. Sebab, Darman dan Warga Binaan Permasyarakatan (WBP) lainnya terlihat meyakinkan dan menguasai perkakas yang digengamnya. “InsyaAllah kalau panjang umur dan kami keluar (bebas) sudah banyak pengalaman dari Lapas Tarakan ini,” imbuhnya.

Sejatinya, Darman pun mengakui, dulunya tak memiliki keterampilan lain selain menangkap ikan dengan menggunakan bom. Yang mana kasus itu juga membuatnya mendekam di jeruji besi beberapa tahun silam.

“Sebelumnya sama sekali tidak tahu (kerja bangunan) karena setelah di dalam Lapas dibina, sekarang jadi banyak tahu kerjaan ini dan bisa dimanfaatkan,” terangnya.

Darman juga menuturkan, saat masa hukumannya habis nanti, Ia berniat tak akan lagi mencari nafkah dan jatuh di lubang yang sama dengan cara merusak lingkungan atau mengancam habitat satwa bahari di perairan Tarakan, atau tempat lainnya menggunakan alat peledak.

“Kalau bebas nanti bisa juga kerja bangunan begini. Karena yang melanggar undang-undang begini saya sudah tahu juga mana yang dilarang, mana yang tidak. Bisa juga kerja lain karena banyak keahlian dari hasil pembinaan yang bisa kita manfaatkan nanti, seperti kerja bangunan ini, terus betani dan banyak lagi pengalaman dari Lapas yang bisa kita kerjakan kalau bebas nanti,” jelasnya.

Kepala Lapas Kelas II Tarakan, Yosef Benyamin Yanbise mengatakan, kegiatan yang melibatkan 6 Napi tersebut memang tengah dipersiapkan agar bisa diterima oleh masyarakat, yang mana sesuai dengan motto para Napi, yakni “Kemarin Aku melanggar, hari ini aku belajar, esok aku ikut membangun” dari Lapas Tarakan untuk diberikan pembinaan.

“Narapidana ini sebentar lagi mau bebas, jadi sebelum bebas supaya mereka bisa diterima oleh masyarakat, kita libatkan dalam kegiatan seperti ini, ini bagian dari asimilasi bagaimana membaurkan mereka dengan masyrakat. Sehingga keluar nanti mereka sudah belajar, dibina, dan mereka akan mengabdi kepada masyarakat membangun juga. Karena di Lapas kita berusaha untuk memberikan pembinaan kepada mereka, sehingga mereka ikut melaksanakan dan mendukung program-program pemerintah,” tandasnya.(*)

 

Reporter : Yogi Wibawa

Editor : M. Yanudin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed