Dampak Pelemahan Rupiah, Pengamat: Harga BBM hingga Barang Impor Berpotensi Naik

benuanta.co.id, TARAKAN – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai berpotensi memberikan dampak langsung terhadap perekonomian nasional, mulai dari kenaikan harga barang impor hingga meningkatnya tekanan inflasi.

Pengamat ekonomi Tarakan sekaligus akademisi Universitas Borneo Tarakan, Margiyono menjelaskan, tekanan terhadap rupiah berawal dari meningkatnya konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memicu kekhawatiran terhadap distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.

Menurutnya, setiap potensi gangguan di jalur tersebut selalu diikuti kenaikan harga minyak dunia. Akibatnya, kebutuhan impor minyak Indonesia menjadi lebih mahal sehingga permintaan terhadap dolar Amerika Serikat meningkat.

Baca Juga :  Ekspor Tarakan-Hong Kong Macet, Ekonom: Pasar Luar Negeri Tetap Kebutuhan Utama

“Kalau sebelumnya harga minyak sekitar 60 hingga 70 dolar per barel kemudian naik menjadi sekitar 100 dolar per barel, otomatis kebutuhan dolar untuk impor juga ikut meningkat. Ketika permintaan dolar naik, maka nilai tukarnya menguat dan rupiah mengalami tekanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah dan Bank Indonesia telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk meredam pelemahan rupiah. Dari sisi moneter, Bank Indonesia meningkatkan instrumen Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN), serta mengoptimalkan skema Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) dan Non Deliverable Forward (NDF) sebagai instrumen stabilisasi pasar valuta asing.

Selain itu, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga acuan secara bertahap. Pada pertengahan Mei, suku bunga dinaikkan sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen, kemudian kembali naik menjadi 5,5 persen melalui kenaikan 25 basis poin berikutnya. Tingkat imbal hasil SRBI juga meningkat dari 6,25 persen menjadi 6,5 persen.

Baca Juga :  BI Rate Naik, Pakar Ekonomi Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Barang Impor dan Perlambatan Kredit

“Kenaikan suku bunga diharapkan mampu menahan dana tetap berada di dalam negeri sehingga tidak terjadi capital outflow dan konversi dolar ke rupiah semakin besar,” jelasnya.

Margiyono mengingatkan, apabila rupiah terus melemah maka harga barang impor akan semakin mahal. Indonesia sendiri masih bergantung pada impor lima komoditas utama, yakni minyak bumi dan BBM, mesin industri, peralatan elektronik seperti telepon genggam, laptop dan televisi, baja untuk konstruksi, serta plastik dan bahan baku plastik.

Baca Juga :  Pertamax Naik Rp4.100 per Liter Mulai 10 Juni, SPBU Sengkawit: Informasi Diterima Mendadak

Kenaikan harga komoditas impor tersebut berpotensi mendorong inflasi nasional. Namun demikian, ia menilai kondisi ekonomi Indonesia masih cukup kuat karena tingkat inflasi berada pada kisaran target sekitar 2,5 persen sehingga dampak kenaikan harga masih dapat dikendalikan.

“Yang menggunakan BBM non subsidi tentu akan merasakan dampaknya. Masyarakat di wilayah perbatasan yang banyak membeli produk Malaysia juga akan menghadapi kenaikan harga akibat penguatan ringgit terhadap rupiah,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *