benuanta.co.id, TARAKAN – Harga konsumen di Kota Tarakan mengalami penurunan pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan mencatat deflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,57 persen. Angka tersebut menjadi pembalikan setelah Tarakan mengalami inflasi pada Mei dan Juni 2026. Namun, deflasi bulanan tersebut belum serta-merta membuat tekanan harga sepanjang tahun hilang.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi mengatakan, hingga Juli 2026 inflasi kalender atau year to date (y-to-d) Tarakan tercatat sebesar 1,29 persen. Sementara inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) masih berada di angka 2,60 persen.
“Deflasi month to month Kota Tarakan pada Juli 2026 tercatat sebesar 0,57 persen. Cabai rawit dominan memberikan andil deflasi month to month, bersama emas perhiasan dan tomat,” sebutnya.
Penurunan harga pada Juli terutama ditopang kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,51 persen. Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menyumbang deflasi 0,08 persen, sedangkan Kelompok Transportasi memberikan andil deflasi 0,01 persen.
Di sisi lain, sejumlah kelompok justru masih memberikan tekanan inflasi. Kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga, Kelompok Kesehatan, serta Kelompok Pendidikan masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.
Komoditas pangan menjadi faktor paling menentukan dalam deflasi Tarakan pada Juli. Cabai rawit memberikan andil deflasi terbesar, yakni minus 0,2536 persen. Kemudian emas perhiasan minus 0,0886 persen dan tomat minus 0,0851 persen.
Penurunan juga terjadi pada harga bawang merah dengan andil minus 0,0592 persen, sawi hijau minus 0,0528 persen, telur ayam ras minus 0,0381 persen, daging ayam ras minus 0,0256 persen, serta terong minus 0,0169 persen.
Sementara dari sektor transportasi, angkutan udara memberikan andil deflasi minus 0,0285 persen dan angkutan laut minus 0,0258 persen. Namun, tidak seluruh komoditas mengalami penurunan harga.
Beras justru menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Juli dengan andil 0,0354 persen. Berikutnya bensin 0,0304 persen, sigaret putih mesin 0,0178 persen, sepeda motor 0,0117 persen, dan sekolah dasar 0,0089 persen. Kentang, minyak goreng, kangkung, ikan kembung, dan karpet juga masuk dalam daftar komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi.
Meski Juli mencatat deflasi cukup dalam, angka inflasi tahunan Tarakan sebesar 2,60 persen masih sedikit berada di atas target inflasi 2,5 persen. BPS memperkirakan, apabila pola inflasi pada sisa bulan 2026 setelah Juli sama dengan pola yang terjadi pada 2025, inflasi Tarakan sepanjang 2026 berpotensi berada di sekitar 2,60 persen.
Menurutnya, ruang Tarakan untuk menjaga inflasi agar berada tepat di sekitar target masih relatif terbatas.
“Dengan mengacu besaran inflasi year on year, jika besaran inflasi di sisa bulan pada 2026 setelah Juli memiliki pola yang sama dengan 2025, maka inflasi Kota Tarakan sepanjang tahun 2026 diperkirakan mencapai 2,6 persen,” jelasnya.
Proyeksi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa deflasi Juli belum dapat dibaca sebagai tanda bahwa tekanan inflasi telah sepenuhnya mereda. Sebab, sejumlah komoditas strategis masih mengalami kenaikan harga. Beras dan bensin, misalnya, menjadi dua komoditas dengan andil inflasi terbesar pada Juli. Dibandingkan dengan Kaltara, inflasi tahunan Tarakan masih lebih tinggi.
Pada Juli 2026, Kaltara mencatat deflasi bulanan sebesar 0,68 persen, lebih dalam dibandingkan Tarakan yang berada di angka 0,57 persen. Inflasi kalender Kaltara tercatat 1,21 persen dan inflasi tahunan 2,00 persen.
Sementara secara nasional, deflasi Juli hanya mencapai 0,14 persen. Inflasi kalender tercatat 1,65 persen dan inflasi tahunan 2,88 persen. Dengan angka tersebut, inflasi tahunan Tarakan sebesar 2,60 persen berada di atas Kaltara yang hanya 2,00 persen, tetapi masih di bawah inflasi nasional sebesar 2,88 persen.
Kondisi ini membuat perkembangan harga pada bulan-bulan berikutnya menjadi penting. Jika kenaikan komoditas strategis kembali terjadi, terutama pada kelompok pangan dan energi, ruang Tarakan untuk mempertahankan inflasi di sekitar target 2,5 persen akan semakin sempit. Sebaliknya, apabila tren penurunan harga komoditas pangan dapat dipertahankan, deflasi Juli berpotensi menjadi salah satu faktor yang membantu menahan laju inflasi hingga akhir tahun. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







