benuanta.co.id, TARAKAN – Pembukaan rute penerbangan internasional Tarakan–Hong Kong oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai sebagai momentum strategis dalam memperkuat konektivitas perdagangan global daerah, khususnya pada sektor unggulan seperti perikanan, perkebunan, dan UMKM, namun keberhasilan program ini sangat bergantung pada keberlanjutan kerja sama dengan maskapai, kesiapan suplai komoditas, serta kemampuan pelaku usaha dalam memenuhi standar pasar internasional.
Pengamat ekonomi Kaltara, Dr. Syaiful Anwar, SE., M.Si., mengungkapkan sebenarnya Kaltara telah memiliki pengalaman dalam membuka jalur perdagangan internasional melalui udara pada masa sebelumnya, yakni rute Tarakan–Singapura yang saat itu didorong oleh tingginya permintaan pasar luar negeri terhadap komoditas perikanan daerah, sehingga menurutnya pola permintaan pasar menjadi faktor utama dalam keberhasilan ekspor udara.
“Dulu sudah pernah ada perdagangan internasional via udara ke Singapura, terutama karena ada demand dari buyer di sana di sektor perikanan,” ungkapnya, Sabtu (16/5/2026).
Ia menjelaskan komoditas ekspor yang saat ini paling dominan masih berasal dari sektor perikanan dengan bentuk produk yang umumnya belum mengalami hilirisasi, seperti kepiting, ikan, dan cumi yang masih dijual dalam kondisi mentah, sehingga menurutnya tantangan utama Kaltara bukan hanya pada akses pasar tetapi juga pada peningkatan nilai tambah produk.
“Masih kebanyakan mentah, seperti ikan, kepiting, dan cumi, belum dalam bentuk produk olahan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pengalaman sebelumnya menunjukkan rute internasional Tarakan–Singapura sempat terhenti meskipun baru berjalan kurang dari satu tahun, yang menurutnya disebabkan oleh persoalan teknis operasional maskapai serta ketidakstabilan jadwal penerbangan langsung yang tidak memiliki transit sehingga berdampak pada keberlanjutan logistik ekspor.
“Dulu itu sempat macet, belum sampai satu tahun, karena kendalanya di maskapai dan rutenya langsung tanpa singgah,” ujarnya.
Dr. Syaiful mengatakan selain faktor transportasi, ketidakseimbangan antara permintaan pasar internasional dan kemampuan produksi daerah juga menjadi persoalan krusial, karena meskipun permintaan tinggi, suplai dari pelaku usaha lokal sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan secara konsisten.
“Kadang demand itu banyak, tapi supply tidak terpenuhi,” tegasnya.
Menurutnya, peluang ekspor Kaltara tidak hanya terbatas pada sektor perikanan, tetapi juga mencakup sektor perkebunan seperti kopi dan kakao yang memiliki potensi besar untuk masuk pasar Hong Kong dan negara lain di Asia, terlebih tren konsumsi kopi global yang terus meningkat sehingga membuka ruang pasar yang lebih luas bagi komoditas lokal.
“Sekarang orang senang ngopi, jadi apakah ada permintaan kopi di Hong Kong itu harus didorong,” imbuhnya.
Ia juga menilai bahwa sektor manufaktur berbasis bahan baku lokal seperti rotan memiliki peluang ekspor yang tidak kalah penting, mengingat beberapa produk rotan dari wilayah sekitar Kaltara bahkan telah berhasil menembus pasar Korea Selatan meskipun masih terbatas pada volume dan frekuensi pengiriman.
“Rotan itu sudah ada yang ekspor ke Korea Selatan, tapi masih perlu ditingkatkan lagi,” tambahnya.
Ia menekankan jika seluruh sektor unggulan tersebut dapat bergerak secara terintegrasi dan berkelanjutan, maka dampaknya akan terlihat pada peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah, penerimaan pajak ekspor, hingga peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari aktivitas perdagangan internasional.
“Kalau semua sektor bergerak, ekonomi Kaltara ikut naik dan kita juga dapat PAD dari pajak ekspor,” tuturnya.
Selain itu, Dr. Syaiful menilai keberlanjutan rute internasional ini sangat bergantung pada adanya kerja sama formal antara pemerintah daerah dan maskapai penerbangan melalui perjanjian atau MoU yang menjamin konsistensi jadwal dan operasional penerbangan, karena tanpa kepastian tersebut, keberlangsungan rute sangat rentan berhenti di tengah jalan.
“Harus ada MoU dengan maskapai supaya ada jaminan armada dan keberlanjutan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak boleh hanya bersifat sementara atau euforia di awal, karena pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa semangat tinggi di awal sering kali tidak diikuti dengan keberlanjutan program hingga jangka panjang.
“Jangan semangatnya di awal saja, nanti di akhir-akhir tidak jalan lagi,” terangnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa daya saing produk Kaltara di pasar internasional harus dijaga melalui tiga aspek utama yaitu kualitas, akses pasar, dan harga, karena tanpa keseimbangan tiga hal tersebut, produk lokal akan sulit bersaing dengan daerah lain yang juga memiliki komoditas serupa.
“Yang penting itu kualitas, market, dan price supaya bisa bersaing,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







