Banjir Sapi dari Luar Daerah Dinilai Rugikan Peternak Lokal di Tarakan

benuanta.co.id, TARAKAN – Ancaman kelebihan pasokan ternak menjelang Idul Adha 2026 dinilai menjadi salah satu faktor yang menekan harga sapi di tingkat peternak lokal di Kota Tarakan.

Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara (Kaltara) menyebut kondisi over supply dapat terjadi apabila jumlah sapi yang masuk dari luar daerah tidak disesuaikan dengan kebutuhan riil pasar.

Kepala BKHIT Kalimantan Utara (Kaltara), Ichi Langlang Buana Machmud mengatakan, kelebihan pasokan ternak berpotensi memengaruhi stabilitas harga, terutama bagi peternak lokal yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan sapi siap jual.

“Kalau kebutuhan 1.300 ekor tapi yang masuk 2.000 ekor, itu over supply. Dampaknya pasti ke harga, dan peternak lokal yang paling terdampak,” ujarnya.

Menurutnya, lalu lintas ternak yang masuk ke Kaltara saat ini masih didominasi dari daerah seperti Gorontalo dan Toli-toli. Seluruh ternak wajib melalui pemeriksaan dokumen dan kesehatan di pelabuhan resmi sebelum didistribusikan.

“Di kami itu dicek semua, dokumen harus sesuai, jenis dan jumlah harus benar, termasuk kondisi fisiknya. Kalau tidak sesuai, tidak bisa diloloskan,” terangnya.

Ia menjelaskan, di Kaltara terdapat delapan titik resmi pemasukan dan pengeluaran hewan yang berada di bawah pengawasan petugas karantina.

Selain pengawasan di pelabuhan, Karantina Kaltara juga menyoroti pentingnya keberadaan Instalasi Karantina Hewan (IKH) di sejumlah wilayah, termasuk Tarakan, Nunukan, dan Sebatik.

Saat ini, penanganan ternak masih dilakukan di lokasi penampungan atau kandang mitra dengan sistem pengawasan dan penyegelan bila diperlukan.

“Kalau ada indikasi penyakit atau perlu pemeriksaan lanjutan, kami segel dulu kandangnya supaya tidak dipindahkan. Segel tidak boleh dibuka sembarangan,” ungkapnya.

Ichi mengatakan, keberadaan IKH nantinya akan memperkuat sistem pengawasan karena seluruh proses karantina dapat dilakukan secara terpusat, mulai dari pemeriksaan hingga observasi kesehatan hewan.

Di sisi lain, peternak lokal mengaku tekanan harga sudah mulai dirasakan akibat masuknya sapi dari luar daerah dengan harga lebih rendah.

Ketua Koperasi Sahabat Maju Sejahtera, Syamsurijal mengatakan peternak lokal rata-rata membutuhkan waktu 10 bulan hingga satu tahun untuk menghasilkan sapi siap jual.

“Kalau dihitung normal, harga bisa di kisaran Rp25 juta. Tapi sapi dari luar masuk dengan bobot yang sama, dijual sekitar Rp23 juta. Ini membuat peternak lokal dirugikan,” sebutnya.

Ia menjelaskan, biaya produksi yang ditanggung peternak mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per ekor per bulan. Dalam satu siklus pemeliharaan, total biaya bisa mencapai jutaan rupiah per ekor, belum termasuk tenaga kerja dan risiko usaha.

Menurutnya, sektor peternakan sapi juga memiliki peran penting dalam penyerapan tenaga kerja di Tarakan.

“Kami mempekerjakan empat sampai lima orang tenaga kerja. Gajinya sekitar Rp4 juta per bulan. Ini yang sering tidak diperhitungkan dalam kebijakan,” tambahnya.

Peternak berharap sinkronisasi data kebutuhan ternak dan penguatan fasilitas karantina dapat menjadi solusi jangka panjang agar distribusi sapi dari luar daerah tetap terkendali tanpa merugikan peternak lokal.

“Kami berharap ada fasilitas karantina yang benar-benar layak, sehingga sapi yang masuk bisa diperiksa dan dirawat dulu sebelum didistribusikan. Dengan begitu semua pihak bisa diuntungkan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *