Ekonom: Kaltara Kaya SDA tapi Kontribusi Ekonomi Terendah di Kalimantan

Ekonomi8 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Kalimantan Utara (Kaltara) memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang besar, namun kontribusinya terhadap perekonomian Pulau Kalimantan masih menjadi yang terendah. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih besarnya potensi daerah yang dapat dikembangkan untuk memperkuat perekonomian Kaltara.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, ekonomi daerah tumbuh 4,96 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Kaltara pada semester I 2026 mencapai 5,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Akademisi sekaligus Ekonom Kaltara, Dr. Syaiful Anwar, S.E., M.Si., menilai capaian pertumbuhan tersebut masih tergolong baik. Namun, angka pertumbuhan itu perlu dilihat bersama posisi Kaltara dalam struktur perekonomian Pulau Kalimantan yang kontribusinya masih paling rendah

““Masih bagus pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara, terutama kalau di kisaran di atas lima persen,” ungkapnya, Rabu (12/8/2026).

BPS mencatat kontribusi Kaltara terhadap total perekonomian Pulau Kalimantan pada triwulan II 2026 sebesar 8,04 persen. Angka tersebut menjadi yang terkecil dibandingkan provinsi lain di Kalimantan, sementara Kalimantan Timur menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 46,70 persen.

Baca Juga :  BPS Catat 6 Ribu Orang Menganggur di Tarakan, Paling Banyak Lulusan Sarjana

Menurut Dr. Syaiful, rendahnya kontribusi tersebut salah satunya berkaitan dengan potensi SDA Kaltara yang belum digali secara maksimal. Padahal, daerah ini memiliki berbagai komoditas seperti batu bara, minyak, dan gas yang dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikembangkan secara optimal.

“Kita punya SDA, tetapi belum digali secara masif,” katanya.

Ia mengatakan optimalisasi potensi tersebut membutuhkan dukungan investasi. Menurutnya, masuknya investor dapat membantu membuka dan mengembangkan potensi SDA yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Belum digali secara masif atau mendatangkan investor untuk itu,” jelasnya.

Namun, Dr. Syaiful mengingatkan pemerintah agar tidak hanya mengejar masuknya investasi tanpa memperhatikan kondisi sosial di daerah. Menurutnya, investasi yang masuk terkadang dapat menimbulkan gejolak apabila kepentingan masyarakat sekitar tidak diperhatikan.

“Kalau investor masuk di daerah, kadang-kadang menimbulkan gejolak sosial,” bebernya.

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Borong 10 Penghargaan ISRA 2026

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memastikan adanya rasa aman bagi investor sekaligus membangun kerja sama dengan tokoh-tokoh masyarakat. Dengan demikian, investasi dapat berjalan dan masyarakat sekitar tetap memperoleh ruang untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi.

“Rasa aman bagi investor juga harus dijamin,” tegasnya.

Dr. Syaiful menekankan masyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi penonton dari perkembangan investasi di Kaltara. Menurutnya, keberadaan investasi harus memberikan manfaat melalui keterlibatan masyarakat, UMKM, hingga tenaga kerja lokal sehingga tercipta efek berganda bagi perekonomian daerah.

“Masyarakat juga harus dilibatkan dan ikut mendapatkan manfaat,” terangnya.

Ia mencontohkan pengembangan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Mangkupadi sebagai salah satu proyek yang diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi lebih besar bagi Kaltara ketika telah beroperasi. Menurutnya, manfaat proyek tersebut harus dirasakan tidak hanya oleh perusahaan, tetapi juga daerah dan masyarakat sekitar.

“Kalau memang sudah operasional, itu juga harus memberikan nilai tambah kepada daerah maupun masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga :  Ekonomi Kaltara Tumbuh tapi Pangan Masih Bergantung dari Luar

Selain KIHI, Dr. Syaiful juga menyinggung perkembangan pembangkit listrik tenaga air di Mentarang. Menurutnya, proyek tersebut juga perlu diarahkan agar memberikan manfaat bagi perekonomian daerah dan masyarakat.

“Supaya ada manfaatnya kepada daerah dan juga masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap pengembangan investasi dan SDA di Kaltara dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi sekaligus memperbaiki posisi daerah dalam perekonomian Pulau Kalimantan. Menurutnya, pertumbuhan di atas lima persen masih dapat ditingkatkan apabila berbagai potensi ekonomi daerah dikembangkan secara optimal.

“Misalkan 5,6 atau mendekati enam persen, itu sangat bagus,” bebernya.

Di sisi lain, Dr. Syaiful mengingatkan pemerintah agar pengembangan SDA tidak membuat Kaltara semakin bergantung pada satu atau beberapa sektor saja. Sektor pertanian, peternakan, perkebunan, UMKM, serta sektor potensial lainnya tetap perlu diperkuat agar struktur ekonomi daerah lebih beragam.

“Jangan hanya satu sektor saja yang diperhatikan, sektor-sektor lain juga harus diperhatikan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *