benuanta.co.id, TARAKAN – Pembukaan rute penerbangan internasional Tarakan–Hong Kong juga dipandang sebagai peluang besar bagi penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya dalam meningkatkan akses pasar, kapasitas produksi, serta kemampuan bersaing di tingkat global, namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara optimal apabila didukung oleh pelatihan, pendampingan, serta keterlibatan berbagai pihak seperti pemerintah, BUMN, dan sektor swasta.
Pengamat ekonomi Kaltara, Dr. Syaiful Anwar, SE., M.Si., mengungkapkan UMKM di Kaltara harus diberi ruang lebih besar untuk berkembang agar mampu naik kelas dan tidak hanya berorientasi pada pasar lokal, melainkan juga mampu masuk ke rantai perdagangan internasional yang lebih kompetitif.
“UMKM itu harus diberikan peluang dan kesempatan untuk kiprah langsung, sudah harus naik tingkat,” ungkapnya, Sabtu (16/5/2026).
Ia menjelaskan peningkatan kapasitas UMKM tidak hanya sebatas produksi, tetapi juga mencakup kemampuan dalam pengemasan, standardisasi produk, dan strategi pemasaran, sehingga pemerintah daerah dinilai perlu memberikan pelatihan yang berkelanjutan agar produk UMKM mampu memenuhi standar ekspor.
“Mereka harus diberi pelatihan, termasuk cara mengemas produk supaya bisa masuk pasar luar negeri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dr. Syaiful menyoroti pentingnya keterlibatan BUMN dan sektor swasta dalam memperkuat ekosistem UMKM, karena menurutnya kontribusi UMKM terhadap perekonomian daerah cukup signifikan dan bahkan pernah mencapai ratusan miliar rupiah dalam satu tahun, sehingga sektor ini tidak boleh diabaikan dalam kebijakan ekonomi daerah.
“Sumbangsih UMKM terhadap PAD itu hampir Rp500 miliar setahun,” ujarnya.
Ia juga memperkirakan jumlah UMKM di Kaltara telah berkembang hingga puluhan ribu pelaku usaha, yang menurutnya menunjukkan bahwa sektor ini memiliki basis ekonomi yang kuat dan terus bertumbuh, sehingga pemerintah perlu memastikan keberlanjutan dukungan agar pertumbuhan tersebut tidak stagnan.
“Sekarang mungkin sudah sekitar 45 ribu UMKM di Kaltara dan terus berkembang,” terangnya.
Menurutnya, salah satu komoditas UMKM yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan ke pasar ekspor adalah produk olahan perikanan seperti ikan kering, karena memiliki permintaan yang tinggi di negara seperti Hong Kong dan Singapura, namun selama ini belum dioptimalkan karena keterbatasan akses pasar dan promosi.
“Permintaan ikan kering itu luar biasa, kalau ke luar negeri bisa sangat diminati,” ujarnya.
Dr. Syaiful menambahkan persoalan utama UMKM bukan hanya pada produksi, tetapi juga pada minimnya promosi dan kurangnya akses informasi pasar internasional, sehingga banyak pelaku usaha yang belum mengetahui jalur pemasaran yang tepat untuk menembus pasar ekspor.
“UMKM ini masih minim promosi, jadi belum tahu harus ke mana memasarkan produknya,” bebernya.
Selain itu, ia menyoroti keterbatasan modal yang masih menjadi kendala utama pelaku UMKM, sehingga diperlukan intervensi dari pemerintah maupun BUMN untuk memberikan dukungan pembiayaan agar usaha kecil dapat berkembang lebih cepat dan mampu bersaing.
“Pelaku usaha kita modalnya masih pas-pasan, perlu keterlibatan BUMN untuk membantu,” imbuhnya.
Dr. Syaiful mengaitkan peluang ekspor ini dengan hadirnya proyek strategis nasional dan kawasan industri di Kaltara yang dinilai dapat memperkuat ekosistem industri daerah, baik melalui jalur laut maupun udara, sehingga integrasi sektor ekonomi menjadi semakin penting untuk mendorong pertumbuhan daerah.
“Kalau kawasan industri sudah jalan, itu sangat mendukung ekspor Kaltara,” lanjutnya.
Namun demikian, ia kembali menekankan bahwa keberhasilan rute Tarakan–Hong Kong harus dijaga keberlanjutannya agar tidak mengalami nasib seperti rute sebelumnya yang sempat berhenti di tengah jalan, karena menurutnya konsistensi adalah kunci utama dalam membangun kepercayaan pelaku usaha dan pasar internasional.
“Dulu sempat semangat di awal tapi tidak sampai setahun sudah mandek,” tuturnya.
Dr. Syaiful berharap agar seluruh pihak dapat bersinergi menjaga keberlanjutan rute ini sehingga tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi benar-benar memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat Kaltara melalui peningkatan perdagangan, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan PAD.
“Kalau ini berjalan terus, ekonomi Kaltara akan bergerak dan tenaga kerja juga terserap,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







