Tak Kunjung Dibayar Pembeli di Surabaya, APRL Nunukan Turunkan 180 Ton Rumput Laut dari Kontainer

benuanta.co.id, NUNUKAN – Ratusan ton rumput laut yang telah di kemas di dalam 12 Kontainer terpaksa harus diturunkan oleh Asosiasi Pengusaha Rumput Laut (APRL) Nunukan dari Kapal Tol Laut di Dermaga Pelabuhan Tunon Taka Nunukan pada Rabu, 13 Desember 2023, pagi.

Hal ini dilakukan oleh APRL lantaran adanya laporan dari anggotanya bahwasanya 180 ton rumput laut siap kirim ke Kota Surabaya itu tak kunjung dibayar oleh para buyer atau pembeli.

“Perjanjian awalnya itu, ketika sudah di masukkan ke dalam Kontainer harusnya sudah dibayar oleh para buyer, tapi hingga jadwal kapal mau berangkat, 12 Kontainer ini tak juga dibayarkan,” kata Ketua APRL Nunukan, Ferry kepada benuanta.co.id, Rabu (13/12/2023).

Ferry mengungkapkan, dari adanya laporan para anggota APRL terkait hal ini, pihaknya kemudian menyurat ke PT Pelni Nunukan dan pihak kapal agar APRL bisa menurunkan 12 Kontainer tersebut.

Langkah ini dilakukan, untuk mengantisipasi para pengusaha tidak mengalami kerugian ataupun menjadi korban penipuan.

Bukan tanpa alasan, lanjut Ferry, beberapa waktu lalu, sejumlah pengusaha rumput laut di Nunukan harus mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah lantaran rumput laut yang telah sampai dikirim tak dibayarkan oleh oknum-oknum pembeli yang tidak bertanggungjawab.

“Intinya kita di sini mengantisipasi, agar kejadian-kejadian yang sebelumnya tidak dialami lagi oleh teman-teman pengusaha yang ada di Nunukan,” ungkapnya.

Sebab, selama ini para pedagang rumput laut di Nunukan hanya melakukan kesepakatan secara lisan dengan bermodalkan keyakinan. Bahkan, jarang ada yang melakukan perjanjian secara tertulis dengan pihak pembeli.

“Biasanya kan tergantung kesepakatan perjanjiannya seperti apa, contohnya ini ada yang setelah barang ini sampai di gudang tujuan baru dibayar kan, ada juga yang setelah naik ke atas kapal baru dibayarkan. Kalau yang 12 ini kan perjanjiannya dibayarkan setelah masuk ke Kontainer tapi dilapangkan setelah sudah masuk dan bahkan kapal sudah mau jalan tak juga dibayarkan, berarti ini kan sudah melanggar kesepakatan perjanjian,” jelasnya.

Ferry mengatakan, 12 Kontainer yang diturunkan itu kemudian dibongkar kembali dan di bawah kembali ke masing-masing gudang penyimpanan milik para pengusaha di Nunukan.

Meski begitu, ia mengatakan jika para pengusaha tetap mengalami kerugian seperti biaya operasional mobil angkutan dan biaya bongkar muat buruh di pelabuhan.

“Makanya APRL di sini hadir untuk menjaga para anggota agar terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan, ke depannya para anggota juga harus bisa lebih selektif lagi dalam memilih atau bekerja sama sama dengan para pembeli,” pungkasnya.(*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *