IDAI Desak Pembukaan Posyandu untuk Cegah Kasus Stunting

benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus stunting di Kota Tarakan dinilai berkembang yang membuat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kaltara mendesak pembukaan posyandu untuk melakukan pencegahan dini.

Didesaknya pembukaan posyandu ini karena dinilai mampu membantu meningkatkan gizi anak untuk mencegah stunting.

Ketua IDAI Kalimantan Utara, dr. Franky Sientoro, Sp.A., mengatakan stunting dapat berasal dari kandungan, sehingga saat mengonsumsi makanan, ibu hamil diarahkan untuk lebih memperhatikan gizi anak sejak berada di dalam kandungan.

“Saat melahirkan pun bayi harus memiliki bobot lebih dari 2.500 dan wajib memberikan asupan ASI sebagai awal makanan bagi anak,” ujarnya, Selasa (22/2/2022).

Pos layanan terpadu (Posyandu) sering kali menjadi sasaran para ibu untuk mengontrol gizi kehamilan dan anak. Di tengah pandemi ini, posyandu harus ditutup sementara untuk mencegah timbulnya cluster baru covid-19.

Menurut pandangan Franky, ditutupnya posyandu bukan serta merta menjadi penyebab signifikan peningkatan stunting di Kaltara.

“Tapi kami berharap, kalau bisa Posyandu mulai diaktifkan untuk mencegah terjadinya peningkatan stunting. Kami bersama 18 dokter anak di Kaltara dan Dinas Kesehatan Kaltara dan daerah, akan mencoba untuk mengatasi penurunan angka stunting di Kaltara,” ucapnya.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan, dr. Witoyo menerangkan pihaknya mengaku belum bisa membuka posyandu. Ia khawatir jika nantinya hal ini dilakukan akan menambah penemuan cluster baru.

“Kasus penyebaran covid-19 di sekolah-sekolah ini bertambah terus. Nah, kalau posyandu dibuka, belum memungkinkan karena kasus (covid-19) ini meningkat sekarang,” terangnya.

Dijelaskan Witoyo, persoalan stunting ini telah dibahas pihaknya bersama lintas sektor yang lain, sehingga pihaknya perlu menelusuri data lebih dulu bersama lintas sektor untuk mencegah stunting di Tarakan.

Berdasarkan hasil pertemuan dengan para asisten pemerintah Kota Tarakan, dikatakan Witoyo para asisten masih mengumpulkan data stunting lebih dulu untuk kemudian dilaporkan kepada wali kota guna kegiatan teknis di lapangan.

“Penyebab stunting itu bermacam-macam ada pola asuh, kesibukan di rumah tangga dan sebagainya. Ini yang belum ada data yang pasti, tapi kalau data dari Puskesmas itu memang pola asuh karena angka kemiskinan di Tarakan lebih rendah dari nasional,” katanya.

“Posyandu itu sebenarnya untuk pengukuran dan penyuluhan terhadap orang tua. Kalau posyandu saat ini tidak memungkinkan, nanti kita cari jalan. Apakah selebaran atau webinar dan sebagainya,” sambung pria yang akrab disapa Pak Wit tersebut. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *