Wacana Kapal Laut Rute Langsung Tarakan–Surabaya Terkendala Armada

benuanta.co.id, TARAKAN – Perkembangan wacana pembukaan rute langsung Tarakan–Surabaya hingga saat ini masih berada pada tahap koordinasi dengan kantor pusat PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Belum ada keputusan final terkait realisasi trayek tanpa transit tersebut.

Kepala PELNI Cabang Tarakan, Ferdi Ronny Masengi, menjelaskan untuk sementara pola pelayaran masih sama seperti tahun sebelumnya. Penumpang tujuan Surabaya tetap transit melalui Pelabuhan Balikpapan. “Sampai sekarang masih menggunakan pola tahun kemarin, penumpang transit di Balikpapan,” ungkapnya, Selasa (24/2/2026).

Ia mengatakan, pola tersebut dipertahankan dengan pertimbangan efisiensi waktu tempuh kapal. Jika kapal melayani rute langsung dengan jarak lebih panjang, maka waktu kembali ke Tarakan akan semakin lama. “Kalau jarak tempuh semakin panjang, waktu kembali kapal ke Tarakan juga semakin lama,” jelasnya.

Baca Juga :  Realisasi PKB Baru Capai 30 Persen dari Target, Samsat Tarakan Gencarkan Door to Door hingga Layanan Akhir Pekan

Menurutnya, lamanya perputaran kapal berpotensi menimbulkan penumpukan penumpang di Pelabuhan Tarakan. Untuk menghindari hal tersebut, trayek diperpendek agar kapal bisa lebih cepat kembali dan melayani keberangkatan berikutnya. “Kita hindari penumpukan dengan pola trayek yang diperpendek supaya kapal cepat kembali,” tegasnya.

Terkait perkembangan rencana rute langsung Tarakan–Surabaya, Ferdi menyebut pembahasannya sudah dilakukan bersama kantor pusat. Namun hingga kini belum ada keputusan yang dapat diumumkan ke publik. “Rencana pembukaan rute itu sudah kami bicarakan dengan kantor pusat,” katanya.

Baca Juga :  Ekonom Soroti Matinya Angkutan Umum Massal di Kaltara dan Dampaknya bagi Daerah

Ia menambahkan, keterbatasan armada menjadi salah satu pertimbangan utama belum dibukanya rute langsung tersebut. Saat ini jumlah kapal yang tersedia masih harus menyesuaikan kebutuhan trayek yang ada. “Kendala utamanya karena keterbatasan armada kapal,” bebernya.

Ferdi menegaskan kewenangan penentuan pembukaan rute baru sepenuhnya berada di tingkat pusat. Cabang hanya menunggu arahan resmi sebelum melakukan penyesuaian operasional. “Apa pun keputusannya ada di pusat,” tutupnya. (*)

Baca Juga :  Koperasi Merah Putih Dinilai Strategis, Harus Sesuai Karakteristik Daerah

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *