Kebutuhan Uang Tunai di Kaltara Masih Tinggi, Outflow Tembus Rp800,4 Miliar 

benuanta.co.id, TARAKAN – Aktivitas peredaran uang tunai di Provinsi Kalimantan Utara pada awal 2026 masih tergolong tinggi. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara mencatat aliran uang keluar (outflow) mencapai Rp800,4 miliar hingga April 2026.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik mengatakan tingginya outflow tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai yang masih besar, meskipun penggunaan transaksi digital terus mengalami perkembangan.

“Peredaran uang kartal di Kaltara masih relatif tinggi. Sampai April 2026, nilai outflow tercatat sekitar Rp800,4 miliar,” katanya.

Di sisi lain, aliran uang masuk (inflow) tercatat sebesar Rp744,3 miliar. Dengan capaian tersebut, Kaltara masih berada dalam kondisi net outflow, yakni jumlah uang yang keluar lebih besar dibandingkan uang yang masuk.

Hasiando menjelaskan, tingginya kebutuhan uang tunai dipengaruhi pola aktivitas ekonomi masyarakat yang masih didominasi transaksi secara tunai, khususnya di sejumlah daerah yang akses layanan digitalnya belum merata.

Menurutnya, meskipun digitalisasi sistem pembayaran terus tumbuh, penggunaan uang tunai tetap menjadi kebutuhan utama masyarakat di beberapa wilayah Kaltara.

Data BI menunjukkan puncak outflow terjadi pada Maret 2026 dengan nilai mencapai Rp460,8 miliar. Peningkatan tersebut dipicu naiknya kebutuhan uang tunai masyarakat selama momentum Ramadan dan Idulfitri.

“Periode Ramadan dan Idulfitri biasanya mendorong peningkatan kebutuhan uang tunai untuk berbagai aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, inflow tertinggi tercatat pada Januari 2026 sebesar Rp256,4 miliar.

Selain memastikan kecukupan uang beredar, BI juga melakukan pemusnahan uang tidak layak edar (UTLE). Hingga April 2026, nilai uang yang dimusnahkan mencapai Rp193 miliar atau sekitar 26 persen dari total inflow.

Hasiando menyebut langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas uang rupiah yang beredar agar tetap layak digunakan dan mudah dikenali masyarakat.

Di samping itu, BI terus memperkuat distribusi uang rupiah hingga wilayah perbatasan serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui layanan kas titipan dan kas keliling.

Saat ini, fasilitas kas titipan BI tersedia di Tanjung Selor, Malinau, dan Nunukan guna mendukung kelancaran distribusi uang layak edar di daerah.

Menurut Hasiando, keberadaan kas titipan tersebut penting untuk mempercepat pelayanan kebutuhan uang tunai masyarakat, terutama di wilayah yang berjarak jauh dari kantor BI.

“Kami akan terus memastikan ketersediaan uang rupiah tetap terjaga, baik dari sisi jumlah maupun kualitas, termasuk untuk masyarakat di wilayah perbatasan dan daerah 3T di Kaltara,” tutupnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *