benuanta.co.id, TARAKAN – Tingkat pengangguran terbuka di Kota Tarakan tercatat sebesar 5,06 persen pada Agustus 2025 atau setara dengan sekitar 6.064 orang. Menariknya, kelompok pengangguran terbesar justru berasal dari penduduk dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan, Umar Riyadi, mengungkapkan berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, pengangguran dari lulusan perguruan tinggi mencapai 39,13 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kelompok lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mencapai 38,21 persen. Sementara pengangguran lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tercatat 13,82 persen dan lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah sekitar 9 persen.
“Kalau bicara pengangguran, pengangguran terbesar itu justru disumbangkan dari perguruan tinggi. Secara persentase 39,13 persen,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya pengangguran pada kelompok berpendidikan tinggi tidak terlepas dari ekspektasi terhadap pekerjaan dan upah yang diharapkan. Seseorang yang telah menempuh pendidikan hingga jenjang sarjana, kata Umar, umumnya memiliki harapan memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang dianggap sepadan dengan tingkat pendidikannya.
Persoalannya, dalam transaksi di pasar tenaga kerja, harapan pencari kerja belum tentu bertemu dengan kebutuhan maupun kemampuan perusahaan dalam memberikan upah.
“Penerima pekerjaan dengan pencari kerja itu tidak menemukan kata sepakat. Pencari kerja bisa memilih menurunkan expected wage atau upah yang diharapkan dan masuk pasar kerja, atau menanti pekerjaan dengan salary yang diharapkan,” jelasnya.
Sebaliknya, kelompok dengan tingkat pendidikan lebih rendah cenderung memiliki pilihan yang lebih terbatas. Ketika pekerjaan tersedia, mereka dinilai lebih mudah mengambil pekerjaan tersebut demi memenuhi kebutuhan hidup, meski penghasilannya tidak tinggi.
Kondisi itu menunjukkan persoalan pengangguran tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, tetapi juga menyangkut kesesuaian antara kompetensi, ekspektasi upah dan kebutuhan pasar kerja.
Saat ini, BPS Tarakan masih melaksanakan Sakernas Agustus 2026. Data terbaru terkait kondisi ketenagakerjaan Kota Tarakan nantinya diproyeksikan dirilis sekitar Desember atau akhir 2026. Meski data Kota Tarakan untuk 2026 belum tersedia, Umar menyebut gambaran di tingkat Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan tren positif. Pada posisi Mei 2026, tingkat pengangguran terbuka di Kalimantan Utara secara keseluruhan menunjukkan penurunan.
Namun, menurutnya, angka pengangguran tidak dapat dibaca secara tunggal. Pemerintah juga perlu melihat tingkat partisipasi angkatan kerja. Sebab, penduduk usia 15 tahun ke atas terbagi menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja merupakan gabungan penduduk yang bekerja dan mereka yang sedang mencari pekerjaan atau menganggur. Sementara bukan angkatan kerja mencakup mereka yang masih sekolah atau kuliah, mengurus keluarga dan aktivitas lainnya.
“Ketika tingkat partisipasi angkatan kerja menurun, itu patut dicurigai bahwa banyak usia produktif yang tidak terlibat dalam pekerjaan atau mencari pekerjaan,” katanya.
Umar bahkan menyoroti kelompok usia muda yang tidak bekerja, tidak mencari pekerjaan, tidak bersekolah atau kuliah dan tidak mengikuti pelatihan. Kondisi tersebut dikenal sebagai kelompok yang tidak terlibat dalam pekerjaan, pendidikan maupun pelatihan.
Di tingkat Kalimantan Utara, kelompok penduduk usia 15-24 tahun yang berada dalam kondisi tersebut meningkat dari 16,87 persen pada 2024 menjadi 18,88 persen pada 2025. Menurut Umar, kondisi itu harus menjadi perhatian serius karena dapat menjadi ancaman terhadap pemanfaatan bonus demografi.
“Ketika usia produktif tidak bekerja, tidak mencari pekerjaan, tidak kuliah dan tidak ikut training, ini menjadi catatan. Kalau bicara bonus demografi, ini merupakan ancaman,” tegasnya.
Indonesia sendiri masih berada dalam fase bonus demografi, ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif. Namun berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025, Indonesia juga mulai memasuki fase aging population atau penduduk menua.
Suatu wilayah dikategorikan memasuki aging population ketika sekitar satu dari 10 penduduknya merupakan lansia. Kondisi ini akan menjadi tantangan tersendiri karena pemerintah harus memastikan penduduk lanjut usia tetap dapat produktif sekaligus mengurangi potensi beban ekonomi.
Oleh karena itu, Umar menilai keputusan seseorang untuk tetap mencari pekerjaan merupakan langkah penting. Menurutnya, seseorang yang aktif mencari pekerjaan masih memiliki peluang untuk masuk ke pasar kerja dibandingkan mereka yang memilih tidak melakukan aktivitas produktif.
Di sisi lain, momentum kelulusan mahasiswa juga berpotensi memengaruhi angka pengangguran. Setiap tahun, lulusan baru akan masuk ke kelompok angkatan kerja ketika memilih mencari pekerjaan.
“Ketika peserta didik lulus, pilihannya apakah masuk dalam pasar kerja dengan mencari pekerjaan atau masih menanti. Potensi membesarnya tingkat pengangguran memang bisa terjadi ketika para siswa atau peserta didik lulus dan menjadi bagian dari angkatan kerja,” tuturnya.
Persoalannya kemudian kembali pada kemampuan pasar kerja menyerap tambahan angkatan kerja tersebut. Berdasarkan Sakernas Agustus 2025, sektor jasa menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Kota Tarakan dengan kontribusi 57,87 persen. Kemudian sektor manufaktur sebesar 24,51 persen dan sektor pertanian 17,62 persen.
Komposisi tersebut sejalan dengan struktur perekonomian Tarakan, di mana sektor perdagangan masih menjadi salah satu sektor yang mendominasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Tarakan. Kondisi itu menjadi sinyal bagi lembaga pendidikan dan pencari kerja agar tidak hanya berorientasi pada ijazah, tetapi juga memastikan kompetensi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan pasar.
Bagi pencari kerja yang ingin masuk sektor manufaktur, misalnya, Umar menekankan pentingnya memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Sementara pada sektor jasa, keterampilan yang relevan juga menjadi faktor penting karena sektor tersebut menyerap tenaga kerja paling besar.
“Penting bagi pencari kerja mencocokkan skill dengan kebutuhan perusahaan atau penyedia pekerjaan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







